Timnas Indonesia Memang Belum Saatnya Lolos ke Piala Dunia

Kegagalan timnas Indonesia menuju ke panggung Piala Dunia 2026 sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan. Karena tidak ada yang pernah memprediksi Indonesia bakal melaju sampai ke babak utama pesta sepakbola dunia.

Namun yang bikin miris adalah, ketika Indonesia sudah tinggal selangkah lagi menuju kesana, tapi harus gagal akibat permainan federasi Asia (AFC) serta ketidaksabaran federasi lokal (PSSI) yang terlihat jelas hanya ingin hasil secara instan.

Tercatat ada 17 pemain baru timnas yang bergabung dari berbagai negara (terutama Belanda) selama periode Kualifikasi Piala Dunia 2026. Mulai dari Jordi Amat, Sandy Walsh, Marc Klok, hingga yang terakhir adalah Milliano Jonathan dan Mauro Zijlstra.

Harus diakui, kehadiran pemain-pemain naturalisasi ini sanggup memperbaiki penampilan timnas Indonesia, dari yang sebelumnya selalu mengandalkan bola-bola atas, kini menjadi lebih terorganisir dengan umpan-umpan pendek yang lebih akurat. Alhasil, timnas Indonesia berhasil mencetak sejarah dengan menembus Round 3 Kualifikasi Piala Dunia untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Memecat Pelatih di Tengah Jalan

Memasuki tahun 2025, entah apa yang dipikirkan oleh Federasi (PSSI), baik itu Ketua Umum Erick Thohir beserta jajarannya, tiba-tiba saja mereka mengganti pelatih yang telah berjasa mengantarkan Indonesia sampai ke titik ini, yakni Shin Tae-Yong.

Seketika PSSI langsung menunjuk legenda timnas Belanda, Patrick Kluivert, untuk menangani timnas Indonesia, dengan target utama tentu saja lolos ke Piala Dunia 2026. Target yang sebelumnya tidak pernah tersirat sedikitpun saat pertama kali memulai petualangan di Round 1 bersama Shin Tae-Yong.

Mengganti pelatih beserta jajarannya sama saja dengan memulai lagi dari awal. Padahal progress-nya sudah cukup baik sampai saat itu.

Dan benar saja, pertandingan pertama timnas Indonesia di bawah Patrick Kluivert langsung mengecewakan, setelah digasak 5-1 oleh tuan rumah Australia di pertandingan ke-7 Round 3 pada pertengah Maret 2025. Hasil itu otomatis mengubur peluang Indonesia untuk menempati posisi 2 besar, karena jarak poin sudah semakin jauh dengan Australia.

Meskipun akhirnya lolos ke Round 4 karena menempati posisi 4 di klasemen akhir grup C, tetap saja kekecewaan karena pergantian pelatih masih membekas di benak seluruh pecinta sepakbola Indonesia, akibat ulah ketidaksabaran PSSI menjalani proses yang masih berlangsung dan sedang on the track.

Semakin Ambisius dan Tidak Tahu Diri

Pada awalnya pelatih Shin Tae-Yong tidak pernah diberi target untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Namun ketika tujuan itu semakin dekat, PSSI semakin kelihatan watak aslinya yakni tidak sabaran.

Mengganti pelatih di tengah jalan, menambah pemain naturalisasi (diaspora) sebanyak-banyaknya, sudah menjadi budaya federasi sejak Round 2. Mereka sebenarnya sudah mengakui bahwa amunisi yang tersedia sudah tidak lagi mumpuni untuk melanjutkan perjuangan di Kualifikasi Piala Dunia.

Sekilas memang proyek naturalisasi besar-besaran sekaligus pergantian pelatih ini tampak membuahkan hasil, karena Indonesia sukses melangkah jauh hingga ke Round 4 untuk pertama kalinya. Namun ternyata itu masih belum cukup. Tujuh belas pemain diaspora baru sejak Round 1 masih tidak mampu membawa Indonesia sampai ke kompetisi level tertinggi di dunia sepakbola.

Pelajaran terpenting yang didapat dari serangkaian peristiwa ini adalah, segala sesuatu memang tidak ada yang instan, dan semuanya butuh proses (dengan rentang waktu yang terukur). Kejadian di Kualifikasi Piala Dunia 2026 ini memang begitu bersejarah bagi Indonesia, namun jika masih saja gagal menuju ke tujuan akhir, artinya memang level kita belumlah sampai disana, apalagi jika memaksakan diri dengan program naturalisasi secara jor-joran serta mengganti jajaran pelatih, padahal kualitasnya saja belum begitu teruji.

Lebih Terlihat Seperti “Timnas Belanda (Cabang)”

Jika anda perhatikan dengan seksama, khususnya pada Round 3 dan 4 perjalanan timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026, selalu muncul wajah-wajah baru di setiap FIFA Matchday. Meskipun sudah dipastikan pemain-pemain ini adalah keturunan Indonesia, namun tetap saja, jiwa bule mereka, alias kebiasaan ala eropa atau Belanda, masih tetap mengakar kuat.

Ya, mereka tetaplah “orang asing” yang kemudian memilih menjadi WNI berkat hubungan keluarga mereka yang memiliki koneksi dengan Indonesia. Di saat yang sama, para pemain yang dinaturalisasi ini juga tidak mendapat tempat di tim nasional Belanda, negara asal mereka. Sehingga mau tidak mau mereka harus memilih negara lain sebagai perwakilan tim nasional mereka.

