Sejujurnya, ketertarikan saya pada dunia gastronomi dan kuliner tidak lahir dari dapur profesional, sekolah memasak, atau ambisi menjadi koki.
Ketertarikan itu muncul dari pengalaman yang jauh lebih sederhana dan personal: hidup bersama makanan sebagai bagian dari ingatan, keluarga, dan bahasa sehari-hari.
Sebagai seseorang yang berdarah Betawi dan Minangkabau, saya tumbuh di lingkungan yang akrab dengan aroma dapur, obrolan tentang makanan, dan kebiasaan makan yang terasa seperti bagian alami dari kehidupan.
Dari pengalaman itu perlahan saya menyadari bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang dimakan. Ia adalah cerita, ingatan, bahkan bahasa yang dapat diterjemahkan ke dalam sastra.
Di banyak keluarga Indonesia, dapur sering menjadi pusat kehidupan rumah tangga. Hal yang sama juga saya rasakan sejak kecil.
Dari sisi Betawi, makanan hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi penuh nostalgia: soto Betawi dengan kuah santan yang kental, semur dengan rasa manis gurih yang akrab, atau kerak telor yang aromanya sering mengingatkan pada suasana perayaan.
Dari sisi Minangkabau, makanan hadir dengan karakter yang berbeda: lebih kaya rempah, lebih intens rasa, dan sering dimasak dengan kesabaran yang panjang.
Hidangan seperti rendang, gulai, atau sambal lado tidak hanya menunjukkan keterampilan memasak, tetapi juga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari situ saya mulai memahami bahwa makanan menyimpan lapisan makna yang lebih luas daripada sekadar rasa.
Ia berkaitan dengan sejarah keluarga, kebiasaan sosial, bahkan cara sebuah komunitas memahami dunia. Dalam kajian gastronomi, makanan memang dipahami sebagai bagian dari sistem budaya yang kompleks.
Gastronomi tidak hanya membicarakan teknik memasak, tetapi juga hubungan antara makanan, masyarakat, dan pengalaman manusia dalam menikmati rasa.
Namun bagi saya, ketertarikan terhadap gastronomi tidak berhenti pada sisi pengetahuan semata. Yang jauh lebih menarik adalah kemungkinan menjadikannya sebagai objek puitik dalam penulisan sastra, terutama puisi dan cerpen.
Makanan memiliki potensi metaforis yang sangat kaya. Aroma, tekstur, rasa, dan proses memasak dapat diolah menjadi gambaran yang hidup dalam bahasa. Bahkan sering kali makanan mampu menyampaikan emosi secara lebih halus dibandingkan penjelasan yang terlalu langsung.
Aroma bawang yang sedang ditumis di pagi hari, misalnya, bisa menjadi simbol rumah dan kehangatan keluarga.
Suara minyak yang berdesis di wajan dapat menggambarkan kesibukan dapur yang hidup. Proses memasak yang lambat—seperti ketika rendang dimasak berjam-jam hingga santan mengering dan bumbu meresap ke dalam daging—dapat menjadi metafora tentang kesabaran, waktu, atau ketahanan dalam kehidupan manusia.
Hal-hal semacam ini menunjukkan bahwa pengalaman kuliner sebenarnya sangat dekat dengan pengalaman puitik.
Dalam penulisan sastra, pengalaman indrawi memiliki peran yang sangat penting. Puisi dan prosa yang kuat biasanya mampu menghadirkan pengalaman sensorik melalui bahasa.
Ketika pembaca dapat membayangkan aroma, rasa, atau tekstur makanan yang digambarkan dalam sebuah teks, maka karya tersebut menjadi lebih hidup. Gastronomi menyediakan sumber imaji yang hampir tidak ada habisnya untuk tujuan tersebut.
Sebagai penulis yang hidup dalam dua latar budaya, saya juga melihat makanan sebagai pintu masuk untuk mengeksplorasi identitas.
Tradisi kuliner Minangkabau dikenal luas karena kekayaan rempah dan teknik memasaknya yang rumit. Rendang, misalnya, dimasak melalui proses panjang hingga santan mengalami karamelisasi dan bumbu meresap sepenuhnya ke dalam daging.
Sementara itu, kuliner Betawi berkembang dalam konteks kota pelabuhan yang sejak lama menjadi tempat pertemuan berbagai budaya. Karena itu, banyak hidangan Betawi memperlihatkan pengaruh yang beragam—dari tradisi Melayu, Tionghoa, Arab, hingga Eropa.
Keragaman ini membuka kemungkinan eksplorasi yang luas dalam sastra. Makanan dapat menjadi simbol pertemuan budaya, perubahan sosial, atau bahkan identitas yang terus bergerak.
Dalam cerpen, sebuah hidangan bisa menjadi cara untuk menggambarkan hubungan antara generasi yang berbeda.
Dalam puisi, rasa pedas sambal atau aroma santan yang dimasak lama dapat berubah menjadi metafora tentang emosi yang intens atau kenangan yang sulit dilupakan.
Tentu saja, menggunakan makanan sebagai objek puitik juga memiliki tantangan. Salah satu yang paling sering muncul adalah kecenderungan untuk jatuh ke dalam deskripsi yang klise.
Dalam banyak teks populer, makanan sering hanya disebut sebagai dekorasi tanpa eksplorasi yang mendalam. Agar tidak terjebak dalam hal tersebut, seorang penulis perlu mengolah bahan kuliner dengan perangkat puitik yang lebih serius.
Perangkat puitik itu dapat berupa metafora, citraan indrawi, ritme bahasa, atau simbol. Alih-alih sekadar menyebut “rendang yang enak”, misalnya, seorang penulis dapat menggambarkan warna bumbu yang perlahan menghitam karena santan yang dimasak lama, aroma serai dan lengkuas yang memenuhi dapur, atau tekstur daging yang begitu lembut hingga hampir terurai sendiri.
