Mabur.co – Di dunia yang serba menuntut kecepatan dan juga kecermatan seperti sekarang, kebutuhan untuk “kesempurnaan” dalam bekerja menjadi sangat tinggi.
Saking tingginya, seringkali orang-orang melupakan bagaimana rasanya menjalani kehidupan yang baik dan nyaman, lantaran hari-harinya terlalu disibukkan dengan pekerjaan dan pekerjaan setiap harinya.
Sementara di luar sana, kita seringkali melihat orang-orang memamerkan kesuksesannya setelah meraih pencapaian tertentu atas hasil pekerjaaannya, baik itu melalui harta benda (misalnya mobil atau perhiasan), momen pernikahan atau berkumpul bersama keluarga, serta yang tak kalah penting adalah jalan-jalan ke tempat-tempat yang diinginkan.
Lalu muncullah istilah yang cukup ngetren dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah era pandemi covid berakhir, yaitu “Work-Life Balance” (keseimbangan antara menjalani pekerjaan dengan kehidupan sehari-hari).
Semua itu tampak begitu indah ketika disaksikan secara visual (melalui media sosial), namun rasa-rasanya hal itu sangat jauh dengan realita kehidupan kita sehari-hari, yang rasanya masih “gini-gini aja”.
Dalam realita kehidupan masyarakat sehari-hari, pilihannya hanya ada dua: “Bekerja untuk Hidup”, atau “Hidup untuk Bekerja”.
Dua pilihan itu nampak sangat tidak logis dengan istilah “Work-Life Balance” di atas, yang kelihatannya begitu mengedepankan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan.
Satu hal yang tidak pernah kita sadari, istilah “Work-Life Balance” itu sejatinya tidak pernah ada.
Ya, Anda benar, istilah “Work-Life Balance” itu memang tidak pernah ada di dunia ini. Setidaknya bagi Anda yang merasa hidupnya masih “gini-gini aja”.
Mungkin istilah “Work-Life Balance” itu baru benar-benar berlaku, bagi orang-orang yang hidupnya berkecukupan, mewah, uang tidak pernah habis, dan seterusnya.
Namun bagi kalangan lower-middle class, istilah itu nampak sangat bullshit ketika digaungkan oleh para konten kreator setiap harinya.
Karena istilah “Work-Life Balance” memang hanya berlaku untuk kalangan tertentu saja, tapi tidak untuk setiap individu manusia di muka bumi ini.
Dilansir dari kanal YouTube Akbar Abi, Senin (13/4/2026), berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa istilah “Work-Life Balance” itu sejatinya memang tidak pernah benar-benar ada, kecuali bagi orang-orang yang “beruntung” atau mendapatkan privilege tertentu.
1. Pencapaian Tinggi Membutuhkan Pengorbanan
Untuk mencapai keunggulan di bidang tertentu, seseorang seringkali harus mengorbankan waktu pribadi (salah satunya dengan berlatih). Mencari keseimbangan yang sempurna justru dianggap bisa menyebabkan mediocrity (hasil yang biasa-biasa saja/tidak istimewa).
2. Hidup Itu Sejatinya “Dinamis”, Bukan “Seimbang”
Hakikat kehidupan adalah berjalan sesuai “siklus” atau “musim”.
Dengan kata lain, ada saatnya kita harus fokus 100% pada pekerjaan (misalnya saat membangun bisnis dari nol), dan ada pula saatnya kita lebih fokus pada keluarga. Memaksakan keseimbangan konstan setiap hari adalah hal yang tidak realistis (dan juga tidak pernah ada, kecuali hanya konten).
3. Mengedepankan Konsep “Harmoni”, Bukan Keseimbangan Secara Kaku
Tokoh seperti Jeff Bezos lebih menyukai istilah “harmony” (keserasian, kesesuaian) daripada balance (seimbang 50:50). Harmoni berarti pekerjaan dan kehidupan pribadi saling mendukung, bukan dipisah dan dipertentangkan, apalagi jika harus dipaksakan saklek 50:50.
4. Berpotensi Menimbulkan Stres Baru
Mencoba mencapai work-life balance yang ideal seringkali justru menimbulkan tekanan mental baru. Akibatnya seseorang kerap merasa bersalah jika tidak bisa membagi waktu secara “seimbang”, yang akhirnya berujung pada burnout.
5. Fokuslah pada Produktivitas, Bukan Jam Kerja
Banyak orang yang masih mengasosiasikan istilah Work-life balance sebagai “jam kerja yang lebih sedikit”. Padahal, kesuksesan seorang individu tidak ditentukan dari seberapa lama ia bekerja dalam sehari, melainkan seberapa produktif dan efektifnya ia dalam bekerja.
***
Daripada memaksakan diri menerapkan prinsip “Work-Life Balance“, yang sebenarnya juga tidak pernah ada (kecuali sebagai konten). Maka konsep yang lebih tepat adalah “Work-Life Integration” atau “Work-Life Harmony”, di mana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat disesuaikan dengan prioritas dan fase hidup masing-masing, bukan memaksakan keseimbangan yang kaku (50:50) dan seterusnya.
Memang narasi “Work-Life Balance” terlihat begitu indah di permukaan maupun visual. Namun sayangnya, semua hanyalah akal-akalan para influencer semata, agar konten mereka dapat menarik perhatian dan jempol Anda, sehingga Anda betah berlama-lama mengunjungi laman media sosial mereka.
Tidak lain tidak bukan, semua itu adalah demi cuan.
Karena Anda lah yang membuat “Work-Life Balance” di hidup mereka (influencer) benar-benar menjadi kenyataan. Padahal kalau saja mereka bekerja kantoran 9 to 5 sama seperti Anda, hidup mereka juga pastinya akan “gitu-gitu aja”, sama seperti yang Anda alami saat ini. (*)



