Saudaraku, para pemikir kenegaraan lintas zaman dan lintas mazhab cenderung menyepakati hubungan integral antara negara dan pengetahuan.
Negara sendiri didefinisikan sebagai organisasi rasional dari masyarakat.
Bahkan Hegel menyatakan bahwa negara merupakan penjelmaan dari pikiran.
Michel Foucault menegaskan, “Pemerintah, oleh karena itu, memerlukan lebih dari sekadar usaha mengimplementasikan prinsip-prinsip umum pemikiran, kebijaksanaan, dan kehati-hatian. Pengetahuan spesifik juga sangat diperlukan: pengetahuan yang konkret, tepat, dan terukur.”
Membanguan negara harus melalui cara bagaimana kedaulatan menyatakan dirinya dalam bidang pengetahuan dan kebijaksanaan.
Negara dapat dipandang sebagai mesin-pengumpul kecerdasan (intelligence–gathering machine).
Kedekatan antara negara dan kecerdasan, dan bahwa keselamatan negara ditentukan oleh kecerdasan, terlihat dari pemahaman umum yang cenderung mengaitkan istilah “intelijen” (intelligence) dengan badan inteligen negara, seperti Badan Intelijen Negara (BIN).
Suatu negara yang dibangun tanpa landasan kecerdasan dan pengetahuan tak ubahnya seperti istana pasir.
Oleh karena itu, jika demokrasi kita maksudkan sebagai jalan kemaslahatan bangsa, maka jalan sesat demokrasi dalam kendali plutokrasi-oligarki berbasis manipulasi emosi harus dihentikan lewat cara membangun demokrasi meritokratis dengan memulihkan smart power di bawah kepemimpinan intelektual—yang menjunjung tinggi pengetahuan dan nilai.



