Perang Timur Tengah: Keangkuhan AS Melawan Keteguhan Iran - Mabur.co

Perang Timur Tengah: Keangkuhan AS Melawan Keteguhan Iran

Hari kesembilan gencatan senjata antara Iran dan Israel serta AS —yang sayangnya masih dibayangi tekanan dan kekerasan— kini bisa saja menyeret dunia ke bibir jurang yang lebih dalam.

Teheran telah melempar ultimatum: jika pintu Selat Hormuz diblokade AS, maka Bab Al-Mandeb, laut area sekitar Hormuz, akan ditutup oleh Iran.

Jika ini terjadi, kita tidak hanya sedang bicara tentang terhentinya aliran minyak, tetapi tentang lumpuhnya nadi kehidupan di Eropa, India, hingga pelosok Asia.

Inilah wajah dunia yang dibangun di atas kerapuhan. Konflik ini bukanlah soal siapa yang memenuhi ambisi, melainkan buah pahit dari arogansi Washington dan Tel Aviv yang terus memaksakan kehendak.

Terkini, meski gencatan senjata disepakati, AS masih saja mengirim 6.000 pasukan ke Timur Tengah. Ini tidak saja sinyal buruk buat perundingan dan diplomasi, tapi mungkin juga potret nyata dari sebuah keputusasaan AS yang dipoles dengan “bedak” militerisme.

Gedung Putih tampaknya belum belajar dari sejarah bahwa Iran bukanlah negeri yang bisa ditaklukkan hanya dengan gertakan serdadu.

Memaksa Iran menyerah atas “program” uraniumnya dengan cara mengepung Selat Hormuz hanyalah mimpi di siang bolong yang justru akan “berkobar” ke seluruh kawasan.

Dan, yang lebih menyedihkan lagi, dari sekadar pergerakan tank dan kapal induk adalah runtuhnya etika di koridor kekuasaan Pentagon.

Di panggung politik AS, kita menyaksikan sebuah drama humanisme yang kasar. Donald Trump dan JD Vance, dengan lisan yang tak terkendali, menyerang Paus Leo XIV.

Sang Paus, yang berbicara atas nama nurani dan perdamaian global, direndahkan hanya karena ia berani mengkritik “kegemaran” AS untuk perang.

Inilah puncak dari arogansi yang melampaui batas kewajaran. Ketika kritik seorang pemimpin spiritual dianggap sebagai kerikil pengganggu, maka sebenarnya yang sedang dilawan bukan sekadar Paus, melainkan nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.

Trump seolah sedang “menantang” langit, juga telah merasa bahwa kekuatan material dan supremasi militer adalah “Tuhan baru” yang bisa mendikte takdir manusia.

Para pengikut Paus dan seluruh insan yang masih memiliki nurani harus sadar: mereka sedang menghadapi era di mana kuasa tanpa etika merasa bisa menggantikan peran Tuhan.

Bab Al-Mandeb mungkin akan tertutup, ekonomi mungkin akan runtuh, namun yang paling mengerikan adalah ketika hati nurani para pemimpin dunia telah membatu, menutup pintu bagi dialog dan membuka lebar pintu bagi kehancuran bersama.

Di titik ini, kita hanya bisa merenung: apakah manusia akan berhenti sebelum api benar-benar melahap semuanya, ataukah kita memang sedang bergegas menjemput kiamat yang kita buat sendiri? Wallahu’alam. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *