Menurut pakar Iran di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Ellie Geranmayeh, Iran benar-benar kehilangan dua tokoh besarnya, setelah Ali Khamenei, yaitu Ali Larijani.
Lelaki yang menghabiskan separuh lebih umurnya di labirin teks, filsafat dan politik itu telah gugur, pagi dini hari menjelang sahur, 17 Maret 2026.
Menurut Ellie, Larijani merupakan salah satu pilar pokok politik Iran.
Kematiannya, bahkan melebihi kehilangan panglima Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) Qassem Soleimani oleh Amerika Serikat (AS) di Baghdad pada Januari 2020 lalu.
Larijani dikenal karena kemampuannya menjembatani berbagai level politik.
Dia memiliki pengaruh pribadi yang besar, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dengan negara-negara asing seperti Cina, Korut, Turki, dan Rusia.
Tetapi, kematiannya itu masih menyisakan tanda tanya besar dan ironi bagi Ellie, barangkali juga banyak dari kita di sini.
Mengapa seorang intelektual yang begitu akrab dengan laboratorium, strategi dan keamanan negara, tidak memilih bungker yang kokoh dan kuat sebagai perlindungan diri? Mengapa ia berada di luar sana, di tempat yang telanjang bagi maut?
Mungkin, jawaban itu terselip di sela-sela halaman bukunya tentang Descartes.
Larijani bukan sekadar pembaca yang kritis, ia adalah pembedah dan pengembara yang membawa Discours de la méthod ke dalam jantung revolusi.
Ia meminjam pisau keraguan (skeptisisme) Descartes bukan untuk memprotes posisi diri yang lemah di hadapan Tuhan, melainkan untuk memotong tali ketergantungan bangsanya pada narasi asing.
“Aku ragu, maka aku ada,” bagi Larijani, berubah menjadi manifesto politik: “Jika negara meragukan Amerika (Barat), maka negara itu berdaulat.”
Ragu pada ambivalensi Amerika, berarti ragu pada keputusan, bahkan mungkin niat baiknya, misalnya dengan membentuk wadah BoP untuk misi perdamaian dunia.
Ia percaya bahwa sebuah bangsa harus ragu terlebih dahulu, dan akhirnya berani menyendiri di hadapan hukum internasional yang mencekik, agar bisa menemukan “kepastian” di bawah kakinya sendiri.
Larijani mungkin telah “meracik” rasionalitas Prancis dengan keteguhan iman yang ia warisi dari sang mertua, Murtadha Muthahari.
Baginya, berpikir adalah bentuk ibadah yang paling tulus. Namun, eksistensialisme selalu punya cara yang jujur untuk mengakhiri sebuah bab.
Kematiannya di tempat terbuka —bukan di persembunyian— seolah menjadi puncak dari filsafat hidupnya.
Setelah seumur hidup mengajak bangsa untuk “berdiri sendiri” dan “berpikir sendiri,” ia menunjukkan bahwa pada akhirnya, keberanian untuk memilih adalah bentuk kejujuran yang paling telanjang.
Bisa jadi, bungker baginya adalah simbol ketakutan akan kehilangan eksistensi diri.
Sebab ketakutan bukan pilhan, sementara ruang terbuka adalah pengakuan bahwa takdir tidak butuh koordinat yang rumit.
Larijani gugur sebagaimana ia berpikir: tajam, terbuka, dan menolak untuk bersembunyi di balik kepalsuan dinding beton.
Ia telah selesai dengan “aturan untuk pengarahan pikiran”.
Di akhir hayatnya, bukan pikiran lagi yang ia arahkan, melainkan jiwa yang melampaui keraguan terakhirnya. Wallahu’alam.



