Mabur.co – Sebanyak 45 guru Geografi dari Sleman dan Gunungkidul mengikuti Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digelar tim dosen Pendidikan Geografi pada Rabu (20/5/2026).
Rilis yang diterima mabur.co menyebutkan, kegiatan lapangan tersebut membawa para peserta menyusuri sejumlah kawasan geowisata di Kabupaten Gunungkidul, mulai dari Bukit Nglanggeran, Gua Ngingrong hingga kawasan Semilir.
Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Suhadi Purwantara, M.Si dan Dr. Nursida Arif, S.T., M.Sc bersama tim anggota yang terdiri dari Dr. Bambang Syaeful Hadi, M.Pd., M.Si, Dr. Eko Budiyanto, M.Si, Elinda Tria Wati, S.Pd., M.Sc, Garin Darpitamurti, S.Pd., M.Pd, Skolastika Widiatikasyanti, S.Pd., M.Pd serta Pratidina Izza Rahmasyah, S.Pd., M.Pd.
Sejak pagi hari, rombongan guru tampak antusias mengikuti kegiatan yang dikemas dalam bentuk observasi lapangan.
Para peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan teoritis, namun juga diajak membaca langsung fenomena bentang alam karst, vulkanisme purba, hingga potensi geowisata yang berkembang di wilayah Gunungkidul.
Di kawasan Bukit Nglanggeran, peserta mendapat penjelasan mengenai sejarah Gunung Api Purba Nglanggeran yang menjadi salah satu ikon geowisata di DIY. Guru-guru diajak mengamati struktur batuan, proses geomorfologi, serta keterkaitan antara kondisi alam dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Prof. Dr. Suhadi Purwantara, M.Si mengatakan kegiatan lapangan seperti ini penting untuk memperkuat kemampuan guru dalam mengajarkan Geografi secara kontekstual kepada siswa.

“Kami ingin para guru tidak hanya menguasai teori di kelas, tetapi juga memiliki pengalaman empiris di lapangan. Dengan begitu pembelajaran Geografi menjadi lebih hidup, menarik dan mudah dipahami siswa,” ujarnya di sela kegiatan.
Laboratorium Alam
Menurutnya, Gunungkidul merupakan laboratorium alam yang sangat kaya untuk pembelajaran Geografi. Berbagai fenomena bentang alam dapat dijadikan media pembelajaran secara langsung.
“Di sini ada kawasan karst, gua, perbukitan hingga geowisata berbasis masyarakat. Semua sangat relevan untuk mendukung materi pembelajaran Geografi di sekolah,” tambahnya.
Sementara itu, Dr. Nursida Arif, S.T., M.Sc menjelaskan bahwa kegiatan PKM tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman antara akademisi dan guru di lapangan.
“Kami berharap guru dapat membawa pengalaman ini kembali ke sekolah. Anak-anak nantinya tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga memahami bagaimana fenomena alam bekerja secara nyata,” katanya.
Ketua MGMP Geografi Sleman, Wahyu Setyagraha, S.Pd., M.Pd menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan lapangan semacam ini sangat membantu para guru dalam memperkuat pemahaman materi Geografi.
“Kegiatan ini sangat membantu pembelajaran guru-guru yang selama ini banyak belajar secara teoritis. Ketika melihat langsung objek di lapangan, pemahaman menjadi jauh lebih utuh dan mudah diterapkan dalam proses belajar mengajar,” ujarnya.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Gua Ngingrong. Di lokasi tersebut peserta mempelajari sistem hidrologi kawasan karst serta hubungan antara kondisi bawah tanah dengan ekosistem di permukaan.
Beberapa guru tampak aktif berdiskusi dan mendokumentasikan materi lapangan untuk digunakan dalam pembelajaran.
Salah satu peserta, Hastuti Praptiningsih guru Geografi asal Sleman, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat.
“Biasanya kami hanya menjelaskan materi lewat gambar atau video. Dengan datang langsung ke lokasi, pemahaman kami menjadi lebih mendalam. Ini akan sangat membantu saat mengajar siswa,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan peserta dari Gunungkidul, Toyep Mahmuhana. Ia menilai metode pembelajaran berbasis lapangan mampu meningkatkan minat siswa terhadap Geografi.
“Anak-anak sekarang lebih suka pembelajaran yang nyata dan interaktif. Pengalaman dari kegiatan ini bisa menjadi inspirasi untuk membuat pembelajaran lebih menarik,” katanya.
Di kawasan Semilir, rombongan juga mendapat pemaparan mengenai pengembangan kawasan wisata berbasis lingkungan dan potensi edukasi yang dapat diintegrasikan dengan pembelajaran Geografi.
Para peserta tampak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi mengenai strategi pembelajaran berbasis proyek dan observasi lapangan.
Kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Selain memperkuat kompetensi guru, PKM tersebut juga menjadi upaya mempererat jejaring akademik antara perguruan tinggi dan sekolah.
Tim dosen berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar pembelajaran Geografi semakin dekat dengan realitas lingkungan sekitar.
Dengan pengalaman lapangan yang lebih kuat, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak sekadar teoritis, tetapi juga membangun kepedulian siswa terhadap alam dan lingkungan. (*/)




