Pameran ‘Art Jewellery Fashion Show’, Perhiasan Bukan Sekadar Asesoris Berkilau - Mabur.co

Pameran ‘Art Jewellery Fashion Show’, Perhiasan Bukan Sekadar Asesoris Berkilau

Mabur.co- Tubuh manusia bukan hanya wadah. Ia adalah panggung, kanvas, dan narasi hidup yang terus bergerak.

Pameran ‘Art Jewellery Fashion Show’ mengajak melihat perhiasan bukan sekadar asesoris penambah kilau, tetapi sebagai bahasa seni yang dikenakan.

Seperti terlihat dalam kemeriahan di area Plaza FSRD, kompleks kampus ISI Yogyakarta, Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul.

Sebanyak enam puluh empat mahasiswa Seni Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, memamerkan laporan tugas akhir dengan menampilkan karyanya di depan para dosen penguji.

Dosen pengampu mata kuliah perhiasan, Dr. Alvi Lufiani, mengatakan, kegiatan ini merupakan ujian akhir semester mata kuliah perhiasan yang ada di Prodi S1 Kriya.

Jauh sebelumnya mahasiswa telah diminta untuk mengajukan proposal karya, hingga peragaan busana dan ornamen untuk dipertunjukkan dalam pameran ‘Art Jewellery Fashion Show’.

“Untuk parameter penilaian ada beberapa kriteria, kerapian, kesesuaian tema yang diajukan, dan selesai atau tidaknya karya tersebut. Jadi mau sebagus apa pun desain atau konsepnya, tapi kalau karya tersebut tidak jadi, percuma. Finishing touch ada, harus sampai selesai,” jelasnya, saat ditemui usai acara, Sabtu (16/5/2026).

Aneka Motif Perhiasan Nusantara

Dr. Alvi Lutfiani juga melihat bagaimana mahasiswa angkatan 2023 tersebut berdialog dengan tradisi berupa perhiasan Nusantara. Tanpa terjebak nostalgia.

Motif batik, ukiran kayu, dan teknik filigri dipadukan dengan 3D printing, teknik solde pada kulit nabati, dan perpaduan limbah keramik. Semuanya menjadi satu bentuk kesatuan dan keselarasan karya perhiasan.

“Kemudian yang perlu kita nilai juga kedisiplinan, maksudnya dalam menyerahkan tugas akhir, tidak ujug-ujug (mendadak) menyerahkan tugas di waktu akhir. Yang bagus mahasiswa itu rajin konsultasi dan diskusi ke dosen,” ujarnya.

Salah satu pengunjung, Otto Herum Marwoto, mengatakan, setiap karya lahir dari proses riset material dan identitas.

Ada yang mengangkat kerisauan ekologis dengan mendaur ulang pecahan-pecahan keramik menjadi kalung monumental.

“Ada juga yang membedah simbol tradisi Jawa melalui motif gunungan yang dibentuk ulang dalam lembaran kulit nabati. Di sini, perhiasan menjadi medium untuk bersuara,” katanya.

Otto Herum Marwoto mengatakan bahwa fashion show yang menjadi bagian dari pameran ini bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah eksperimen.

“Gerak model, irama cahaya, dan suara menjadi elemen kuratorial yang mengaktifkan karya. Kalung setinggi 50 cm yang terasa berat di leher, bros yang hanya bisa dibaca saat tubuh berputar, gelang yang berbunyi saat lengan diangkat, semua dirancang untuk menciptakan pengalaman multisensor,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa semester 6, Jekonia Eliana Amabel Karnadi, mengatakan, dalam penyusunan tugas akhir semesternya ini, ia mengajukan tema biota laut.

Inspirasi tersebut datang karena melihat pemandangan kehidupan di laut yang tampak cantik dan indah. Terumbu karang dan banyak biota laut lainnya sangat menarik baginya untuk dituangkan dalam wujud perhiasan.

“Pandangan kemanusiaan dari sisi rasa kita sebagai manusia, memotivasi kita untuk mencoba menjaga kelangsungan kehidupan laut, supaya keindahannya tetap terjaga,” pungkasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *