Hari ini, tepat 29 hari genderang perang Iran-Israel (AS) ditabuh.
Kita tidak hanya menyaksikan pertempuran rudal, drone dan artileri, melainkan sebuah “teater” dengan dramaturgi-nya, di mana kelompok pemeran yang angkuh sedang diuji oleh kelompok pemeran yang tabah.
Donald Trump tampil dengan retorika yang makin “ngelantur”.
Mengklaim kemenangan di tengah kekacauan, bahkan ia dengan jemawa menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump”.
Sebuah klaim yang mungkin bukan hanya menghina peta geografi, tapi juga sejarah panjang peradaban Persia.
Bahkan, dengan nada yang nyaris menyerupai igauan di siang bolong, ia mengaku pernah ditawari menjadi pemimpin Iran menggantikan Sayyid Ali Khamanei oleh para anggota Wilayatul Faqih.
Sebuah distorsi yang membuat kita patut bertanya: apakah kekuasaan telah begitu memabukkan, hingga ia lupa bahwa kedaulatan sebuah bangsa tak bisa dibeli dengan narasi?
Padahal realitas di lapangan menyuguhkan pemandangan lain. Ultimatum “24 x 2 jam” yang ia lemparkan agar Iran membuka Selat Hormuz sudah kedaluwarsa.
Mungkin untuk menahan malu, Trump mengulur menjadi 5 hari, lalu berubah lagi menjadi 10 hari.
Dan, Iran berkali-kali menegaskan dirinya tak bergeming dengan gertakan, sehingga mau membuka seluas-luasnya Selat Hormuz, Iran justru menunjukkan sikap, bahwa kedaulatan adalah harga mati.
Sementara itu, langit Beit Shemesh menjadi saksi bisu. Serangan terbaru Iran yang menghujam jantung Israel bukan sekadar balasan militer, melainkan pesan eksistensial.
Keamanan yang selama ini diglorifikasi oleh Netanyahu kini hancur berkeping. Di Israel kini, hampir-hampir tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman. Seakan setiap sudut wilayah Israel kini menjadi garis depan yang rapuh.
Serangan yang makin masif dan mematikan Iran ini menunjukkan bahwa “perhitungan ceroboh” sekutu akan dibayar dengan harga yang mahal.
Dan, kini kita sedang melihat runtuhnya sebuah narasi arogansi.
Netanyahu, Trump, dan barisan pemimpin Arab yang memilih berbisik di telinga penjajah daripada berdiri bersama saudara seagama, kini terbungkam oleh dentuman rudal-rudal Iran yang presisi.
Masih di hari ke 29, sore tadi diberitakan pangkalan Militer Amerika di Prince Al-Sultan (Arab Saudi) yang selama ini dijadikan tempat persembunyian tentara Amerika terkena rudal balistik Iran.
Berkali-kali AS tak mampu mencegatnya. Ada puluhan korban luka-luka dan yang meninggal.
Jadi, perang ini sekali lagi menegaskan, bukan lagi tentang siapa yang memiliki senjata paling canggih, melainkan tentang siapa yang memiliki “napas” paling panjang dan prinsip yang paling kokoh.
Sejarah akan mencatat hari-hari “kelam” ini sebagai titik balik. Sebuah era di mana kesombongan dibalas dengan keteguhan, dan di mana klaim-klaim konyol akan tenggelam di kedalaman Selat Hormuz.
Israel dan sekutunya setelah hari ke 29 ini harus segera menyadari: bahwa doa orang-orang tertindas bisa jadi menjelma menjadi api dan tak ada bungker yang cukup aman untuk bersembunyi. Wallahu’alam.



