Mabur.co – “Curhatan” Presiden Prabowo Subianto dalam pidato terbarunya kembali menuai reaksi keras dari sejumlah pihak.
Saat hadir dalam peresmian Museum Ibu Marsinah (aktivis Buruh) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo mengutarakan bahwa kenaikan mata uang Rupiah terhadap Dolar tidak perlu dirisaukan masyarakat, lantaran mereka (khususnya yang tinggal di desa) tidak memakai mata uang Dolar dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Ucapan Salah Besar
Namun menurut ekonom, Ferry Latuhihin, ucapan Prabowo tersebut salah besar serta tidak masuk akal.
Meskipun orang desa memang tidak memakai Dolar untuk bertransaksi, namun harga-harga kebutuhan sehari-hari sangat bergantung dari nilai tukar Dolar Amerika, sebagai mata uang acuan terhadap seluruh harga komoditas dan produksi di seluruh dunia.
“Kalau Dolar naik, semua orang kena, Pak (Prabowo), bukan cuma orang desa aja, orang utan aja juga kena. Impor BBM aja kita (Indonesia) masih pakai Dolar. Emang produksi nggak pakai minyak? Itu akan dipasok ke harga konsumen akhir. Emangnya orang desa nggak pakai tuh minyak goreng (untuk masak dan lain-lain)? Mereka kan juga pakai, Pak,” ucap Ferry Latuhihin, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Hendri Satrio Official, Minggu (17/5/2026).
Bahkan menurut Ferry, orang-orang desa juga tidak mampu memakai mata uang Rupiah, akibat dari sulitnya mencari pekerjaan, dan maraknya kasus korupsi di mana-mana sejak puluhan tahun silam.
“Mereka (orang desa) memang tidak pegang Dolar, pegang Rupiah aja masih kadang-kadang kok, namanya juga orang desa. Nggak punya income apa-apa. Tapi kalau bapak bilang orang desa tidak pegang Dolar dan tidak menjadi korban daripada Dolar, bapak salah!” tambah Ferry.
Ferry juga berani mengatakan bahwa Prabowo telah dibohongi oleh bawahannya sendiri, yang sering disebut sebagai “penjilat”, dan hanya ingin menyenangkan hati Presiden, alias menerapkan prinsip ABS (Asal Bapak Senang). (*)




