Situs Adan-Adan dan Misteri Kerajaan Buddha yang Terkubur Kelud - Mabur.co

Situs Adan-Adan dan Misteri Kerajaan Buddha yang Terkubur Kelud

Bayangkan sebuah kerajaan yang membangun kompleks suci sebanding ukurannya dengan Borobudur. Lalu bayangkan ia menghilang, bukan karena perang, bukan karena penaklukan, melainkan ditelan oleh bumi sendiri, oleh abu dan lahar satu gunung berapi yang selama berabad-abad tak kenal ampun: Gunung Kelud.

Itulah yang selama ini terkubur di Dusun Candi, Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Terkubur di bawah kebun durian milik seorang warga biasa bernama H. Syamsudin.

Stone carved statue of a muscular mythic figure standing in a rectangular dirt pit, with jewelry and outstretched arms, weathered and partially buried in earth.
Situs yang ditemukan tampak masih utuh. Sumber: Istimewa

Terkubur di bawah 11 lapisan sedimen vulkanik yang mengisolasi bangunan megah itu dari peradaban sekitarnya selama berabad-abad. Terkubur dan nyaris terlupakan.

Situs Adan-Adan bukan berita kemarin. Para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (kemudian berganti menjadi BRIN) telah menggali, mengangkat, dan menimbun kembali artefak-artefak raksasa di sini sejak 2016.

Namun baru pada Mei 2026, ketika video ekskavasi 2022 beredar viral di media sosial, dunia mendadak gempar. Ada yang menyebutnya ‘lebih besar dari Borobudur’. Ada yang berteriak: ‘mengapa kita baru tahu sekarang?’

Pertanyaan itu bagus. Dan jawabannya lebih dalam dari yang diduga.

“Di bawah kebun durian itu, sesungguhnya tersimpan bukti bahwa Kediri bukan hanya kerajaan penyair, melainkan juga pembangun monumen.”

Pertama: Siapa yang Menemukannya?
Secara formal, situs ini ‘ditemukan’ pada tahun 2016 saat tim Puslit Arkenas melakukan ekskavasi pertama. Tapi kenyataannya, keberadaan batu-batu kuno di kawasan Gurah sudah diketahui jauh lebih lama.

Catatan kolonial Belanda dari tahun 1908 telah menyebutkan pengamatan awal terhadap situs ini. Bahkan pada dekade 1990-an, BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Trowulan sempat melakukan penggalian awal yang dipicu temuan makara di kawasan ini pada era 1970-an.

Ekskavasi era 1990-an itu dihentikan karena kejadian aneh: dasar batuan yang semula ada di kedalaman 3 meter tiba-tiba ‘amblas’ menjadi 5 meter. Ditambah cerita-cerita gaib yang beredar di masyarakat, penggalian pun tak dilanjutkan.

Warga setempat menjaga kemurnian lokasi ini dengan caranya sendiri, bahkan sebelum negara hadir dengan prosedur arkeologinya yang formal.

FAKTA DASAR SITUS

Nama resmi : Situs Adan-Adan (juga disebut Candi Gempur)
Lokasi : Dusun Candi, Desa Adan-Adan, Kec. Gurah, Kab. Kediri, Jawa Timur
Lahan asal : Kebun durian milik H. Syamsudin
Kedalaman awal : ±3 meter di bawah permukaan tanah
Lapisan vulkanik: 11–12 lapisan sedimen abu Gunung Kelud
Ekskavasi resmi : 2016, 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2022 (BRIN/Arkenas)
Titik ekskavasi : 48 kotak galian hingga 2026
Juru pelihara : Ikhwanil Kiram (putra H. Syamsudin)

Kedua: Apa yang Ditemukan?
Dalam tujuh gelombang ekskavasi dari 2016 hingga 2022, para arkeolog menemukan sesuatu yang semakin hari semakin memukau. Ini bukan candi kecil pedesaan.

Ini adalah kompleks percandian Buddha Mahayana berskala monumental, dan yang paling dramatis dari semua temuannya adalah sepasang makara.

Makara adalah sosok hewan mitologi penghias tangga candi, perpaduan antara gajah, buaya, dan ikan yang menjadi penanda kesakralan sebuah bangunan suci. Di Borobudur, makara-makaranya sudah dianggap megah.

Tetapi makara di Adan-Adan? Tingginya mencapai 2,3 meter, dibuat dari batu andesit, dipahat dengan detail luar biasa termasuk benang sari berujung kuncup bunga, dan ukurannya melampaui semua makara yang pernah ditemukan di Indonesia. Bahkan disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.

Biasanya ukuran makara berbanding lurus dengan besarnya candi yang ia jaga. Jika logika itu berlaku, maka candi induk yang belum sepenuhnya tergali ini bisa saja benar-benar raksasa.

INVENTARIS TEMUAN ARKEOLOGIS

  • Sepasang makara andesit setinggi ±2,3 meter (terbesar di Indonesia)
  • Arca Dwarapala hampir 2 meter, berdiri, bukan jengkeng (langka)
  • Kepala arca Bodhisattva (ditemukan 2019, kedalaman 280 cm), tinggi 48 cm, mahkota kiritamakuta, telinga panjang 15 cm
  • Fragmen Arca Dhyanibuddha Amitabha
  • Fragmen lapik arca
  • Fragmen pinakel/stupa
  • Kepala kala
  • Batuan fondasi candi (batu bata + selubung andesit)
  • Sistem pertirtaan (diduga embung/kolam ritual)
  • Pecahan keramik Tiongkok: Dinasti Song (abad ke-10), Song-Yuan (abad ke-12), Yuan (abad ke-13–14)
  • Pecahan mangkuk glasir putih kebiruan Dinasti Yuan
  • Pecahan keramik Belanda abad ke-17
  • Arca belum rampung dipahat (tanda pembangunan terhenti mendadak)

Ketiga: Seberapa Besar Sebenarnya?
Pertanyaan inilah yang membuat komunitas arkeologi dan warganet sama-sama bergolak. Jawabannya: belum ada yang tahu pasti, karena sebagian besar situs masih tertimbun di bawah lahan milik warga.

Yang sudah bisa diukur: struktur bangunan inti candi berukuran sekitar 21 meter lebarnya, dengan pola denah berlekuk segi 12 hingga 18, teknik arsitektur yang khas untuk candi-candi besar era Jawa Kuno. Ekskavasi 2021 juga mengungkap tiga sektor: sektor utama (bangunan candi induk), sektor timur laut (bangunan pendukung), dan sektor barat daya yang diduga merupakan pagar kedua kompleks.

Total kawasan yang diduga mengandung struktur arkeologis diprediksi sekitar 784–800 meter persegi. Sebagai perbandingan, luas itu menjadikan Adan-Adan sebagai kompleks candi Buddha terluas yang pernah ditemukan di Jawa Timur.

Apakah itu ‘lebih besar dari Borobudur’? Klaim ini perlu dikalibrasi secara serius. Borobudur memiliki alas berukuran 123 x 123 meter dengan total luas sekitar 15.129 meter persegi.

Adan-Adan belum mendekati angka itu, setidaknya berdasarkan data yang sudah tergali. Tapi klaim itu juga belum sepenuhnya bisa dipatahkan, mengingat banyak bagian yang masih tersembunyi.

KAJIAN ILMIAH

KLAIM: Situs Adan-Adan lebih besar dari Borobudur
STATUS: Belum terverifikasi, sebagian besar kompleks belum digali

YANG TERBUKTI:

  • Makara terbesar di Indonesia (terverifikasi)
  • Candi Buddha terluas di Jawa Timur (berdasarkan data ekskavasi 2016–2022)
  • Pola mandala dengan 48 titik ekskavasi terbuka

YANG BELUM JELAS:

  • Luas total kompleks sesungguhnya
  • Apakah ada vihara/bangunan pendamping di sekitarnya
  • Identitas spesifik siapa yang memerintahkan pembangunan ini

Keempat: Dari Era Mana, dan Siapa Rajanya?
Di sinilah kompleksitas akademis dimulai. Situs Adan-Adan tidak hadir dengan prasasti yang menyebutkan namanya langsung, sebuah frustrasi yang akrab bagi siapa saja yang menggeluti arkeologi Jawa Timur.

Namun dari analisis silang berbagai data, gambaran yang muncul cukup koheren. Gaya pahatan makaranya sangat mirip dengan Candi Kedaton di Muaro Jambi Sumatera, mengindikasikan hubungan antara tradisi seni Jawa Timur dan mandala Sriwijaya.

Keramik yang ditemukan mencakup tiga dinasti Tiongkok: Song (abad ke-10), Song-Yuan (abad ke-12), dan Yuan (abad ke-13–14). Stratigrafi tanah menunjukkan 12 lapisan, dengan abu vulkanik Gunung Kelud mulai muncul pada kedalaman sekitar 2 meter.

Kesimpulan yang paling kuat dari semua data ini: Situs Adan-Adan dibangun pada abad ke-11, di masa Kerajaan Kadiri. Beberapa sumber lebih berani, mengusulkan bahwa situs ini sudah ada sejak era Mataram Kuno, mungkin abad ke-9–10.

Dan di sinilah sudut pandang yang selama ini diabaikan perlu dimunculkan dengan keras.

TITIK BALIK

Selama ini, Kerajaan Kadiri (Panjalu) dikenal terutama sebagai ‘kerajaan sastra’, era Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Kakawin Bharatayudha, Arjunawiwaha.

Temuan Situs Adan-Adan memaksa kita untuk merevisi gambaran itu secara fundamental.

Kadiri bukan hanya kerajaan penyair. Ia juga kerajaan pembangun monumental, dengan kapasitas mobilisasi sumber daya dan keahlian seni yang setara dengan peradaban besar mana pun di Asia Tenggara pada zamannya.

Pertanyaannya sekarang: mengapa peninggalan arsitekturalnya jauh lebih sedikit dibanding Majapahit atau bahkan Singhasari? Jawabannya mungkin ada di lapisan abu vulkanik yang belum selesai kita gali.

Kelima: Hubungan dengan Prasasti Adan-Adan
Ada fakta menarik yang jarang disebutkan dalam pemberitaan viral: nama ‘Adan-Adan’ bukan hanya nama desa. Ia juga nama sebuah prasasti.

Prasasti Adan-Adan adalah dokumen 17 lempeng perunggu yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan aksara Kawi, bertarikh Sabtu Legi 1223 Saka atau 1301 Masehi, di masa pemerintahan Kertarajasa Jayawardhana, raja pertama Majapahit.

Prasasti ini ditemukan di Mayangrejo, Kabupaten Bojonegoro pada 2 Maret 1992, dan kini tersimpan di Museum Mpu Tantular Sidoarjo sebagai Benda Cagar Budaya tingkat provinsi.

Isinya adalah penetapan Desa Adan-Adan sebagai tanah sima, semacam tanah perdikan yang dibebaskan dari kewajiban pajak kerajaan.

Ini mengonfirmasi bahwa pada era Majapahit awal (1301 M), kawasan Adan-Adan sudah cukup penting secara administratif sehingga mendapatkan status khusus langsung dari raja.

Apakah prasasti ini secara langsung merujuk pada kompleks candi yang kini sedang digali? Belum ada konfirmasi akademis yang kuat.

Namun koinsidensinya sangat kuat untuk diabaikan: sebuah desa dengan candi Buddha monumental mendapat status sima di era Majapahit awal. Apakah raja baru itu sedang mengakui, atau bahkan melindungi, warisan agama dari era sebelumnya?

Keenam: Kelud yang Menghapus Sejarah
Di balik semua keajaiban yang tersimpan di Adan-Adan, ada sebuah tragedi geologi yang perlu dipahami. Gunung Kelud adalah salah satu gunung berapi paling aktif dan destruktif di Jawa. Setiap letusannya mengubur segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Stratigrafi Situs Adan-Adan mengungkap 11 hingga 12 lapisan sedimen. Ini berarti kawasan ini telah berkali-kali ditimpa abu dan material vulkanik Kelud sepanjang sejarahnya.

Ditemukannya puncak stupa yang terkubur sangat dalam mengindikasikan bahwa bangunan ini pernah roboh, kemungkinan besar akibat letusan. Dan yang paling mengharukan: ditemukannya arca-arca yang belum selesai dipahat, menandakan bahwa pembangunan kompleks ini terhenti secara mendadak.

Dalam sejarah Kerajaan Kadiri, letusan Gunung Kelud pada abad ke-12 adalah salah satu faktor yang diduga memperlemah pusat kekuasaan di lembah Brantas.

Jika demikian, Situs Adan-Adan adalah korban geologi sekaligus saksi bisu kehancuran sebuah era, terkubur jauh sebelum Singhasari dan Majapahit sempat menghancurkan Kadiri secara politis.

“Situs Adan-Adan bukan hanya kompleks candi. Ia adalah Pompeii-nya Kadiri, terkubur oleh abu gunung, bukan oleh lava politik.”

Ketujuh: Masalah yang Tidak Pernah Dibahas Media
Ada beberapa hal yang luput dari semua euforia viral ini, dan justru ini yang paling perlu kita diskusikan.

Pertama: sebagian besar artefak besar termasuk sepasang makara raksasa dan arca Dwarapala, setelah diangkat dan difoto, dikubur kembali. Bukan karena malas atau tidak peduli, tetapi karena tidak ada infrastruktur pelindung yang memadai.

Baru pada ekskavasi 2022 di bawah BRIN, artefak-artefak itu mulai dimunculkan secara permanen, dengan cungkup darurat dari terpal sambil menunggu pembangunan bangunan perlindungan yang layak.

Kedua: satu dari dua arca Dwarapala yang seharusnya berpasangan di situs ini sudah tidak ada. Ia telah ‘dipindahkan’ sejak masa pemerintahan kolonial Belanda dan kini berdiri dengan tenang di Museum Airlangga, Kota Kediri.

