Kerentanan Ideologis - Mabur.co

Kerentanan Ideologis

Saudaraku, Indonesia memasuki ketegangan global dengan kaki teringkus dan posisi ideologis yang goyah.

Terbukti, ketahanan ideologis pemimpin politik itu tak dapat diukur dari kerasnya menggebrak podium. Ia justru diuji di tempat yang lebih sunyi: pada daya resiliensi saat tekanan datang menghadang, ketika janji-janji besar mulai runtuh—pelan-pelan dikorbankan dengan dalih strategi.

Di mimbar, kata-kata boleh tetap menyala. “Bebas aktif” diulang bak mantra, seolah cukup untuk menjaga arah tetap lurus. Kalimatnya tegap, nadanya meyakinkan. Namun di balik itu, arah angin pelan-pelan mengambil alih kendali, sementara kompas yang diklaim digenggam sendiri mulai diabaikan.

Ada kehendak untuk tampil lebih besar dari ukuran diri—berdiri di panggung global, memainkan peran yang terdengar megah.

Tetapi kehendak itu tak diiringi kewaskitaan untuk mengukur kapasitas. Maka yang lahir bukan kepemimpinan, melainkan pertunjukan.

Pemimpin itu terjebak dalam langgam pentas dirinya sendiri, bergerak seolah mengatur irama, padahal langkahnya telah lebih dulu ditentukan oleh kekuatan yang lebih lihai.

Ironinya, ketika negara-negara lain mulai menjaga jarak dari pusaran tekanan “bandit” adidaya, memilih berhitung dengan dingin, Indonesia justru melangkah mendekat —seolah kedekatan adalah kekuatan, padahal sering kali ia hanyalah bentuk lain dari kerentanan yang disamarkan.

Di sanalah satir itu bekerja tanpa perlu ditertawakan: antara klaim kemandirian dan praktik ketergantungan, antara retorika yang berkobar dan realitas yang bertekuk lutut.

Keberanian seakan diukur dari kerasnya suara di dalam negeri, bukan dari keteguhan sikap ketika berhadapan dengan kuasa luar.

Padahal, menjaga jarak aman sering kali jauh lebih bijak daripada mendekat tanpa perhitungan. Sebab dalam kedekatan yang tak setara, pilihan menjadi sempit—dan yang tersisa hanyalah menunggu kapan keputusan diambil oleh pihak lain, atas nama kepentingan yang tak pernah sepenuhnya milik kita.

Yang tersisa bukan sekadar kesalahan strategi, melainkan ironi: ketika prinsip tak runtuh dengan suara keras, melainkan perlahan disesuaikan—hingga suatu hari, tak lagi dikenali sebagai prinsip.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *