Mabur.co – Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mengungkap secara gamblang bagaimana pemerintah berusaha mengaburkan substansi kritik yang selama ini ditujukan kepada mereka, dan membalasnya dengan mengaburkan substansi, atau mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak berhubungan secara langsung dengan isi kritik yang disampaikan.
Berdasarkan pengamatan Bhima dan rekan-rekannya di CELIOS, hal itu sudah membuktikan bahwa kritik yang disampaikan itu memang benar (melalui berbagai riset yang telah dilakukan), namun karena pemerintah tidak mampu meng-counter substansi kritikan tersebut, akhirnya mereka hanya bisa membalas melalui serangan ke personal pengkritik, atau mengalihkannya ke pembahasan lain yang tidak berhubungan sama sekali.
“Yang mereka (pemerintah) lakukan, yang tidak suka dengan hasil riset, adalah menyerang ad hominem atau secara personal. Karena mereka tahu bahwa substansinya benar, sehingga tidak mungkin dibantah melalui kritik substansi, atau isi dari risetnya. Sehingga yang mereka kritik adalah yang menulis riset itu, dan lain sebagainya,” ungkap Bhima Yudhistira, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Fristian Griec Media, belum lama ini.
Selain itu, Bhima juga menemukan adanya respon kritik melalui benturan secara horizontal, yakni mengait-ngaitkan sesuatu yang sebenarnya hanyalah asumsi pribadi, namun dibenturkan sedemikian rupa, agar kritik substansi tersebut menjadi kabur, dan seterusnya.
“Dalam riset terkait MBG saja. Misalnya ketika kita mengkritik anggaran Rp 335 Trilyun ini seharusnya dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat, lalu kami melihat adanya komen-komen, yang beberapa diantaranya merupakan pegawai SPPG, mencoba membenturkan konflik secara horizontal, alih-alih struktural. Mereka bilang ‘bagaimana nasib kami kalau kita di-PHK atau MBG-nya ditutup?’ dan seterusnya semacam itu,” tambah Bhima.
Tidak hanya itu, setelah merilis beragam hasil riset yang berhubungan dengan kritik terhadap pemerintah, salah satunya terkait MBG, Bhima juga mengaku kerap mendapat ancaman teror, baik melalui media digital maupun penguntitan secara pribadi, yang sempat dialaminya pada Desember 2025 lalu.
Meski demikian, Bhima dan pihak CELIOS tidak akan mundur (berhenti melakukan riset yang mengkritik pemerintah). Mereka justru makin bersemangat melakukan riset-riset berikutnya di kemudian hari, untuk benar-benar mengungkap seluruh “permainan” yang terjadi di lingkungan pemerintahan, dan sebagainya. (*)