Dalam beberapa pertandingan, terlihat jelas bahwa pemain-pemain naturalisasi ini semakin mendominasi pemanggilan pemain dan juga starting line-up. Bahkan timnas ini lebih terlihat seperti timnas “Belanda (cabang)” ketimbang timnas Indonesia asli.

Jika dilihat ke belakang, saat pertama kali melakoni Kualifikasi Piala Dunia (Round 1), masih ada 21 pemain lokal asli Indonesia, dan hanya lima pemain naturalisasi pada saat itu. Pelan-pelan pemain-pemain lokal ini mulai tersisihkan, dan digantikan oleh pemain-pemain Belanda yang bermain di klub-klub eropa yang tentu saja memiliki level yang lebih tinggi.

Sampai Round ke-4 kemarin, hanya ada Rizky Ridho, Yacob/Yance Sayuri, serta Ricky Kambuaya, pemain lokal yang masih dipercaya untuk membela timnas, sekaligus bermain sejak menit pertama. Artinya selain nama-nama tadi, praktis semuanya sudah tersisihkan, termasuk pemain-pemain langganan Shin Tae-Yong seperti Marselino Ferdinan, Witan Sulaeman, Pratama Arhan, Asnawi, dan sebagainya.

Bisakah anda membayangkan, jika untuk mencapai Round 4 saja sudah mengganti begitu banyak pemain dari eropa, apakah yang akan terjadi jika ternyata Indonesia berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2026?

PSSI pasti akan berpikir bahwa program naturalisasi ini berjalan dengan sukses, sehingga untuk menghadapi turnamen yang sesungguhnya, mereka perlu menambah amunisi baru lagi (yang tentu saja berasal dari Belanda/Eropa). Maka secara tidak langsung program ini akan semakin membunuh talenta terbaik lokal, dan menggantikannya dengan full skuad naturalisasi untuk Piala Dunia 2026.

Apakah seperti itu cara PSSI membina sepakbola Indonesia? Mau sampai kapan program naturalisasi ini terus dijalankan? Padahal ada begitu banyak talenta lokal yang justru disia-siakan begitu saja.

Level sepakbola kita memang masih terlalu jauh, jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lain seperti Jepang, Korea, maupun Australia. Memperbanyak naturalisasi rupanya masih belum benar-benar cukup untuk menyetarakan level permainan timnas kita. Karena pada akhirnya, semakin banyak pemain baru berdatangan, maka semakin lama juga waktu adaptasi yang dibutuhkan, untuk bisa membentuk pola permainan terbaik yang diinginkan.

Naturalisasi bukanlah proyek sim salabim yang membuat Indonesia langsung menjadi Macan Asia atau semacamnya.

Satu hal lainnya yang lebih menyakitkan, ketika kita selalu berharap punya pemain naturalisasi yang bermain di Liga top eropa, ternyata satu per satu dari mereka malah terlempar dari kompetisi eropa, dan justru merapat ke Asia (termasuk Indonesia), seperti Shayne Pattinama, Sandy Walsh yang kini bermain di Thailand, serta Thom Haye, Eliano Reijnders, Rafael Struick dan Jens Raven yang akhirnya bermain di Super League Liga Indonesia.

Lebih Baik Tidak Lolos (Sekarang)

Sebenarnya ada bagusnya juga timnas Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 ini. Karena dengan begitu, orang-orang federasi menjadi tersadar, bahwa proyek naturalisasi mereka tidak sepenuhnya berhasil, dan masih ada masalah lain yang perlu diselesaikan, termasuk di dalam internal mereka sendiri.

Mulai dari sistem kompetisi (terutama Liga), pembinaan dari bawah (grassroot) yang tentu saja berasal dari talenta lokal, serta yang tidak kalah penting adalah perbaikan sarana dan fasilitas penunjang untuk berlatih, semuanya masih perlu mendapat perhatian serius dari PSSI maupun Pemerintah, agar perbaikan sepakbola ini bisa dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sekedar lolos ke Piala Dunia. Itupun (kalau lolos) hanya diwujudkan melalui 80% pemain-pemain asal Belanda.

Sehingga apa yang akan kita saksikan bukan hanya timnas yang semakin kuat (tanpa naturalisasi), tapi juga pembinaan yang berjenjang dan stabil (tanpa curi umur dan semacamnya), kompetisi Liga yang terstruktur dan kompetitif, serta tentu saja memperbesar kemungkinan untuk lolos ke Piala Dunia. Karena lolos ke Piala Dunia bukanlah akhir, tapi merupakan rangkaian dari seluruh proses perbaikan yang berjenjang dari seluruh sektor yang terlibat.

Selain itu, pertumbuhan industri sepakbola juga akan tumbuh menjadi lebih baik, sehingga setiap orang yang terlibat di sepakbola juga akan merasakan manfaatnya, termasuk manfaat ekonomi.

Buat apa jika misalnya sanggup lolos ke Piala Dunia 2026, tapi 80% pemainnya malah berasal dari Belanda, sementara kompetisi Liga dan fasilitas pendukungnya saja masih amburadul seperti sekarang?

Untungnya banyak pihak sudah mulai berbenah, dan menyadari bahwa naturalisasi bukanlah jalan terbaik untuk menggapai mimpi besar lolos ke Piala Dunia. Karena masih banyak PR besar lainnya yang perlu diselesaikan, bukan hanya mencari puluhan hingga ratusan pemain dari eropa untuk bersedia membela merah putih, yang kemudian mendadak jadi artis idola di tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *