Keren! Muhammadiyah Cetak Hutan sebagai Pusat Ekologi, Edukasi, hingga Konservasi - Mabur.co

Keren! Muhammadiyah Cetak Hutan sebagai Pusat Ekologi, Edukasi, hingga Konservasi

Mabur.co – Organisasi Islam terkaya di Indonesia Muhammadiyah melakukan langkah nyata untuk berkontribusi menjaga kelestarian alam di tanah air. 

Hal itu dilakukan dengan mencetak hutan seluas 3000 meter persegi yang akan dikembangkan sebagai ruang hijau, pusat laboratorium ekologi, edukasi, hingga konservasi.

Dilansir situs resminya, Sabtu (16/5/2026) LHKP PP Muhammadiyah, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah menyatakan rencana pengembangan hutan berbasis wakaf itu akan dilakukan di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. 

Pada tahap awal rencana ini akan berjalan di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dengan berkolaborasi bersama Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN). Yakni sebagai bentuk penguatan pengelolaan lingkungan berbasis nilai Islam dan partisipasi masyarakat.

Aneka Fungsi Hutan Wakaf

Hutan wakaf ini dirancang tidak hanya sebagai ruang penghijauan, tetapi juga sebagai laboratorium ekologi, pusat edukasi, dan konservasi di atas tanah wakaf. 

Konsepnya mengadopsi model laboratorium hidup atau live lab, sehingga dapat dimanfaatkan mahasiswa, dosen lintas disiplin, hingga masyarakat umum untuk mempelajari ekologi, konservasi, agroforestri, dan pengelolaan lingkungan.

Selain itu, kawasan tersebut juga diarahkan menjadi arboretum atau tempat koleksi pohon yang berfokus pada konservasi tanaman endemik serta menjaga stabilitas iklim mikro di lingkungan kampus.

Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Ridho Alhamdi, menegaskan bahwa program Hutan Wakaf Muhammadiyah menjadi alternatif pengelolaan lahan yang berlandaskan nilai Islam sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat.

Menurutnya, program ini dikembangkan melalui tiga model utama. Mulai dari pengelolaan hutan berbasis nilai Islam. Konservasi berbasis pertanian produktif berbasis masyarakat. Hingga ruang pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan lingkungan.

“Program ini diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan lahan yang berkelanjutan, baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun ekologis,” jelas Ridho.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LATIN, Thomas Oni Veriasa, menilai penting upaya semacam ini, tidak hanya untuk menjaga lingkungan semata, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta masyarakat sekitar.

“Program ini menunjukkan bagaimana sumber daya lahan bisa dikelola secara berkeadilan dan produktif, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Dari sisi ekologis, hutan wakaf memiliki fungsi penting dalam menjaga iklim mikro, melestarikan keanekaragaman hayati, serta melakukan konservasi air. Program ini juga diakui dalam kerangka hukum wakaf nasional sehingga memiliki dasar regulasi yang kuat.

Terlebih selama ini kebijakan terkait perhutanan sosial sering kali terlalu berorientasi pada nilai ekonomi namun kurang memperhatikan aspek konservasi, agama, serta budaya.

Rektor UNIMUS, Masrukhi, mengapresiasi gagasan tersebut sebagai sebuah terobosan penting dalam pengelolaan lingkungan kampus.

Menurutnya, menanam pohon bukan sekadar upaya penghijauan, tetapi juga simbol menanam harapan bagi kehidupan di masa depan.

“Udara yang kita hirup adalah produk dari tanah, artinya ketika kita menanam, kita sedang menaruh harapan untuk kehidupan yang akan datang. UNIMUS sangat peduli lingkungan dengan mengusung motto eduwisata, sehingga program hutan wakaf ini menjadi sebuah harapan yang sangat baik,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *