Mabur.co – Yogyakarta dikenal sebagai salah satu daerah penghasil talenta-talenta balap terbaik yang dimiliki Indonesia sampai saat ini.
Mulai dari Doni Tata Pradita (Sleman) di era 2000-an, Galang Hendra Pratama (Bantul) di era 2010-an dan kini berkiprah di level Asia, lalu adik kandungnya Aldi Satya Mahendra (Bantul) yang pernah menjadi juara dunia World Supersport 300 tahun 2024, dan kini berkiprah di ajang World Supersport dengan raihan dua podium sejauh ini.
Kemudian Veda Ega Pratama (Gunungkidul) yang menjadi runner-up ajang Red Bull Rookies Cup 2025, kini berkompetisi di ajang Moto3 World Championship, dan berhasil meraih dua podium pada setengah musim pertama di kejuaraan dunia.
Serta Muhammad Kiandra Ramadhipa (Sleman) yang berkompetisi di dua ajang, yakni Red Bull Rookies Cup 2026, dan Moto Junior GP 2026, di mana ia telah berhasil meraih tiga kemenangan di dua kelas tersebut (2 di Red Bull Rookies dan 1 di Moto Junior).
Jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang pernah mengirimkan wakilnya dan mampu menembus level dunia, Yogyakarta bisa dipastikan menjadi yang terdepan.

Karena nama-nama baru dari Yogyakarta terus bermunculan dari tahun ke tahun, sementara nama-nama dari daerah lain masih belum kelihatan eksistensinya sampai sejauh ini, minimal untuk bisa bersaing di level dunia.
Yogya Belum Punya Sirkuit Layak
Sayangnya hingga saat ini, Yogyakarta masih belum memiliki sirkuit yang bisa dikatakan layak, entah itu sebagai sirkuit latihan, apalagi sirkuit yang menjadi lokasi balapan layaknya sirkuit Mandalika, yang berlokasi di Lombok, NTB.
Bahkan selama ini, atlet-atlet balap DIY seperti Veda Ega dan Aldi Satya, lebih banyak menggunakan fasilitas seadanya seperti lapangan parkir, yang tersedia di Stadion Mandala Krida (Kota Yogyakarta), dan halaman parkir Pasar Hewan Siyono di Logandeng, Kapanewon Playen, Gunungkidul, untuk mengasah skill dan berlatih mempersiapkan diri jelang balapan di Eropa.
Meskipun fasilitas seadanya ini telah membawa mereka menembus level dunia bahkan menjadi seorang juara, namun tidak bisa dipungkiri, lapangan parkir stadion dan pasar hewan bukanlah tempat yang layak untuk dijadikan sarana latihan, apalagi jika levelnya internasional.
Namun bagi Komisaris Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), RM Gustilantika Marrel Suryokusumo, Indonesia memang masih sulit membangun sirkuit-sirkuit di tiap daerah layaknya di Spanyol.
Apalagi pembangunan dan pengelolaan tiap sirkuit juga memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi jika minim event yang diselenggarakan di lokasi tersebut.
Meskipun pihaknya (Injourney) tidak menutup kemungkinan akan membangun sirkuit baru di Yogyakarta di masa depan, namun ia meminta agar penggunaan sirkuit Mandalika yang berlokasi di Lombok, NTB, bisa lebih dimaksimalkan untuk saat ini.
Mengingat sirkuit yang dibuka sejak 2021 ini juga masih tergolong minim event, dan lebih banyak digunakan oleh kalangan pencinta motor sport saja (seperti track day dan semacamnya).
“Sampai saat ini kami masih terus mengupayakan agar sirkuit Mandalika bisa benar-benar jadi permata sirkuit di Indonesia. Apalagi kayak Mario dan Veda ini kan lahirnya (sebagai pembalap kelas dunia) juga karena berprestasi di sirkuit Mandalika. Jadi harapannya supaya penggunaan sirkuit bisa lebih dioptimalkan lagi,” ungkap Marrel, saat ditemui dalam acara Meet and Greet Mario Aji dan Veda Ega Pratama, yang berlangsung di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, beberapa waktu lalu.
Perlu Studi dan Uji Kelayakan
Lebih lanjut, Marrel merasa pembangunan sirkuit baru seperti di Yogyakarta memerlukan studi dan uji kelayakan lokasi yang memakan waktu cukup lama, sehingga tidak bisa asal bikin begitu saja.
“(Untuk membuat sirkuit baru di Yogyakarta) memang harus studi ya, samalah kalau di bola itu ada semacam GOR bola, begitu. Jadi kayak tempat latihan aja dulu. Karena untuk membuat sirkuit itu juga sama sekali tidak mudah. Engggak banyak juga loh pengelolaan sirkuit yang masih terus berjalan di negara-negara lain. Singapura saja dia nggak bikin sirkuit, tapi memanfaatkan jalanan yang ada, Malaysia juga kemarin goyang (pengelolaannya) di sirkuit Sepang. Sehingga hal-hal semacam ini pastinya memerlukan perhatian khusus dari semua pihak,” tambah Marrel.
Marrel meyakini, ketika penggunaan sirkuit utama yakni Mandalika bisa lebih dimaksimalkan lagi untuk lebih banyak event secara kontinyu (tidak hanya MotoGP), maka daerah-daerah tertentu (seperti Yogyakarta) bisa menyusul untuk membangun sirkuitnya sendiri di kemudian hari.
Karena menurut Marrel, yang terpenting saat ini bukanlah tentang pengadaan lokasi sirkuitnya, melainkan tentang pertumbuhan ekosistem motorsport atau balap yang lebih sustainable, agar pembangunan sirkuit di manapun itu tidak hanya menjadi agenda yang membuang-buang anggaran.
Melainkan benar-benar sesuai (dengan tujuan awal) dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar, termasuk sebagai sarana latihan bagi para pembalap yang berasal dari daerah tersebut. (*)