Ini bukan pencurian dalam pengertian hukum modern, tetapi ia adalah realitas warisan kolonial yang sangat konkret: benda yang diambil dari konteks arkeologisnya, dari pasangannya, dan dari tanah asalnya.

Ketiga: lahan tempat situs ini berada masih sebagian besar milik warga. Pengelolaan heritage spotting area yang hanya membuka 8 meter persegi untuk publik adalah kompromi pragmatis, namun seberapa lama kompromi itu bisa bertahan jika ekskavasi perlu diperluas ke lahan-lahan warga di sekitarnya?

BATAS KLAIM

Yang sudah terbukti dan aman dikutip:
✓ Makara terbesar di Indonesia (batu andesit, tinggi ±2,3 m)
✓ Candi Buddha dengan area terluas di Jawa Timur (versi data 2016–2022)
✓ Berlatar Buddha Mahayana (konfirmasi arca Amitabha + Bodhisattva)
✓ Dibangun sekitar abad ke-11 masa Kadiri (konfirmasi keramik Song)
✓ Arsitektur peralihan gaya Jawa Tengah ke Jawa Timur

Yang BELUM terbukti dan tidak boleh diklaim:
✗ ‘Lebih besar dari Borobudur’, luas total belum terukur
✗ Identitas raja pembangun (belum ada prasasti pendukung langsung)
✗ Hubungan langsung dengan Prasasti Adan-Adan 1301 M (hipotesis, bukan fakta)

Penutup: Apa yang Masih Menunggu di Bawah Tanah?

Dengan 48 titik ekskavasi yang sudah dibuka dan sebagian besar situs masih tersembunyi di bawah lahan warga, Situs Adan-Adan adalah salah satu frontier arkeologi terpenting Indonesia yang belum selesai dieksplorasi.

Para arkeolog masih berharap menemukan vihara atau bangunan monastik di dekat lokasi, sebuah hipotesis yang didorong oleh temuan sistem pertirtaan.

Jika vihara itu ditemukan, maka Adan-Adan bukan sekadar candi puja, tetapi sebuah pusat pendidikan dan kehidupan keagamaan Buddha Mahayana yang lengkap, semacam Muaro Jambi-nya Jawa Timur.

Dan mungkin di bawah lapisan abu Kelud yang belum tersentuh itu, masih ada inscripsi, arca, atau artefak yang bisa menjawab pertanyaan paling mendasar: siapa yang membangun semua ini? Untuk siapa? Dan mengapa ia dibiarkan runtuh, terkubur, dan terlupakan?

Kita tidak tahu jawabannya. Belum. Tapi kita tahu bahwa di bawah kebun durian H. Syamsudin di Gurah, Kediri, sejarah sedang bersabar menunggu untuk diceritakan kembali.

BIBLIOGRAFI & SUMBER PRIMER

Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional). 2019. ‘Temuan Terbaru Situs Candi Adan-Adan, Desa Adan-Adan, Kec. Gurah, Kab. Kediri, Jawa Timur.’ arkenas.kemdikbud.go.id, 18 Juli 2019.
Susetyo, Sukawati (BRIN/Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra). 2022. Laporan ekskavasi tahap kelima Situs Adan-Adan, 5–12 November 2022. Dikutip dari Kompas.id, 14 November 2022.
Antara News Jawa Timur. 2022. ‘Ekskavasi Situs Adan-Adan Kediri.’ jatim.antaranews.com, 12 November 2022.
Detik Jatim. 2026. ‘6 Fakta Candi Lebih Besar dari Borobudur Ditemukan di Kediri.’ detik.com, Mei 2026.
CNN Indonesia. 2026. ‘Megah! Mengungkap Fakta Situs Adan-Adan Kediri yang Saingi Borobudur.’ cnnindonesia.com, 8 Mei 2026.
Institut Nagarjuna. 2025. ‘Candi Adan-Adan: Situs Buddha Bermakara Terbesar.’ institutnagarjuna.id, 29 Desember 2025.
Detik Jatim Budaya. 2023. ’10 Prasasti Peninggalan Kerajaan yang Ditemukan di Jawa Timur.’ detik.com, 11 Oktober 2023.
Ikatan Bocah Kediri UM. 2021. ‘Mengenal Candi Adan-Adan Kediri, Wujud Penemuan Makara Terbesar di Indonesia.’ ikatanbocahkedirium.wordpress.com, 7 September 2021.

EMBAS | M. Basyir Zubair | Kotagede, Yogyakarta 15052026
Verifikasi data: semua klaim berbasis sumber terverifikasi dari BRIN, Arkenas, dan media arus utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *