Mabur.co- Kasus campak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini menjadi perhatian tenaga kesehatan karena campak merupakan penyakit menular yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak.
Penyakit campak, dalam bahasa Jawa gabagen adalah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).
Campak sangat menular dan umumnya menyerang anak-anak, ditularkan lewat udara melalui droplet yang keluar saat penderita batuk atau bersin.
Ketua Tim Kerja Surveilans PD SIK, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi, dari 42 diduga (suspek) campak yang terjaring melalui surveilans berbasis indikator dan surveilans berbasis kejadian ditemukan 6 kasus positif Campak dari Minggu Ke-1 sampai Minggu Ke-7 tahun 2026.
“Pada umumnya penularan campak terjadi karena kontak langsung dengan penderita, maka penderita campak diedukasi untuk berada di rumah (isolasi). Untuk sementara tidak mengikuti kegiatan belajar di sekolah,” ujarnya, saat dikonfirmasi, Minggu (29/3/2026).
Solikhin Dwi menjelaskan, gejala awal campak mirip dengan flu berupa demam tinggi, batuk, pilek dan mata memerah.
Gejala khas muncul beberapa hari kemudian berupa ruam merah, biasanya mulai dari wajah dan menyebar ke beberapa bagian tubuh dan muncul titik putih di dalam mulut (bentuk koplik).
“Bercak putih kecil (bintik Koplik) sering muncul di dalam mulut. Beberapa hari kemudian, ruam kemerahan muncul mulai dari wajah dan leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam biasanya bertahan 5–7 hari, dengan suhu tubuh bisa mencapai 39–40°C,” ucapnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. H.M. Bambang Edi Susyanto, Sp.A.,M. Kes, mengatakan, bahwa peningkatan kasus campak di DIY sudah terlihat sejak tahun lalu dan masih berlanjut hingga awal tahun ini.
“Di Daerah Istimewa Yogyakarta memang terjadi peningkatan kasus campak, baik pada tahun lalu maupun tahun ini. Pada awal tahun ini saja sudah tercatat ratusan kasus suspek dengan puluhan kasus yang telah terkonfirmasi, termasuk di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Namun demikian, situasi ini masih dapat dikendalikan dan terus dipantau,” ujarnya.
Bambang menjelaskan, faktor utama biasanya adalah cakupan imunisasi yang belum merata.
Masih ada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, ditambah adanya penundaan imunisasi pada masa pandemi, serta sebagian orang tua yang masih ragu terhadap vaksinasi.
Ketika ada kelompok anak yang tidak terlindungi atau tidak tervaksinasi, virus campak akan sangat mudah menyebar karena penyakit ini memang sangat menular.
Campak juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi, terutama pada bayi dan anak dengan daya tahan tubuh yang rendah.
Komplikasi tersebut dapat berupa infeksi saluran pernapasan, dehidrasi, diare berat, hingga gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
“Saya menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk mengatasi berbagai misinformasi mengenai vaksin. Menurutnya, pemerintah bersama tenaga kesehatan terus melakukan sosialisasi melalui berbagai saluran seperti puskesmas, posyandu, sekolah,” ucapnya.



