Mabur.co – CELIOS, sebuah lembaga penelitian independen (think tank) di Jakarta, berhasil menemukan fakta menarik di balik maraknya kasus keracunan yang terjadi pada penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa kasus keracunan pada penerima MBG berasal dari banyaknya overload atau lembur berlebih, yang dialami oleh para pekerja SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi), sehingga hal itu lantas mengorbankan kualitas makanan yang disajikan, terlebih dengan jumlahnya yang mencapai ribuan per harinya.
“Kenapa ada keracunan (pada penerima MBG)? Ternyata pekerjanya overwork (lembur). Jadi lebih dari 10 jam sehari mereka bekerja di dapur MBG itu, mulai dari jam 12 malam. Sehingga dengan porsi 1000 sampai 2000 per hari, mereka jadi overload atau overwork. Lalu pada saat mencuci piring, kakinya juga harus terendam air, dan itu menyebabkan berbagai penyakit yang tidak diinginkan. Kualitas dari dapur dan tempat sanitasinya juga masih buruk,” ungkap Bhima Yudhistira, sepert dilansir dari kanal YouTube Fristian Griec Media, Kamis (7/5/2026).
Dengan fakta semacam itu, Bhima merasakan adanya ketimpangan yang begitu besar antara ide atau gagasan yang digaungkan oleh MBG, dengan praktik yang terjadi di lapangan, setidaknya hingga saat ini.
“Dari sini masyarakat pun merasa bahwa pajak mereka seharusnya tidak untuk MBG semuanya, atau jangan hanya MBG yang diprioritaskan. Selain itu, ketimpangan itu juga terjadi di dapur-dapur. Dimana kesejahteraan pemilik dengan pegawainya SPPG-nya sangat timpang dan cukup mengenaskan,” tambah Bhima.
Bhima pun menilai, penyelesaian masalah stunting (yang menjadi awal mula dibentuknya MBG) seharusnya dikerjakan oleh Kementerian Kesehatan, yang dianggap lebih memahami persoalan stunting ketimbang Badan Gizi Nasional (BGN), dan seterusnya. (*)




