Berkarya Sampai Tubuh Menyerah - Mabur.co

Berkarya Sampai Tubuh Menyerah

“Tulisan ini sebagai penghormatan saya yang setinggi-tingginya bagi para pejuang seni, yang hingga di tepian usia tetap teguh memeluk kanvas dengan dedikasi tanpa batas. Menjadikan sisa hidup mereka sebagai persembahan abadi bagi semesta seni rupa.”

Misteri yang menyelimuti dunia seni rupa tidak hanya terletak pada kecanggihan teknik, kecemerlangan narasi, atau mahalnya harga sebuah lukisan di balai lelang. Teka-teki yang lainnya, yang justru lebih menarik untuk disoroti, berada pada daya tahan seniman untuk terus menggoreskan warna. Meski raga mulai kepayahan dan penglihatan kian kabur, seolah tak menjadi penghalang bagi mereka. Fenomena ini menghadirkan sebuah pertanyaan besar, apa yang sebenarnya dicari oleh para pelakon estetika ini?

Dunia seni rupa hari ini memang tampak sangat gemerlap melalui berbagai perhelatan bergengsi, misalnya Art Jakarta dan berbagai macam Art Festival, yang menampilkan keriuhan estetika luar biasa. Pasar seni rupa di Indonesia pun terus bergerak dinamis dengan pertumbuhan galeri dan kolektor baru yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Namun, di sudut studio yang pengap, masih ditemukan orang-orang tua yang setia menghadapi kanvas dengan kuas-kuas lusuh di tangan yang mulai gemetar.

Daya hidup para seniman lanjut usia ini sungguh di luar nalar ekonomi modern maupun logika biologi. Secara alamiah, fungsi tubuh manusia menurun seiring bertambahnya angka usia, namun bagi seorang perupa, semangatnya tampak tak pernah surut meski saat fisik mulai melemah. Ada semacam api yang terus dipicu oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar ambisi duniawi atau keinginan menikmati masa tua dengan beristirahat tenang.

Pencapaian popularitas dan kemakmuran finansial tentu menjadi harapan bagi setiap orang yang berprofesi sebagai seniman, baik yang baru merangkak maupun yang sudah mapan. Pasar seni rupa sering mencatat rekor harga fantastis yang membuktikan bahwa dedikasi pada bidang ini mampu membawa seseorang ke puncak kesejahteraan materi. Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa motif ekonomi bukanlah satu-satunya bahan bakar yang menggerakkan tangan-tangan renta itu.

Ekosistem seni rupa memperlihatkan ketimpangan yang cukup tajam di lapangan. Hanya sebagian kecil seniman yang mampu menembus pasar global dan hidup bergelimang harta, sementara sebagian besar lainnya hidup dalam kesahajaan, dan yang nyaris tidak pernah dibicarakan di ruang publik. Ironisnya, mereka yang tidak populer ini memiliki tingkat ketekunan yang sama kuatnya dengan mereka yang sudah sukses, kaya raya dan namanya berkibar di mana-mana.

Kegigihan ini memunculkan sebuah refleksi bahwa seni mungkin bukan sekadar profesi, melainkan sebuah jalan hidup atau “laku” dalam istilah kebudayaan. Bagi perupa yang sudah memasuki usia senja, berkarya bukan lagi urusan kompetisi untuk memenangkan perhatian publik atau mengejar viralitas. Aktivitas berkarya seni berubah menjadi sebuah dialog batiniah yang bersifat sangat pribadi antara Pencipta dan hakekat keberadaannya sebagai manusia.

Perubahan zaman yang bergerak cepat tidak membuat para seniman tua ini merasa terancam oleh kehadiran teknologi digital atau seni instalasi interaktif. Mereka berdiri tegak bukan karena menutup mata terhadap kemajuan, melainkan karena memiliki akar nilai yang sangat kuat. Kekuatan akar inilah yang membuat mereka tidak mudah tumbang oleh badai tren yang datang silih berganti setiap musim pameran.

Dalam setiap proses kreatif seniman sepuh ada semacam dorongan metafisika yang sulit dijelaskan melalui kacamata sosiologi belaka. Setiap goresan adalah pernyataan bahwa jiwa tidak mengenal batas waktu, meskipun tubuh memiliki kedaluwarsa. Imajinasi dan kekuatan jiwa adalah wilayah tanpa batas yang tidak terikat oleh hukum penuaan.

Dalam lintasan sejarah seni rupa di Indonesia, para maestro telah memberikan kesaksian nyata bahwa hingga hembusan nafas terakhir, kuas tidak pernah tanggal dari jemari mereka. Fenomena ini menyingkapkan adanya dahaga batin yang tidak akan pernah kenyang hanya dengan limpahan materi atau riuhnya tepuk tangan penonton. Puncak kepuasan itu justru hadir ketika seorang manusia berhasil memindahkan seluruh kegelisahan jiwanya ke dalam wujud visual yang mampu menyentuh relung sanubari sesama.

Masyarakat umum mungkin menganggap aktivitas ini sebagai sebentuk keras kepala yang tidak produktif, apalagi jika karya tersebut tidak laku di pasar. Namun bagi sang perupa, berhenti berkarya sama saja dengan menghentikan detak jantung, sebab seni merupakan jembatan tunggal untuk tetap terhubung dengan hakekat kehidupan. Lewat karya itulah, martabat kemanusiaan tetap tegak berdiri di tengah kebisingan dunia yang kian penuh dengan kepalsuan.

Kesenjangan ekonomi di dunia seni rupa memang nyata, namun di hadapan sebuah kanvas, derajat semua perupa kembali setara sebagai manusia yang sedang menuntaskan amanat kegelisahan jiwanya. Seniman tua yang masih hidup prihatin di desa-desa terpencil tetap memiliki martabat yang sama tingginya dengan mereka yang berpameran di galeri mewah. Mereka melihat kanvas sebagai hamparan semesta tempat menanam benih pemikiran yang jauh melampaui urusan perut.

Tujuan akhir dari perjalanan panjang seorang seniman tampaknya bukan lagi pengakuan dari pengamat atau kolektor ternama. Mereka sedang membangun sebuah monumen ingatan bagi dirinya sendiri, bahwa pernah ada seorang manusia yang mencoba memahami dunia melalui garis dan warna. Setiap goresan mengandung sejarah panjang, keringat, dan tetesan air mata yang sudah mengkristal menjadi sebentuk kebijaksanaan hidup.

Fenomena ini juga menjadi kritik bagi masyarakat pada umumnya, yang cenderung terlalu memuja hasil instan dan pencapaian lahiriah semata. Seniman-seniman tua ini memberikan pelajaran tentang proses, kesabaran, serta dedikasi total yang tidak mengenal batas waktu. Kesetiaan mereka pada prinsip hidup adalah bukti bahwa karya bermutu tidak lahir dari ketergesaan, melainkan dari pengabdian yang panjang dan konsisten. Mereka tidak silau oleh gemerlap panggung, melainkan tetap fokus pada kebenaran estetik yang bersifat abadi dan tidak lekang oleh zaman.

Melihat sosok sepuh yang masih telaten mencampur warna di atas palet usang adalah sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus provokatif. Hal itu memprovokasi kesadaran manusia untuk bertanya kembali mengenai, apa yang sebenarnya paling berharga dalam hidup ini. Apakah sekadar menumpuk benda-benda materi, atau meninggalkan jejak yang mampu memberi makna bagi generasi yang akan datang?

Keriuhan dunia seni rupa hari ini kerap terjebak pada kulit luar, di mana esensi penciptaan kerap dikalahkan oleh tuntutan gaya hidup dan kemasan yang serba gemerlap. Di tengah hiruk-pikuk itulah, kehadiran para seniman tua menjadi cermin bening untuk merenungkan kembali, ke mana sebenarnya arah kebudayaan ini hendak dibawa. Eksistensi mereka menciptakan harmoni yang kokoh; perupa muda menawarkan ledakan energi dan pembaruan teknologi, para sesepuh hadir memberikan fondasi nilai serta kedalaman makna yang menjaga agar pohon kesenian tidak tercerabut dari akarnya.

Keajegan dalam berkarya di tengah keterbatasan fisik membuktikan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang tidak bisa diukur secara kuantitatif. Ada energi yang terus mengalir mencari jalan keluar melalui ekspresi artistik, membuktikan bahwa semangat tidak bisa dipenjara oleh dinding usia. Energi inilah yang membuat sejarah seni rupa dunia terus berlanjut melintasi berbagai sekat ideologi dan zaman yang terus berubah.

Pelajaran penting yang bisa diambil, bahwa melakukan sesuatu dengan dasar cinta dan keyakinan akan memberikan daya tahan yang luar biasa. Tidak ada masa pensiun bagi seorang perupa karena seni adalah nafas yang berhenti hanya ketika raga kembali bersatu dengan tanah. Pilihan untuk tetap berkarya hingga di usia senja adalah sebuah keputusan paling puitis dalam mempertahankan eksistensi sebagai manusia.

Jawaban atas misteri besar itu tidak akan ditemukan dalam tumpukan teori ilmiah, melainkan terpancar nyata dari raga-raga yang tetap tegak berdiri di depan kanvas. Selama detak jantung belum berhenti, jemari seniman akan terus bergerak mencari jalan untuk menyentuh keabadian sebagai wujud syukur paling tulus kepada Sang Pencipta. Di sanalah letak martabat tertinggi seorang manusia. Ia yang dengan teguh memilih jalan sunyi demi menjadi pengabdi keindahan sejati.

Purwosari, 07 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *