Mabur.co – Pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Cebu, Filipina, yang berlangsung sejak Kamis (07/05/2026) hingga Jumat (08/05/2026) hari ini mendapat pengawasan ketat dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Demi memastikan acara yang dihadiri sejumlah petinggi negara-negara di ASEAN itu berlangsung aman, TNI bahkan sampai menyiagakan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) di wilayah nasional Sulawesi Utara.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa pengerahan alutsista tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan rutin operasi gabungan TNI dalam menghadapi berbagai kemungkinan situasi di kawasan ASEAN.
Total ada sebanyak 3 kapal perang, 5 pesawat tempur hingga satu pesawat angkut logistik yang dikerahkan TNI ke wilayah utara Indonesia yang berjarak sekitar 1000 kilometer dari pulau Cebu, Filipina.
Masing-masing adalah kapal patroli lepas pantai KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi, serta kapal fregat KRI RE Martadinata.
Selain itu, TNI juga menyiapkan lima pesawat tempur F-16 Fighting Falcon serta satu pesawat angkut Airbus A400M.
Ia menjelaskan, penguatan pengamanan VVIP dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian pertemuan kepala negara berjalan aman dan lancar.
Meski demikian, TNI tetap mengedepankan koordinasi dengan otoritas negara penyelenggara dalam setiap langkah pengamanan yang dilakukan.
“Seluruh kegiatan dilaksanakan secara terukur, profesional, dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta penghormatan terhadap kedaulatan negara sahabat,” ujar Rico sebagaimana dikutip Antara, Jumat.
Rico juga menepis anggapan bahwa pengerahan kapal perang dan jet tempur dilakukan karena adanya ancaman khusus terhadap Presiden Prabowo maupun para pemimpin negara peserta KTT ASEAN.
Ia menegaskan, langkah tersebut merupakan prosedur standar dalam pengamanan agenda internasional berskala tinggi.
“Jadi, kegiatan ini bukan didasarkan pada adanya ancaman atau potensi konflik tertentu yang secara spesifik ditujukan kepada presiden maupun kepala negara peserta KTT ASEAN,” katanya.
Menurutnya, kesiapan alutsista dan pasukan diperlukan agar TNI mampu melakukan respons cepat apabila terjadi situasi darurat selama kegiatan berlangsung.
Pengamanan ini juga menjadi bagian dari pengujian kesiapan personel, sistem komando, mobilitas, interoperabilitas antarmatra, hingga kemampuan respons cepat TNI.
Rico menambahkan, Indonesia hingga saat ini masih memandang kondisi keamanan kawasan ASEAN dalam keadaan kondusif.
Namun, situasi yang relatif aman tersebut tidak membuat TNI mengendurkan sistem pengamanan, terutama dalam agenda internasional yang melibatkan kepala negara dan pejabat penting kawasan.




