Bagaimana Soekarno Merangkul Pemuda dalam Merumuskan Kemerdekaan Indonesia?

3 Min Read
Ilustrasi. Peristiwa Rengasdengklok pada Kamis, 16 Agustus 1945, yang melibatkan golongan tua (salah satunya Soekarno) serta golongan pemuda. Pertemuan ini diselenggarakan terkait dengan kemerdekaan Indonesia pada Jumat, 17 Agustus 1945 (Foto: tribunnews.com)

Mabur.co – Presiden pertama Republik Indonesia yang lahir pada 6 Juni 1901, Koesno Sosrodihardjo alias Soekarno, dalam sejarah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada 1945, setidaknya ikut melibatkan peran pemuda dalam peristiwa bersejarah tersebut.

Ia turut merangkul pemuda melalui komunikasi langsung, serta ikut menumbuhkan semangat nasionalisme mereka, agar bersama-sama berjuang mewujudkan kemerdekaan, sekaligus melepaskan diri dari para penjajah.

Ia juga menjadikan pemuda sebagai pelopor dan motor utama perjuangan. Walau sempat terjadi perbedaan pendapat dalam merumuskan kemerdekaan, khususnya saat berada di Rengasdengklok, dialog terus dibangun secara sehat antara kedua belah pihak.

Hal itu dilakukan semata-mata untuk memastikan kemerdekaan dapat diraih atas kekuatan bangsa sendiri, bukan berasal dari hadiah pemberian Jepang atau semacamnya.

Pertemuan Kunci di Rengasdengklok

Dilansir dari laman Kompaspedia, Sabtu (6/6/2026), Soekarno beserta Mohammad Hatta turut diasingkan di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, pada 16 Agustus 1945.

Keduanya menerima desakan dari para pemuda seperti Soekarni, Chaerul Saleh, dan Sayuti Melik, untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia secepatnya, tanpa perlu menunggu persetujuan dari Jepang, dengan memanfaatkan momentum kekosongan kekuasaan (vacuum of power) pasca-kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II di tahun yang sama.

Dalam pertemuan tersebut, akhirnya diputuskan bahwa proses proklamasi kemerdekaan akan dipercepat, dan dilakukan pada keesokan harinya, yakni 17 Agustus 1945.

Setelah itu, Soekarno dan Hatta pun diizinkan untuk kembali ke Jakarta pada 16 Agsustus malam, untuk segera mempersiapkan acara proklamasi keesokan harinya.

Pemuda Diberi Kepercayaan Mengibarkan Bendera

Dalam proses jalannya proklamasi di kediaman Soekarno pada Jumat, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta turut mempercayakan pengamanan dan penyebaran berita kemerdekaan kepada para pemuda.

Tidak hanya itu, para pemuda juga diberi kepercayaan untuk mengibarkan bendera Indonesia yakni Merah Putih, sekaligus ikut merumuskan teks proklamasi untuk dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Selain merumuskan, pemuda seperti Sayuti Melik juga ikut mengetik teks tersebut, untuk kemudian ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Pelopor Utama dalam Pembangunan Bangsa

Soekarno mengakui besarnya bantuan dan perjuangan para pemuda dalam menentukan momen proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ia pun meyakini bahwa pemuda adalah pelopor utama dan motor penggerak nyata dalam membangun peradaban sebuah bangsa.

Karena bagaimanapun, pemuda adalah aset berharga yang memiliki kecakapan, visi, tenaga, dan keberanian, untuk membawa inovasi serta perubahan.

Kerjasama antara golongan tua dan muda ini pun membuahkan hasil. Proses proklamasi kemerdekaan berhasil dilaksanakan tanpa campur tangan penjajah sedikitpun. Sehingga Indonesia resmi dinyatakan merdeka sejak 17 Agustus 1945.

Peristiwa ini menandai momen bersejarah bangsa Indonesia, yang terus dikenang selamanya.

Meskipun setelah itu masih terjadi perundingan demi perundingan dengan pihak Belanda, Jepang, maupun bangsa-bangsa lainnya, kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tetap dinyatakan sah secara hukum internasional, dan tidak dapat dibatalkan oleh alasan apa pun. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment