Perang sudah memasuki hari ke-37, itu berarti sudah satu bulan, lebih satu pekan. Di tengah desing misil Iran yang masih terus membelah langit Tel Aviv hingga Haifa, kemarin ada kabar mengejutkan dari Pentagon.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, dilaporkan telah memecat Kepala Staf Angkatan Darat AS, Randy George (03/04).
Ketika ribuan nyawa masih dipertaruhkan oleh ambisi Trump dan Netanyahu, di Pentagon, “perang” yang terjadi justru adalah perang ego dan perebutan kursi.
Pemecatan jenderal aktif di tengah situasi konflik ini sangat ganjil dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah militer modern AS. Ini adalah bukti kepanikan AS dan arogansinya mulai runtuh.
Saat Pete Hegseth sibuk melakukan “bersih-bersih” jenderal, ada dua narasi yang muncul, pertama ia lakukan demi mengamankan posisinya dari ancaman Don Driscoll.
Kedua, ia ingin menunjukkan loyalitas buta kepada Trump, meski yang terjadi adalah ketidakmampuannya membaca strategi pertahanan Iran yang solid dan telah membawa AS ke dalam “rawa” yang dalam.
Sangat aneh kementerian perang sebuah negara yang dianggap adidaya, dikelola seperti drama panggung, di mana pemecatan dilakukan tidak cukup telah dianggap gagal secara taktis, melainkan juga, karena ketakutan akan kehilangan jabatan.
Di saat Bnei Brak dan Beer Sheeba membara, energi pemimpin perang AS justru terkuras untuk memikirkan bagaimana caranya agar tidak dipecat.
Kabar dari Pentagon kemudian berlanjut, apakah Hegseth yang sedang gemetar itu akan bertahan atau Driscoll yang menanti di bayang-bayang.
Apa pun itu, mereka harus sadar bahwa perang ini mungkin akan sulit berakhir dengan tanda tangan di atas kertas yang dipaksakan.
Penolakan mentah-mentah IRGC terhadap tawaran gencatan senjata 48 jam dari Trump menunjukkan satu hal: Iran tidak lagi tertarik pada negosiasi yang dianggap sudah basi.
Iran telah sampai pada titik di mana kehormatan pemimpinnya yang telah gugur dan kedaulatan bangsanya hanya bisa ditebus dengan melemahnya Israel dan keluarnya kekuatan asing secara total.
Sementara itu, klaim Trump, bahwa Iran akan “dikembalikan ke zaman batu” kini terdengar seperti lelucon pahit.
Jatuhnya enam pesawat AS dalam sehari, termasuk pesawat super canggih F-15E, dan serangan presisi ke aset-aset strategis di Basra, Bahrain, hingga Kuwait adalah jawaban telak atas kebohongan narasi kelemahan Iran.
Selain F-15E, pesawat angkut militer AS yang super dan jumbo, Chinook CH 47 dan diparkir di hanggar, juga dihantam drone karya terbaru pelajar Iran: Arash II.
Setelah menghanguskan beberapa pesawat tempur canggir AS, Iran kemudian mengancam akan mengincar lebih banyak pesawat tempur AS lainnya dengan drone terbarunya dimanapun mereka berada dan sembunyi. Jadi, ini membuktikan, bahwa Iran tidak sedang bertahan, mereka sedang mendikte ritme peperangan.
Sebaliknya, gelombang demo besar-besaran di negara Trump seperti tiada henti, dan secara terbuka rakyatnya sudah mengakui Iran menang dan meminta Presidennya menghentikan kekonyolan.
Tetapi, perang ini kemungkinan akan terus membara hingga Iran menemukan titik di mana kepentingan substansial mereka terpenuhi.
Di saat Pentagon masih terjebak dalam politik internal yang picik, publik pelan-pelan mengetahui, bahwa mereka tidak hanya kalah dalam strategi, tapi juga kehilangan sisa-sisa wibawa di mata dunia.
Sekali lagi, ini membuktikan hipotesa, pemenang perang ini bukan lagi soal siapa yang paling kuat senjatanya, tapi siapa yang paling teguh memegang prinsipnya. Wallahu’alam.



