Janda adalah Wujud “Emansipasi Wanita” yang Sesungguhnya - Mabur.co

Janda adalah Wujud “Emansipasi Wanita” yang Sesungguhnya

Mabur.co – Dalam suasana perayaan Kartini seperti saat ini, tentunya satu kata yang akan langsung muncul di benak kita adalah soal “emansipasi wanita”, yakni wujud kemandirian, tanggung jawab, dan kesetaraan, terhadap akses kehidupan yang layak, sama seperti laki-laki.

Dalam kehidupan modern seperti saat ini, peran “emansipasi wanita” telah mengalami sedikit pergeseran makna.

Dari yang awalnya bertujuan memperoleh kesetaraan dalam akses pendidikan, pekerjaan, dan seterusnya maka untuk saat ini, emansipasi wanita lebih berfokus pada aspirasi suara perempuan terhadap hak-hak personalnya di ruang publik, misalnya untuk ibu hamil, penyandang disabilitas, dan seterusnya.

Namun ada satu lagi wujud emansipasi wanita di era modern, yang mungkin luput dari perhatian banyak orang, yang datangnya justru dari kalangan yang tidak pernah diharapkan sama sekali. Namun jumlahnya justru semakin meningkat dan usianya juga semakin muda.

Wujud emansipasi itu berasal dari kalangan janda, alias single mom/parent (orang tua tunggal).

Siapa sih perempuan di dunia ini yang ingin hidupnya menjanda? Atau memilih menjadi seorang single mom/parent.

Tentunya tidak ada yang mau menjadi seorang janda.

Namun dengan dinamika kehidupan modern yang semakin kompleks seperti saat ini, menjanda bisa jadi merupakan pilihan yang lebih bijak (bagi yang sudah menikah namun tidak berjalan harmonis), daripada harus bersama seorang pria yang sulit diajak kompromi, dan seterusnya.

Setelah memilih menjadi seorang janda (terutama bagi yang sudah memiliki anak), para perempuan ini mau tidak mau harus lebih tangguh dari sebelumnya.

Baik itu tangguh dalam hal kemandirian, tangguh finansial, tangguh kekuatan, tangguh mental, dan sebagainya.

Tanpa memiliki ketangguhan-ketangguhan di atas, mustahil seorang perempuan akan mampu melewati “masa jandanya” dengan baik.

Ketangguhan itulah yang kemudian bisa disebut sebagai “emansipasi wanita” di era modern yang sesungguhnya.

Karena ketangguhan itu belum tentu dimiliki oleh mereka yang belum menikah, “masih” menikah, atau yang belum memiliki anak.

Dilansir dari laman Detik, Selasa (21/4/2026), berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa seorang janda atau single mom/parent layak disebut sebagai wujud “emansipasi wanita” versi modern yang sesungguhnya.

1. Dituntut Mandiri dan Multi-Peran Sekaligus

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, seorang janda sering kali harus berperan ganda sebagai ayah dan ibu. Meliputi bekerja keras mencari nafkah, sekaligus mengasuh anak (terutama yang masih balita). Hal ini tentunya membutuhkan ketangguhan seorang perempuan untuk menopang ekonomi keluarga secara mandiri.

Sebuah wujud “emansipasi wanita” yang begitu mulia, namun sangat sulit dilakukan.

2. Tangguh Secara Psikologis dan Emosional

Seorang janda juga dituntut mampu mengatasi beban psikologis, trauma, sekaligus stigma sosial dari masyarakat atau netizen.

Janda harus mampu hidup (dan menghidupi anaknya sendirian), bangkit untuk mandiri, dan tidak takut untuk menjalani hidup tanpa adanya pendamping. Mereka harus fokus pada kebahagiaan diri dan masa depan anaknya.

Akibatnya jelas, 24/7 waktu yang ia miliki lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi keluarga (terutama anak), tanpa pernah sedikitpun memikirkan kesenangan dirinya sendiri.

Tentu saja, ini juga wujud sebuah emansipasi wanita dalam versi modern.

3. Berani Mengambil Keputusan Seorang Diri

Perempuan dikenal sebagai sosok yang senang berkompromi. Dalam hal pemilihan baju ke pesta saja, perempuan seringkali bertanya kepada suaminya, manakah baju yang sebaiknya digunakan, dan seterusnya.

Lalu ketika urusan kompromi itu sudah tidak lagi didapatkan oleh perempuan (karena sudah bercerai dengan suaminya), hal itu membuat mereka harus mampu memutuskan semuanya seorang diri, dan tidak lagi “manja” untuk sesuatu yang sifatnya remeh-temeh sekalipun.

Namun dalam kebanyakan kasus, mengambil keputusan seorang diri tanpa kompromi justru dirasa lebih menguntungkan, karena hal itu akan memutus lapisan persyaratan (izin) yang dibutuhkan, untuk keputusan terhadap suatu hal.

Namun sayangnya belum semua janda bisa berpikiran seperti itu.

4. Perjuangan Melawan Stigma

Meskipun jumlahnya sudah semakin banyak (dan semakin muda), namun tak bisa dipungkiri, bahwa status janda tetaplah tabu bagi sebagian kalangan, terutama bagi yang masih memegang prinsip kolot atau old school.

Disinilah ketangguhan seorang janda diuji. Mereka harus mampu melawan stigma negatif tersebut, dengan keberhasilan mendidik anak hingga dewasa, dan menjadikannya manusia yang berhasil menaikkan derajat keluarga, dan seterusnya.

Namun ada baiknya, stigma itu tidak perlu terlalu dirisaukan. Karena kita tidak akan mampu mengubah pandangan maupun stigma orang lain, yang sudah begitu melekat sekian lama.

Mereka juga tidak perlu membuktikan apapun kepada masyarakat yang masih memandang rendah seorang janda. Karena membuktikan apapun juga tidak akan mengubah pandangan orang-orang tersebut. Yang ada justru buang-buang energi untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

5. Perlu Dukungan Support System (Termasuk dari Negara) dan Komunitas

Meskipun janda adalah perempuan yang dituntut mampu mengelola rumah tangga seorang diri, namun mereka tetap butuh orang lain (bukan suami) untuk bisa berbagi cerita, keluh kesah, maupun bentuk dukungan lainnya.

Disinilah pentingnya kehadiran support system bagi para janda. Misalnya melalui komunitas yang sudah eksis seperti Single Moms Indonesia, dimana sesama janda bisa saling memotivasi untuk bangkit, berdaya, dan menciptakan lingkungan yang aman serta suportif.

Negara (pemerintah) juga mestinya ikut hadir dalam pembentukan support system ini.

Apalagi sang Kepala Negara juga merupakan seorang single father (Prabowo Subianto), yang telah bercerai dengan Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto, anak dari mantan presiden Soeharto) pada Mei 1998 silam.

***

Meskipun tidak ada satu perempuan pun di dunia ini yang berkeinginan menjadi seorang janda. Namun dengan situasi kompleks yang terjadi saat ini, bisa dibilang mereka adalah perwujudan dari “emansipasi wanita” yang sesungguhnya dalam versi modern.

Jadi, jangan pernah meremehkan seorang janda, karena tidak semua wanita sanggup menjanda. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *