Sejauh Mana Penerapan “Emansipasi Wanita” di Era Modern Saat Ini? - Mabur.co

Sejauh Mana Penerapan “Emansipasi Wanita” di Era Modern Saat Ini?

Mabur.co – Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, untuk mengenang jasa-jasa seorang Raden Ajeng (RA) Kartini, yang lahir pada 21 April 1879.

Salah satu jasa terbesar Kartini adalah mempelopori “emansipasi wanita” (proses kesetaraan gender agar wanita berhak mendapatkan kesempatan hidup yang lebih layak, sama seperti laki-laki), pembebasan wanita dari kedudukan sosial-ekonomi yang masih tergolong rendah, pengekangan hukum, dan diskriminasi gender.

Melalui pemikirannya yang progresif, Kartini berupaya mendobrak tradisi yang membatasi peran perempuan, membuka sekolah khusus perempuan, dan menyuarakan kesetaraan gender. 

Aksi-aksi ini kemudian menjadi tonggak sejarah bagi peradaban perempuan di Indonesia. Sejarah perubahan inilah yang kemudian ditandai dengan istilah “emansipasi wanita”.

Istilah ini seolah begitu identik dengan perjuangan wanita, untuk bisa mendapatkan kesetaraan dengan kaum pria, terutama yang berhubungan dengan kesempatan hidup dan meniti karier yang sama seperti pria.

Lalu di era modern seperti saat ini, sejauh mana penerapan “emansipasi wanita” benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Dilansir dari laman Detik, Selasa (21/4/2026), berikut adalah penjelasan singkat mengenai penerapan “emansipasi wanita” di era modern.

1. Bidang Pendidikan dan Karier

Secara umum, penerapan emansipasi wanita di bidang pendidikan dan karier sudah berjalan cukup positif di era modern saat ini.

Perempuan modern kini memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, sehingga mampu meruntuhkan batasan konvensional bahwa perempuan hanya berujung di dapur.

Selain itu, emansipasi wanita di era modern juga mendorong perempuan untuk berkarya di berbagai sektor profesional, tidak sebatas sebagai “konco wingking” (teman di belakang/rumah tangga), alias sosok yang hanya mendukung pria (suami) di balik layar.

2. Partisipasi Politik dan Kepemimpinan

Negara juga telah memberikan wadah yang positif bagi keberlangsungan emansipasi wanita di era modern. Hal ini ditandai dengan memberikan ruang bagi perempuan untuk menduduki posisi jabatan publik, termasuk kuota 30% dalam pencalonan legislatif.

Tidak hanya itu, saat ini semakin banyak perempuan Indonesia yang mampu mengambil peran pemimpin yang bersifat strategis, baik di pemerintahan, sektor swasta, maupun organisasi sosial.

3. Timbulnya Kesadaran Individu serta Kolektif

Kartini “masa kini” telah mampu menyuarakan kritik maupun pendapat terhadap segala sesuatu yang menjadi keresahannya. Mereka tidak lagi bergantung pada suara laki-laki, maupun suara pemimpin yang sedang berkuasa.

Mereka bahkan ikut membentuk kanal khusus perempuan, untuk bisa menyuarakan aspirasi mereka kepada pemerintah ataupun pemangku kebijakan lainnya, untuk bisa menciptakan perubahan yang mereka inginkan. Persis dengan cita-cita Kartini di masa lalu tentang kebebasan berpikir bagi kaum perempuan.

Tantangan yang Masih Dihadapi Kaum Perempuan

Meskipun emansipasi wanita di zaman modern sudah mengarah ke tren yang positif, namun bukan berarti sudah tidak ada masalah sama sekali.

Berikut adalah beberapa tantangan yang masih harus dihadapi oleh kaum perempuan, terkait penerapan emansipasi wanita di era modern saat ini.

1. Budaya Patriarki

Tak bisa dipungkiri lagi, dominasi budaya patriarki (sistem sosial di mana laki-laki memegang penuh kekuasaan utama) masih menjadi hambatan utama terwujudnya emansipasi wanita secara utuh, terutama di beberapa daerah yang masih menganggap peran perempuan inferior, khususnya di kalangan ibu rumah tangga.

2. Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Gaji

Selain itu, emansipasi wanita juga belum terlalu menyentuh struktur ekonomi. Sampai saat ini masih banyak terjadi diskriminasi dalam bentuk gender pay gap (perbedaan gaji untuk pekerjaan yang sama) antara laki-laki dan perempuan.

3. Kekerasan terhadap Perempuan

Emansipasi wanita juga belum sepenuhnya membuat mereka lepas dari tindakan kekerasan, baik secara fisik maupun seksual. Isu ini pun masih terus menjadi perbincangan serius bagi sejumlah kalangan, termasuk bagi kaum laki-laki sekalipun (sebagai pihak yang dominan menjadi pelaku).

***

Secara umum, penerapan emansipasi wanita ala Kartini di era modern memang sudah berjalan positif. Namun itu bukan berarti bahwa tugas para perempuan sudah selesai begitu saja.

Masih banyak PR yang perlu diperjuangkan bersama, untuk dapat memaksimalkan emansipasi itu dengan semaksimal mungkin. Sekaligus mempertahankan emansipasi yang sudah dicapai hingga saat ini.

Karena memperoleh emansipasi itu satu hal, tapi mempertahankan emansipasi adalah urusan yang berbeda. Dan keduanya sama-sama tidak mudah untuk dilakukan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *