NU Garis Lurus, NU Garis Lucu, NU Garis Miring, dan NU Garis Cengeng - Mabur.co

NU Garis Lurus, NU Garis Lucu, NU Garis Miring, dan NU Garis Cengeng

Di jagat maya, Nahdlatul Ulama kini bukan lagi sekadar jam’iyyah. Ia mirip sebuah panggung teater, tempat berbagai rupa “garis” berlomba mengambil napas.

Ada NU Garis Lurus, yang merasa tongkat khittah harus kaku, lurus, tanpa bengkok, seolah kebenaran adalah penggaris besi yang siap memukul siapa saja yang melenceng satu milimeter saja.

Mereka lupa, barangkali, bahwa hidup—dan beragama—adalah sungai yang berkelok dan justru di sini, letak keindahannya.

Lalu muncul, sebagai penawar sekaligus perlawanan, ada NU Garis Lucu. Ia hadir dengan senyum Gus Dur, menjadikan satir dan humor sebagai jubah dakwah.

“Sampaikan kebenaran, walaupun itu lucu,” begitu semboyannya. Baginya, kaku adalah kerapuhan. Humor adalah kedisiplinan tertinggi untuk merawat kewarasan di tengah klaim-klaim otoritas yang angkuh.

Namun, di tengah-tengah itu, ada NU Garis Miring. Ia yang tak tegak lurus, tapi juga tak tertawa terbahak-bahak. Ia adalah para santri kultural, yang memilih takwil di ruang-ruang abu-abu, merawat tradisi dengan interpretasi yang dinamis, tidak ekstrem ke kanan atau ke kiri.

Dan kini, pada 2026, kita disuguhi fenomena baru: NU Garis Cengeng. Baperan. Kelompok ini didominisi strukturalis, dan anak kandung PB dengan era “kurang santai”.

Mereka sering curhat di Medsos untuk mencari pembenaran dan menyalahkan ini itu. Mudah tersinggung jika kemapanannya terusik atau dipertanyakan, sekaligus meratap, jika humor NU Garis Lucu menyentuh kesucian semu mereka.

Bagi mereka, menjalani roda organisasi harus disikapi dengan wajah masam dan hati yang rapuh. Bahkan, cenderung anti-masukan, anti-kritik dan anti-perbedaan, serta mungkin anti-silaturahmi. Mereka mungkin mengira apologi dan keluhan adalah dua tanda kesalehan, padahal seringkali itu hanya tanda ketidakmampuan berdialog dengan perbedaan.

Kita lalu merenung: ke mana arah NU? Sejarah NU adalah sejarah kelenturan, sebuah rumah besar yang menampung kelucuan sekaligus kelurusan. Garis-garis itu—lurus, miring, lucu, hingga cengeng—adalah wajah-wajah yang cemas. Namun, mungkin, kita tidak butuh satu garis yang pasti.

Mungkin, yang kita butuhkan adalah keberanian untuk menghapus semua garis itu, dan kembali duduk bersama, melingkar, tanpa perlu merasa paling lurus atau paling benar. Sebab, Tuhan lebih mencintai senyum kerendahan hati daripada kening yang berkerut karena baper. Wallahu’alam. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *