Jadah Tempe Kuliner Khas Sleman, Camilan Favorit Sri Sultan HB IX - Mabur.co

Jadah Tempe Kuliner Khas Sleman, Camilan Favorit Sri Sultan HB IX

Mabur.co – Tak lengkap rasanya jika berlibur ke Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tanpa membeli Jadah Tempe.

Jadah Tempe memang menjadi salah satu kuliner tradisional yang telah dikenal dan menjadi oleh-oleh khas Kabupaten Sleman sejak lama. 

Makanan ini banyak ditemukan dan dijual masyarakat wilayah utara Kabupaten Sleman yang berada di lereng Gunung Merapi, seperti kawasan Kaliurang.

Jadah Tempe yang kerap dijuluki “Burger Jawa”  sendiri merupakan makanan yang terdiri dari dua bagian utama, yaitu jadah dan tempe bacem. 

Jadah dibuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan dan sedikit garam hingga menghasilkan tekstur kenyal dan gurih. 

Sementara tempe bacem merupakan produk olahan dari bahan dasar tempe yang dimasak menggunakan bumbu tradisional seperti bawang putih, ketumbar, gula merah, dan daun salam. 

Jadah Tempe biasa dinikmati dengan cara dimakan secara sekaligus, sehingga menghasilkan cita-rasa perpaduan gurih dari jadah serta manis dari tempe bacem.

Kuliner satu ini sangat cocok dimakan di daerah dingin seperti Kaliurang karena cukup mengenyangkan di perut. 

Biasanya jadah tempe kerap dinikmati baik di waktu pagi ataupun sore hari sambil menyeruput secangkir teh hangat manis.

Siapa sangka, di balik kesederhanaannya itu ternyata Jadah Tempe menyimpan sejarah dan filosofi mendalam. 

Menurut Bejo, yang merupakan anak dari Mbah Carik (Sastro Dinomo) yang pertama kali memperkenalkan jadah tempe di kawasan Kaliurang, ada cerita menarik tentang Jadah Tempe. 

Dikutip dari akun Instagram resmi Dinas Pariwisata Sleman, Sabtu (16/5/2026), konon jadah tempe ini diciptakan pertama kali di masa perang Pangeran Diponegoro sekitar tahun 1825-an. Saat itu jadah tempe dianggap sebagai makanan perjuangan.

Tempe bacem yang berwarna cokelat kemerahan dipadu dengan jadah berwarna putih menggambarkan warna merah putih bendera Majapahit.

Dimana warna putih pada jadah melambangkan kesucian, ketulusan, serta semangat rakyat dalam menjaga persatuan.

Sementara itu, tempe bacem dengan warna kemerahan dipercaya menjadi simbol keberanian dan semangat perjuangan rakyat.

Saat itu, makanan ini kerap menjadi bekal bagi para pejuang dan masyarakat karena mudah dibuat, mengenyangkan, serta menggunakan bahan yang banyak tersedia. 

Kombinasi warna putih dari jadah dan merah kecokelatan dari tempe bacem kemudian dimaknai sebagai simbol merah putih, lambang keberanian dan kesucian perjuangan rakyat.

Selain sebagai makanan perjuangan, jadah tempe juga memiliki filosofi tentang kebersamaan. Jadah yang lengket melambangkan eratnya hubungan antarmasyarakat dan pentingnya persatuan dalam menghadapi kesulitan. 

Sementara tempe bacem menggambarkan kesederhanaan hidup masyarakat Jawa yang tetap kaya rasa dan nilai budaya.

Hingga kini, jadah tempe tetap menjadi bagian penting dari identitas kuliner kabupaten Sleman. Jadah Tempe yang merupakan camilan favorit Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini bahkan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Daerah Istimewa Yogyakarta. *** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *