Mabur.co- Sebagian publik di media sosial, tengah ramai menyoroti kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah.
Kasus ini menyita perhatian publik usai terungkapnya sosok terduga pelaku yang menjadi pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Ashari (58).
Pengacara korban, Ali Yusron mengatakan, setidaknya terdapat 50 santriwati yang dilaporkan menjadi korban kekerasan seksual dalam kasus tersebut.
Dalam unggahan Instagram @patisakpore, pada Selasa, 5 Mei 2026, Ali menduga para korban diperdaya pelaku yang mengaku sebagai sosok wali atau perantara yang memiliki kemampuan di luar nalar. “(Jumlah korban) 30 sampai 50 anak berdasarkan keterangan korban,” kata Ali.
Ali mengatakan, korban harus ikut patuh jika ingin masuk surga, doktrinnya dia Waliyullah, mengaku wali Allah. Dia juga mengaku keturunan nabi.
Dugaan pelecehan yang menyasar anak di bawah umur tersebut sebelumnya sempat dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Pati pada 2024 lalu.
Kala itu, penanganan kasus dugaan asusila itu disebut tidak kunjung rampung lantaran pelapor melalui pengacara sebelumnya memilih bungkam seusai diduga bertemu pihak terlapor.
“Yang melapor pada 2024 itu ada 4 sampai 8 orang (korban),” terang Ali.
Ali mengatakan, dalam penangganan kasus tersebut pernah berhenti, tetapi ia tidak tahu. Mungkin ada win-win solution. Dugaan pelecehan di Ponpes Ndholo Kusumo kembali mencuat setelah salah satu korban santriwati di sana berani bersuara.
Korban mengaku muak dengan perbuatan Ashari hingga berharap keadilan atas kasus pelecehan tersebut.
“Kasus ini saya pegang 3 bulan lalu. Korban dan ayahnya datang ke kantor,” sebut Ali.
Ali mengatakan, merasa kasihan karena rata-rata korbannya anak yatim, korbannya memang kebanyakan orang tidak mampu.
Merujuk pada pengakuan korban, Ali menjelaskan, perbuatan Ashari diduga sudah dilakoni sejak 2022 lalu. Ia menduga, Ashari terpaksa menghilang pada 2024 lantaran muncul pelaporan di kalangan warga.
Di sisi lain, Ali menyebut hal itu tak menutup kemungkinan Ashari sudah menjadi predator anak sejak puluhan tahun lalu.
“Korbannya para santriwati, kebanyakan pelajar MTs. Tiga tahun berturut-turut, gonta-ganti semaunya,” ungkapnya.
Pada Sabtu, 2 Mei 2026, kediaman Ashari yang berada di satu kompleks dengan pondok putri (santriwati) sempat digeruduk oleh warga setempat.
Kala itu, ratusan orang yang dikomandoi oleh Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi) menggelar aksi unjuk rasa.
Dalam video yang beredar, terlihat massa yang bercampur dengan warga sekitar menyoraki Ashari saat digiring oleh polisi.
Terlihat pula, sebagian dari massa juga membentangkan spanduk bertuliskan: “Sang Predator” hingga “Perempuan bukan objek seksual”.
Hingga berita ini, puluhan santriwati yang mayoritas yatim piatu dari keluarga tidak mampu dilaporkan menjadi korban pelecehan di Ponpes Ndholo Kusumo Pati.



