Dunia Pesantren yang Kembali Terkoyak - Mabur.co

Dunia Pesantren yang Kembali Terkoyak

Dunia pesantren selalu saja terasumsikan jernih dan suci, maka ketika ada sedikit saja kasus terjadi di seputar pesantren, biasanya akan menjadi heboh.

Apalagi di era media sosial seperti sekarang, kabar apa pun, valid atau hoaks cepat menyebar. Publik bagai selalu dituntut untuk cerdas menghadapi situasi, mencerna ragam berita.

Begitu pula ketika kabar sangat miring datang dari sebuah pesantren di Pati Jawa Tengah. Dikutip dari jpnn.com, Senin (4/5/2026), 50 santriwati jadi korban pencabulan oknum kiai di Pati. Disebutkan pula dalam berita itu sebagian besar korban masih di bawah umur.

Pastilah berita semacam itu membuat siapa pun terkejut. Sudah beberapa kali diberitakan kasus serupa di pesantren, sepertinya di era kini perlu dipertimbangkan pola pendidikan pesantren yang lebih transparan dan terkontrol.

Boleh jadi perlu adanya kebijakan sinergi antara pendidikan pesantren dengan aktivis LSM, misalnya. Pemerintah bisa menjembani kemungkinan kebijakan ini. Misalnya, adanya kebijakan kuota atau kursi pengajar di pesantren dari kalangan pemerintah atau LSM.

Intinya adalah ada upaya untuk membangun pola edukasi di pesantren menjadi lebih terbuka dan mengembalikan citra pesantren menjadi lebih luhur. Supaya imej pesantren tetap saja mulia dan tidak memunculkan kegamangan atau kekhawatiran dari para orang tua jika mau menitipkan anaknya menempuh pola edukasi di pesantren.

Memang, adanya kejadian seperti pesantren di Pati Jawa Tengah yang kini sedang viral itu hanya dilakukan oleh oknum tertentu. Tidak bisa juga semua pesantren lalu digeneralisasi menjadi sama.

Masih banyak juga pesantren yang memang bersih, setidaknya tanpa adanya pemberitaan miring. Kalau kita melihat pencapaian prestasi para santri di Hari Santri Nasional yang jatuh tiap tanggal 22 Oktober, misalnya, maka akan terlihat betapa pendidikan pesantren tetaplah sangat penting.

Dalam setiap peringatan Hari Santri Nasional dapat kita lihat pencapaian prestasi para santri di bidang apa pun. Mulai dari sains, teknologi, kuliner, budaya, vokal, musik, pidato, sejarah agama, cerdas cermat, film, dan lain-lain.

Berkaca dari prestasi itu pula maka dunia pesantren tetap dibutuhkan kehadirannya untuk memperkaya dimensi kehidupan dan terus berusaha keras membangun peradaban yang agamis dan berakhlak baik.

Oleh karena itu jika memang ada segelintir oknum yang menciderai prestasi dan nama dunia pesantren yang sudah terbangun bagus, sangat perlu untuk dibersihkan. Jangan sampai ada pepatah gara-gara nila setitik maka rusak susu sebelanga diberlakukan dalam memandang eksistensi dunia pesantren.

Jika memang ada nila setitik maka harus cepat untuk dipangkas, gercep untuk disirnakan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *