Wuri Hantoro, Bicara dengan Karya Bukan Muka - Mabur.co

Wuri Hantoro, Bicara dengan Karya Bukan Muka

Biarkan karya saya yang bicara, Mas. Tak perlulah harus cari muka agar karya saya laku atau bisa dipajang dan dipamerkan. Saya mengalir saja dalam berkesenian.

Kata-kata itu terlihat sederhana tetapi menusuk kesadaran dan membuat tertegun. Sambil memandangi lukisan berukuran besar yang tengah dia selesaikan, saya coba cerna.

Rangkaian kata yang tak akan keluar tanpa proses persenyawaan dengan pengalaman hidup dan benturan permasalahan. Dari situ, saya mulai bisa memahami konstruk kalimatnya.

Sambil pura-pura mengamati lukisan berukuran besar seorang tokoh, Cheng Ho yang berdiri gagah tegak penuh wibawa dengan latar masuk dan interaksinya bangsa Tiongkok di Jawa, saya terus mendengar cerita Wuri Hantoro, pelukis realis asal Tamanmartani Kalasan Sleman.

Kita sedikit paham, Cheng Ho adalah seorang tokoh, jika kita baca narasi yang berkembang, termasuk generasi awal bagi proses Islamisasi tanah Jawa. Wuri memang sedang menyiapkan beberapa lukisan berkarakter sejarah termasuk masuknya Tiongkok ke Nusantara.

Menekuni seni lukis sejak SD, Wuri memang mempunyai kelebihan dalam membaca karakter tokoh. Sebuah pilihan, memang, dan itu dia asah terus dengan beragam latar dan skenario.

Lama dia melakukan riset sejarah sebelum bisa memberi tafsir dan mengekspresikannya ke dalam kanvas. Tak sungkan dia minta saran atau mengajak diskusi untuk menemukan fakta terkuat, tentang seorang tokoh atau peristiwa dalam sejarah, sebelum dia transformasikan ke dalam sebuah lukisan.

Dalam konteks itu kerja Wuri tak ubahnya seperti seorang sejarawan. Mencari tema atau tokoh, melakukan riset dan pendalaman, membuat rancangan (sketsa), lalu melakukan tafsir dengan menarasikan dalam bentuk lukisan atas apa yang telah berhasil dia kumpulkan dan simpulkan.

Tak mudah, jelas. Bukan serampangan, pasti. Perlu keberanian dalam mengeksplorasi imajinasi yang, kadang-kadang, beda dengan apa yang diyakini banyak orang. Sampai di titik itu, Wuri relatif berhasil dalam merekonstruksi tokoh sesuai apa yang dia kehendaki.

“Saya ini cuma wong ndeso, Mas. Mengalir saja menjalani hidup dan pekerjaan. Ndak diajak ya tak apa-apa, tidak meri atau iri, karena saya yakin tiap karya yang dibuat dengan kesungguhan akan membuka jalannya sendiri.”

Sederhana tapi memendam bara. Jika ada karya yang dia banggakan, satu di antaranya berjudul “Meramu Gending Nusantara”.

Woman in a hijab hands a 2022 calendar to a man in a blue polo, both smiling in front of a large framed painting with warm colors.
Wuri Hantoro di depan lukisan yang menjadi koleksi Museum Kepresidenan (Koleksi Wuri)

Lukisan berukuran besar itu kini terpajang di dinding Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Kompleks Istana Bogor. Dia, bahkan, diundang secara khusus ke Istana Negara untuk menerima penghargaan.

Terlihat, dia menerawang keluar membayangkan perjalanan hidup yang di antaranya diwarisi dari ayah (seniman tradisional) dan ibu seorang perias.

Hampir tiga jam, Kamis (14/5/2026) siang, saya ngobrol di bengkel kreatifnya di area Tamanan Pabrik Tamanmartani Kalasan.

Sebuah dusun yang kaya dengan narasi sejarah sejak periode Hindu sampai kolonial di mana pernah berdiri pabik gula Randugunting. Pada 1960-an keluarga saya tinggal di kawasan ini, sehingga seperti ada ikatan batin di antara kami.

Ada satu hal yang saya apresiasi dari seorang Wuri adalah komitmennya dalam menjaga dan memajukan kebudayaan di desanya.

Setahun sekali menggelar merti dusun sebagai upaya merawat kohesi sosial di antara warga sekaligus melestarikan tradisi peninggalan leluhur mereka. Seniman yang paham akan akar dan mampu mengelolanya menjadi potensi yang bermanfaat bagi warga masyarakat.

Kembali ke makna rangkaian kalimatnya di awal, Wuri memang pantang unjuk muka (menjilat) sekadar biar dikenal atau agar karyanya laku.

Baginya, karya yang dilandasi niat dan laku yang benar akan jauh lebih berdaya dan bergema. Termasuk, kepeduliannya pada nasib hidup teman-teman musisi dan seniman yang sering dia wujudkan saat satu atau dua karyanya laku terjual. ***

Ars longa, vita brevis, Wuri.

Ksatrian Sendaren, 14 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *