Mabur.co- Iran belum mampu membuka kembali sepenuhnya Selat Hormuz yang strategis karena tidak dapat menemukan semua ranjau laut yang telah dipasang dan tidak memiliki kemampuan untuk menyingkirkannya.
Dilansir dari The New York Times, Iran belum mampu membuka Selat Hormuz secara penuh dan aman bagi lalu lintas kapal komersial.
Penyebab utamanya adalah ketidakmampuan Iran untuk menemukan seluruh ranjau laut yang mereka pasang sendiri selama konflik baru-baru ini.
Ranjau tersebut dipasang secara tergesa-gesa menggunakan kapal-kapal kecil pada bulan lalu.
Banyak ranjau tidak tercatat lokasinya dengan akurat, sementara sebagian lainnya telah hanyut akibat arus laut.
Selain itu, Iran juga dinilai kurang memiliki kemampuan teknis yang memadai untuk membersihkan ranjau tersebut meskipun lokasinya diketahui.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan, selat itu akan tetap terbuka dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis, sebuah pernyataan yang ditafsirkan oleh pejabat AS sebagai merujuk pada kesulitan dalam menemukan dan membersihkan ranjau.
“Masalah itu diperkirakan akan menjadi bagian dari pembicaraan yang sedang berlangsung di Pakistan antara pejabat Iran dan delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, karena Washington telah mendorong pembukaan kembali selat tersebut secara lengkap, segera, dan aman,” ujarnya dilansir JPNN.com, Minggu (12/4/2026).
Melalui unggahan di media sosial, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata selama dua minggu bergantung pada pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman.
Mengingat tuntutan keras dari Trump tersebut, masalah percepatan pembersihan jalur pelayaran dipastikan akan menjadi topik utama dalam pertemuan delegasi Iran dan AS di Pakistan.
Selama konflik berlangsung, Iran menggunakan ratusan kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk menebar ranjau.
Meskipun militer AS telah berupaya melumpuhkan angkatan laut Iran dengan menenggelamkan kapal-kapal besar dan menargetkan pangkalan laut, memusnahkan seluruh armada kapal kecil adalah hal yang terbukti mustahil.
Taktik ranjau, disertai ancaman serangan drone dan rudal, sebelumnya telah berhasil menekan volume lalu lintas tanker minyak hingga ke titik terendah.