Detail seperti ini tidak hanya memperkaya teks, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang lebih konkret bagi pembaca.
Hal lain yang membuat dunia gastronomi menarik bagi saya adalah hubungannya dengan ingatan. Banyak pengalaman manusia yang tersimpan melalui rasa dan aroma.
Sering kali sebuah aroma makanan mampu memanggil kembali kenangan yang sangat spesifik. Dalam sastra, hubungan antara rasa dan ingatan ini dapat menjadi alat naratif yang sangat kuat.
Dalam pengalaman pribadi saya, aroma santan yang dimasak bersama daun kunyit dan serai hampir selalu membawa saya kembali pada dapur keluarga tempat orang-orang berkumpul dan berbincang sambil menunggu makanan matang.
Sementara aroma kecap manis yang dipanaskan dengan bawang putih sering mengingatkan pada masakan Betawi yang sederhana tetapi hangat. Memori semacam ini memberi bahan yang autentik bagi penulisan sastra karena ia berakar pada pengalaman yang benar-benar hidup.
Ketertarikan saya terhadap gastronomi juga banyak diperkaya oleh bacaan. Dalam beberapa tahun terakhir, saya cukup sering membaca buku-buku gastronomi dalam format elektronik.
Buku-buku ini memberi saya banyak wawasan tentang sejarah makanan, filosofi memasak, serta hubungan antara rasa dan budaya. Bacaan tersebut tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperluas cara saya memandang makanan sebagai objek kreatif dalam penulisan.
Beberapa buku gastronomi yang paling memberi pengaruh bagi saya antara lain: Physiology of Taste karya Jean Anthelme Brillat-Savarin, On Food and Cooking: The Science and Lore of the Kitchen karya Harold McGee, The Omnivore’s Dilemma karya Michael Pollan, The Taste of Conquest karya Michael Krondl, The Art of Eating karya M. F. K. Fisher, Salt, Fat, Acid, Heat karya Samin Nosrat, Consider the Fork karya Bee Wilson, An Edible History of Humanity karya Tom Standage, Larousse Gastronomique sebagai ensiklopedia klasik gastronomi Prancis, serta The Flavor Bible karya Karen Page dan Andrew Dornenburg.
Selain bacaan dari tradisi gastronomi Barat tersebut, saya juga banyak belajar dari buku-buku kuliner Indonesia.
Salah satu yang paling penting tentu saja Mustika Rasa, buku resep legendaris yang disusun pada masa pemerintahan Presiden Sukarno sebagai upaya mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara. Buku ini bukan sekadar kumpulan resep, tetapi juga semacam arsip budaya yang memperlihatkan betapa luas dan beragamnya tradisi memasak di Indonesia.
Saya juga membaca beberapa karya dari Ibu Murdijati Gardjito, seorang akademisi yang banyak menulis tentang gastronomi dan kuliner Nusantara.
Tulisan-tulisan beliau tentang sejarah makanan, identitas kuliner daerah, serta konsep gastronomi Indonesia memberi perspektif yang sangat berharga bagi saya. Dari buku-buku tersebut saya belajar bahwa makanan lokal tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan tentang sejarah, lingkungan, dan masyarakat.
Bacaan-bacaan itu memberi saya satu kesadaran penting: setiap hidangan memiliki cerita yang panjang di belakangnya. Ada sejarah perdagangan rempah, perkembangan teknik memasak, hingga perubahan pola makan masyarakat.
Pengetahuan semacam ini sering memicu ide-ide baru dalam menulis. Kadang sebuah paragraf tentang sejarah bahan makanan saja sudah cukup untuk memunculkan bayangan cerita atau metafora yang kemudian berkembang menjadi puisi atau cerpen.
Dunia gastronomi sendiri terus berkembang seiring perubahan zaman. Perdagangan, migrasi, dan globalisasi membuat berbagai tradisi kuliner saling bertemu dan beradaptasi. Hidangan yang dulunya hanya dikenal di satu wilayah kini dapat ditemukan di berbagai kota di dunia.
Perubahan ini menciptakan bentuk-bentuk kuliner baru yang mencerminkan pertemuan budaya. Bagi seorang penulis, dinamika tersebut membuka ruang untuk menceritakan bagaimana identitas dan tradisi terus berubah melalui makanan.
Ketertarikan saya terhadap gastronomi bukan semata karena saya menyukai makanan, tetapi karena saya melihat makanan sebagai medium untuk memahami kehidupan.
Ia menyimpan cerita tentang keluarga, perjalanan sejarah, dan perubahan sosial. Ketika pengalaman-pengalaman itu diolah melalui bahasa sastra, makanan dapat berubah menjadi simbol yang kaya makna.
Sebagai penulis yang berasal dari latar Betawi-Minangkabau, dunia tersebut terasa dekat sekaligus luas untuk dieksplorasi.
Melalui puisi dan cerpen, saya ingin mengolah berbagai pengalaman indrawi yang lahir dari dapur, dari aroma bumbu, dari rasa yang perlahan berkembang di lidah. Dengan cara itu, makanan tidak hanya hadir sebagai objek konsumsi, tetapi juga sebagai bahan bagi bahasa.
Di titik itulah gastronomi menjadi menarik bagi saya sebagai penulis. Ia berada di persimpangan antara pengalaman sehari-hari dan kemungkinan puitik.
Dari dapur yang sederhana hingga hidangan yang dimasak dengan kesabaran panjang, semuanya dapat menjadi sumber imaji, metafora, dan cerita.
Pada akhirnya, makanan memberi saya satu hal yang sangat penting dalam menulis: cara lain untuk menerjemahkan kehidupan ke dalam kata-kata. ***



