Bulan Mei 2026 bisa saja menjadi bulan yang tidak ceria. Apalagi tanggal 7 Mei 2026 yang menjadi penanda hari meninggalnya pencipta lagu kenamaan James F Sundah pada usia 70 tahun di Amerika Serikat.
Publik musik di Indonesia pasti berduka mendengar kabar meninggalnya James F Sundah yang begitu ramai di media mainstream, media homeless, dan media sosial.
Didera penyakit kanker paru-paru, begitulah semua media menyebut kabar duka sebagai penyebab kematian James F Sundah.
Lalu ingatan apakah yang menjadi bagian ikatan emosi kita dengan James F Sundah? Tentu saja lagu-lagu yang diciptakannya.
Generasi milenial, misalnya, pasti tahu lagu-lagu yang dinyanyikan Chrisye seperti Lilin-lilin Kecil. Sebuah lagu penting yang menjadi bagian tonggak kemunculan Chrisye di blantika musik Indonesia. Populer saat era 1970-an dan 1980-an yang juga menjadi bagian masa kecil saya.
Ada juga lagu September Ceria yang diciptakan James F Sundah dan sangat populer dinyanyikan Vina Panduwinata, meskipun tidak hanya dalam bulan September lagu itu tetap saja enak didengar.

Boleh jadi karena era analog dulu fasilitas mendengarkan musik terbatasi, jika mendengarkan radio bisa mendengarkan lagu-lagu bagus hanya jam tertentu dan bisa juga karena kebetulan, maka sensor telinga manusia Indonesia juga sangat sensitif.
Sepertinya juga lebih tajam era dulu ketika belum banyak distraksi suara, distraksi hoaks. Oleh karena itu apa pun yang didengar menjadi bernilai spesial.
Apalagi jika yang didengar itu adalah suara penyanyi yang bernama Vina Panduwinata. Saat mendengar September Ceria pun imajinasi yang hadir bisa sempurna: … Kasih, kau beri udara untuk napasku… Itu salah satu penggalan syair lagu September Ceria yang terasa dalam sekali menyayat sanubari, dan bagi kaum romantisisme sangatlah menyenangkan.
Sayangnya, nasib pencipta lagu bisa saja tidak populer meskipun jasanya besar. Saya dulu juga tidak ngeh dengan nama James F Sundah meskipun menyukai lagu September Ceria. Imajinasi saya sudah cukup sempurna terkuasai oleh alunan syair yang didendangkan Vina Panduwinata.
Dulu di tahun 1982 saat lagu September Ceria itu populer, saya masih menginjak bangku Taman Kanak-kanak dan bisa semakin paham serta bisa menikmati makna lagu tersebut saat di bangku Sekolah Dasar.
Oleh karena itu, jika dulu di masa Orde Baru banyak orang merasakan bulan September begitu seram karena ada momen tanggal 30 September sebagai peringatan Gerakan 30 September/PKI, maka saya sejak awal bulan September tiba sampai tanggal 30 September, selalu saja merasakan denyar hati yang berbunga-bunga. Justru itulah yang saya rasakan dan kontras sekali dengan momentum kemuraman akhir bulan September.
Denyar hati atas lagu September Ceria yang menjadi penanda usia bahwa di masa SD pula rasa jatuh cinta yang merundung dada bisa datang dengan tiba-tiba, sangat menghentak, dan mengejutkan. Saya percaya meskipun tanpa ingatan lagu September Ceria, saat masa SD bisa saja semua orang merasakan arti jatuh cinta. Hahaha… ***




