Kemajuan Teknologi Tidak Bisa Dihindari, Permainan Tradisional Hadapi Tantangan Serius

3 Min Read
Group of kids in white shirts tugging on a rope during a school event, with a crowd of orange-shirted spectators in the background.
Ilustrasi. Permainan tarik tambang, salah satu permainan tradisional yang semakin ditinggalkan generasi muda (Foto: mamasewa.com)

Mabur.co – Dalam dunia modern yang hampir semuanya serba digital seperti saat ini, permainan tradisional anak-anak seperti Gobak Sodor, Congklak, Petak Umpet, Lompat Tali, dan seterusnya kian tergerus dan ditinggalkan oleh para generasi muda.

Hal itu bisa dibilang cukup masuk akal, mengingat permainan digital seperti game online (Mobile Legend dan lain-lain) mampu menawarkan visual yang lebih menarik, lebih seru, bisa bermain dengan orang lain dari seluruh dunia, dan banyak keunikan lainnya.

Hanya saja, permainan tradisional tetap memiliki daya tarik tersendiri, yang tidak dimiliki oleh game secanggih apapun.

Karena permainan tradisional mampu meningkatkan interaksi sosial tatap muka, aktivitas fisik yang menyehatkan, dan penanaman nilai moral secara langsung.

Tidak hanya itu, permainan ini juga melatih kemampuan motorik dan kreativitas manusia, tanpa bergantung sedikitpun terhadap teknologi atau koneksi internet, dan seterusnya.

Namun tentu saja, permainan tradisional masih menghadapi tantangan serius, untuk bisa kembali dalam ragam aktivitas anak-anak di kehidupan sehari-hari. Entah dimainkan saat jam istirahat sekolah, sepulang sekolah, libur sekolah, dan sebagainya.

Menurut salah satu seniman di Bantul, Tedi Kusyairi, sejatinya permainan tradisional masih cukup diminati di kalangan generasi muda masa kini, hanya saja memang harus diakui, bahwa peminatnya tidak lagi sebanyak dulu.

“Sebenarnya masih banyak permainan tradisional yang eksis di Bantul sampai sekarang. Sebut saja Gobak Sodor, Gaprikan, Delikan (Petak Umpet), masih banyak kok, macem-macem. Tapi memang harus diakui bahwa anak-anak sekarang sudah tidak bisa lepas dari gadget,” ucap Tedi Kusyairi, saat dihubungi mabur.co, Sabtu (6/6/2026).

Dunia Sudah Jauh Berubah

Tedi menambahkan, sejatinya permainan tradisional masih punya harapan untuk dilestarikan sedemikian rupa oleh para orang tua, guru, maupun anak-anak itu sendiri. Hanya saja, penerapannya akan jauh lebih sulit, lantaran dunia sekarang memang sudah serba digital, dan itu tidak akan mungkin ditinggalkan begitu saja, termasuk oleh anak-anak sekalipun.

“Kalau harapan pasti selalu ada (untuk mengembalikan kejayaan permainan tradisional seperti dulu). Tapi kalau pun bisa kembali seperti dulu, nampaknya tidak akan bisa sama persis, karena memang dunianya sendiri sudah berbeda jauh, lingkungan kehidupannya sudah lain dari zaman dulu,” tambahnya.

Tedi sendiri juga ikut mengajarkan permainan tradisional kepada anak perempuannya yang berusia tujuh tahun. Namun ia juga tidak bisa menghindari keinginan anaknya untuk menikmati tayangan dan fasilitas mewah yang tersedia di ponsel pintar (gadget).

Karena diakui Tedi, dunia saat ini memang sudah sedemikian canggih, sehingga tidak akan mungkin baginya sebagai orang tua untuk melarang anaknya bermain gadget, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment