Mabur.co – Mungkin kita sudah kenyang dengan pemberitaan dimana politisi kerap tersandung kasus korupsi, atau terlibat dalam praktik korupsi di lingkungan pemerintahan, dan seterusnya.
Bahkan, orang-orang biasa yang dianggap “suci” saat berada di luar pemerintahan pun, ketika mereka “banting setir” menjadi politisi, tiba-tiba saja mereka ikut tersandung kasus serupa, hingga bertransformasi menjadi “penjahat baru” bagi publik, akibat dianggap mencuri uang negara, dan seterusnya.
Hal itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa siapapun orang yang masuk ke dunia politik dan bergabung dalam pemerintahan, sebaik dan sesuci apapun dia sebelumnya, tetap saja akan menjadi “orang jahat” ketika sudah berada di sana.
Salah satu contoh yang paling nyata tentu saja adalah Nadiem Makarim, seorang mantan CEO Gojek, yang mampu memberi pekerjaan kepada jutaan orang di seluruh Indonesia, melalui aplikasi khas berwarna hijau yang terus berkembang dari waktu ke waktu, hingga saat ini.
Namun saat menerima tawaran dari Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Pendidikan pada 2019 lalu, Nadiem yang awalnya punya gagasan cemerlang untuk memajukan pendidikan, salah satunya melalui program “Kampus Merdeka”, justru akhirnya terjerat kasus korupsi di akhir masa jabatannya, akibat diduga terlibat dalam korupsi pengadaan laptop chromebook.
Lalu, apa yang menyebabkan hal itu sering terjadi kepada orang-orang Indonesia? Dan mengapa politik dianggap sebagai ladang basah yang sangat rentan melahirkan “penjahat publik” baru di kemudian hari?
Dilansir dari ANTARA, Minggu (10/5/2026), berikut adalah beberapa alasan diantaranya.
1. Penyalahgunaan Kekuasaan dan Budaya Transaksional
Tak bisa dipungkiri, politik sering kali melibatkan kepentingan, uang, dan kekuasaan. Hal ini lantas memicu munculnya sifat-sifat kejahatan secara tidak langsung, seperti korupsi (transaksional), di mana pelaku mengutamakan kepentingan pribadi daripada publik.
2. Lingkungan yang Kompetitif
Dalam upaya mencapai kekuasaan tersebut, para aktor politik juga sering kali terjebak dalam persaingan ketat, yang mendorong mereka menghalalkan segala cara, termasuk menjelekkan atau menjatuhkan lawan politiknya.
3. Sistem yang Memungkinkan
Praktik politik di Indonesia juga kerap mengabaikan etika dan standar hukum yang kuat, sekaligus mudah dipengaruhi (misalnya mengubah aturan batas usia calon presiden/wapres agar anaknya bisa mencalonkan diri). Hal itu pastinya akan menumbuhkan budaya korupsi yang berkelanjutan dari generasi ke generasi.
4. Pencitraan
Tentu saja pejabat atau politisi tidak akan pernah 100% jujur atau terbuka kepada publik. Mereka lebih banyak menampilkan yang “manis-manisnya” saja ketika bertemu dengan masyarakat di sekitarnya.
Padahal di balik layar, disitulah kejahatan yang sebenarnya sedang terjadi, dimana semua permainan dan transaksi rahasia sedang berlangsung.
5. Ketidakpedulian Orang Baik
Penyair terkemuka awal abad ke-20 asal Jerman, Bertolt Brecht, pernah mengatakan bahwa ketika orang-orang baik membiarkan politik dikuasai oleh mereka yang tidak bertanggung jawab, maka ketimpangan dan kejahatan pasti akan muncul.
Selain itu, jika sistem “kejahatan” ini terus dibiarkan begitu saja, siapapun orang baik yang masuk di dalamnya, entah itu motivasinya untuk memperbaiki negara “dari dalam” sekalipun. Maka alih-alih dia masuk dan mampu memperbaiki kerusakan yang ada, justru malah dia yang ikut rusak (jahat), setelah berada di dalam sistem politik yang “jahat” tersebut.
Seperti yang dialami oleh Nadiem Makarim pada penjelasan sebelumnya.
***
Sejatinya politik tidak seburuk itu. Masih banyak orang-orang yang benar-benar baik, dan sanggup mempertahankan kebaikannya (integritas) setelah berada di dalam.
Hanya saja, dari pengalaman seorang CEO Gojek seperti Nadiem Makarim dan orang-orang lainnya yang memutuskan terjun ke politik dan kemudian berubah menjadi “orang jahat”, maka stigma yang selama ini melekat memang bukanlah isapan jempol belaka.
Jika Anda memang tertarik menjajaki karier di bidang politik, dan berjuang “dari dalam”, Anda harus berhati-hati, dan tetap berpegang teguh pada prinsip kebaikan Anda sejak lama.
Jika Anda terjun ke politik untuk menjadi kaya, maka niat Anda dari awal sudah keliru. Dan jika suatu ketika Anda malah tersangkut kasus korupsi sama seperti Nadiem dan politisi-politisi lainnya di luar sana, jangan heran jika Anda adalah orang berikutnya, yang jatuh ke lubang yang sama. (*)




