Rupiah, Dollar, Dinar, Etc - Mabur.co

Rupiah, Dollar, Dinar, Etc

Kenapa di dunia ini ada mata uang tertentu di setiap negara? Apakah fungsinya sekadar sebagai alat tukar? Kenapa harus berbeda-beda jumlahnya? Kenapa harus ada kurs?

Sejauh kolom ini saya tulis, saya bolak balik internet, tidak ada jawaban pasti yang memuaskan. Kalau mau jawaban asal lega dan sederhana tentu saja sebagai alat tukar itu.

Tapi kenapa terjadi jurang perbedaan terlalu jauh bahwa satu dollar Amerika saja sekarang mencapai Rp17.602,95?

Belum lagi kini satu dinar Kuwait setara dengan Rp56.794,76? Nah, kenapa semua itu terjadi? Apakah maksud politisnya ada? Apakah Indonesia selamanya akan menjadi negara berkembang, tidak akan naik kelas, dan mata uangnya selalu meradang?

Bagi saya justru pertanyaan terakhir ini yang meyakinkan adanya jawaban bahwa memang sengaja ada kelas negara melalui penanda mata uang.

Karena situasi itu pula yang membuat negara dengan mata uang lemah dan kurus tak berdaya dengan negara lain yang jumlah mata uangnya lebih gemuk.

Hal semacam ini rupanya lebih dari sekadar diskriminasi. Logikanya seumur bumi negara dengan mata uang rendah akan selalu terseok-seok mengikuti perkembangan dunia.

Memang, orang desa bisa saja tidak peduli dengan soal mata uang rendah ini. Tapi dalam urusan perkembangan global bisa saja mempunyai efek luar biasa.

Misalnya bagi mereka yang mengembangkan bisnis ekspor impor. Adanya jurang perbedaan mata uang bisa meluluhlantakkan usaha. Lebih dari sekadar bangkrut bisa saja terasakan.

Oleh karena itu warga negara di sebuah bangsa dengan mata uang kurus dan ceper harus selalu nrima ing pandum. Tidak bisa apa-apa kecuali hanya bisa memandang saja. Alih usaha bisa jadi mengancam di depan mata.

Paling enak memang yang bisa bisnis online. Bukan ekspor impor barang melainkan bisnis lainnya yang berbasis digital.

Intinya sepele jangan pernah berharap mata uang rupiah akan menyamai dolar Amerika, Singapura, bahkan Australia.

Begitu pula rupiah akan menyamai dinar. Rasanya seperti kentut di siang bolong saja. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *