Kondisi perkebunan kakao nasional menghadapi berbagai tantangan dalam satu dekade terakhir. Sejumlah laporan Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun luas areal kakao Indonesia masih relatif besar, sebagian kebun mengalami penurunan produktivitas akibat tanaman yang menua serta minimnya program peremajaan.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat tren penurunan produksi kakao nasional sejak 2015, dengan produktivitas rata-rata berkisar pada 500–700 kg per hektar per tahun. Angka ini masih jauh di bawah negara produsen utama seperti Ghana, yang mampu mencapai produktivitas 800–1.000 kg per hektare.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan produktivitas kakao nasional rata-rata hanya sekitar 700 kilogram per hektar per tahun. Kendala terbesar di lapangan adalah produktivitas yang rendah, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan hama dan penyakit.
Hama dan penyakit seperti penggerek buah kakao (PBK) serta penyakit vascular streak dieback (VSD) menjadi faktor utama penurunan hasil. Menurutnya, PBK merusak buah secara langsung, sementara VSD menyebabkan kematian bertahap pada batang dan daun. Dua masalah ini sangat signifikan menekan produksi, Saat ini, berbagai pendekatan pengendalian, termasuk penggunaan fungisida hayati dan insektisida hayati, tengah diuji untuk menekan kerusakan tanaman secara lebih berkelanjutan.
Pengendalian hama dan penyakit tidak akan optimal tanpa didukung oleh penggunaan bibit kakao unggul. Salah satu akar persoalan produktivitas kakao nasional adalah masih luasnya penggunaan bibit asalan yang tidak terstandar, baik dari sisi potensi hasil maupun ketahanannya terhadap penyakit.
Bibit kakao unggul tidak hanya berperan dalam meningkatkan produktivitas, tetapi juga menentukan keseragaman tanaman, umur mulai berbuah, serta stabilitas hasil dalam jangka panjang. Selain itu, varietas unggul yang memiliki toleransi lebih baik terhadap PBK dan VSD dapat menurunkan risiko kegagalan panen sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia.
Persoalan bibit berkaitan erat dengan kualitas pascapanen dan mutu biji kakao. Varietas yang berbeda akan menghasilkan karakter biji yang berbeda pula, termasuk dari sisi ukuran biji, kandungan lemak, serta potensi pembentukan cita rasa setelah fermentasi. Karena itu, pemilihan bibit unggul menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar global. Persoalan tersebut tidak hanya terjadi di perkebunan rakyat, tetapi juga di perkebunan skala besar ketika manajemen dan peremajaan tanaman tidak berjalan optimal.
Banyak kebun tua yang belum diremajakan dengan bibit unggul sehingga produktivitas tetap rendah, meskipun dikelola secara professional Kondisi di Indonesia kini tertinggal dari negara produsen utama seperti Ghana dan Pantai Gading, yang mampu menjaga mutu dan konsistensi pasokan dalam skala besar. Banyak industri pengolahan internasional lebih memilih bahan baku dari Afrika karena kualitasnya lebih stabil dan harganya lebih kompetitif.
Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi kualitas dalam volume besar. Sebagian besar kakao Indonesia masih dipasarkan dalam kondisi belum difermentasi (unfermented beans). Praktik tersebut menyebabkan mutu biji kakao sangat bervariasi, terutama dari sisi keasaman, cita rasa, dan profil prekursor aroma, yang sering kali tidak sesuai dengan spesifikasi industri pengolahan. Akibatnya, kualitas kakao yang beredar di pasaran kerap tidak konsisten, baik antarwilayah maupun antarpetani, sehingga menyulitkan upaya menjaga mutu yang seragam dalam skala besar dan berkelanjutan.



