Jika ingin melihat kepribadian manusia atau peradaban suatu bangsa, cobalah amati jalanan. Lebih dari sekadar sarana dan prasarana transportasi dan mobilitas sosial, jalanan adalah potret terbaik sebuah realita.
Turun dari Sleman sisi utara, lalu masuk ke Jalan Kaliurang (Jakal), lanskap kebudayaan segera tergelar. Mobil aneka merek nyaris tak ada yang jadul. Semua gres dan kaca tertutup rapat.
Jelas, panas yang memanggang Yogyakarta beberapa hari terakhir tak boleh masuk ruang kabin. Motor keluar masuk gang terjadi begitu saja sesuai keinginan pengendaranya.
Sign kiri belok kanan, sign kanan belok kiri, atau tanpa sign sama sekali, bukan lagi etika berlalu lintas yang harus dipatuhi.
Bila sedang week end, syarat utama agar selamat dan nyaman selama perjalanan bukan bekal yang lengkap atau dompet yang tebal, tetapi kesabaran. Tanpa kesabaran, jangan harap bisa merasakan Yogyakarta yang berhati nyaman.
Bisa-bisa Anda yang akan terpanggang panas karena adu senggol dengan pengendara lain. Bus wisata naik-turun Jakal dalam konvoi. Meskipun sudah banyak destinasi baru, hati tetap meronta jika belum ke Kaliurang.
Nikmati udara sejuk, makan jadah dan tempe atau teriak-teriak sambil mengendarai jip ikuti lava tour, tetap sulit dicari padanannya. Itu brand Kaliurang.
Kepadatan dan kemacetan Jakal kian melegenda. Pagi saat berangkat ke sekolah atau tempat kerja dan sore saat pulang, jalanan nyaris tak menyisakan senyuman. Semua mecucu, mrengut dan serba tergesa-gesa.
Tak ada gambaran kendaraan yang berjajar rapi di lampu merah. Semua ngrangsek ke depan, berjubel dan mata menatap tajam ke arah lampu lalu lintas, atau handphone. Dalam kondisi mental seperti itu, siapa jamin kemarahan dan kecelakaan tak akan terjadi?
Kemacetan pun dianggap sebagai sebuah kewajaran bagi sebuah kota karena hidup maju dan modern identik kemewahan di jalanan. Semua harus all out untuk menunjukkan siapa diri dan apa kendaraannya atau bagaimana gaya hidupnya.
Tidak hanya di Jakal tetapi juga di Jalan Godean (Jago) dan Jalan Magelang (Jamal). Hidup sungguh sebuah pertarungan ruang publik. Berhimpitan di jalanan dalam beragam moda, sementara trotoar nyaris tak menyisakan ruang bagi pejalan.
Jika bisa untuk usaha, buat apa ruang dibiarkan begitu saja. Pasanglah tenda, menjamurlah pedagang kaki lima, dan hiduplah juru parkir, polisi cepek, dan preman penjaga keamanan.
Hidup kian terjal, menghimpit dan, karenanya, egois. Cobalah cek berapa lama waktu yang digunakan untuk menyeberang jalan di Yogyakarta. Makin hari makin menyita waktu lama.
Orang tak mau berbagi, mengurangi laju kendaraan atau mengerem dan mempersilakan penyeberang jalan. Meski kadang tak melalui zebra cross, setidaknya ada moralitas yang mestinya dijaga agar hidup tidak spaneng dan tegang.
Rekayasa lalu lintas kadang diberlakukan. Tetapi, siapa yang menjamin bisa berlangsung tanpa penjagaan aparat? Hidup harus disiasati, demikian juga hukum.
Khas Indonesia: semua bisa diatur! Maka betapa fenomenal dan menggetarkan saat Ngarsa Dalem X perjalanan dinas atau kunjungan kerja tanpa vorijder dan konvoi mobil plat merah.
Hari-hari ini Yogyakarta tengah menggerakkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Sebuah upaya untuk menertibkan kehidupan, termasuk di jalanan, dengan basis kebudayaan. Tak boleh asal-asalan dan harus dilaksanakan secara berkesinambungan.
Memang tak mudah memperluas lebar jalanan di Yogyakarta. Pilihannya adalah mengubah kehidupan dengan meletakkan kesadaran bahwa dalam kehidupan ada hak liyan yang harus diberikan.
Atur diri dan lingkungan, lalu nikmati kehidupan dengan keseimbangan, maka Anda akan merasakan kebahagiaan. ***
Ksatrian Sendaren, 16 Mei 2026




