Mabur.co- Hari Buku Nasional diperingati sejak 17 Mei 2002 di Indonesia oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar, pada Kabinet Gotong Royong era Presiden Megawati Soekarnoputri.
Kehadiran Hari Buku Nasional diharapkan dapat meningkatkan minat baca masyarakat serta memperluas akses terhadap buku dan literasi di Indonesia.
Sejak pertama kali diperingati, Hari Buku Nasional menjadi salah satu momen yang identik dengan berbagai kegiatan literasi, mulai dari membaca bersama, donasi buku, hingga kampanye membaca di berbagai daerah.
Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif Rahmat, mengatakan, Yogyakarta sekarang menuju pengajuan sebagai World Book Capital UNESCO.
Gagasan tersebut lahir dari keyakinan bahwa Yogyakarta memiliki modal kuat sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan ruang hidup ekosistem literasi yang tumbuh dari kampus, penerbit, komunitas, perpustakaan, pegiat sastra, hingga gerakan literasi masyarakat.
Yogyakarta sesungguhnya tidak memulai dari nol. Kota ini telah memiliki infrastruktur sosial perbukuan yang tumbuh selama puluhan tahun.
“Kekuatan Yogyakarta bukan hanya terletak pada banyaknya kampus atau komunitas literasi, tetapi pada keberadaan ekosistem penerbitan yang hidup dan tersebar,” ujarnya saat ditemui usai mengisi acara seminar Literasi Mengukuhkan Jogja Menjadi World Book Capital, di GIK UGM, Minggu (17/5/2026).
Ibu Kota Buku Dunia
Wawan juga mengaitkan gagasan World Book Capital atau Ibu Kota Buku Dunia dengan status Yogyakarta sebagai pemilik Warisan Dunia UNESCO Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Selama ini Sumbu Filosofi lebih banyak dipahami dalam konteks tata ruang dan warisan fisik. Padahal warisan tersebut juga menyimpan gagasan, pengetahuan, dan cara pandang hidup masyarakat Yogyakarta.
“Warisan dunia tidak cukup dijaga lewat penanda ruang atau bangunan. Warisan dunia perlu dihidupkan melalui produksi pengetahuan. Buku menjadi salah satu cara paling kuat untuk merawat ingatan itu,” katanya.
Kondisi Minat Baca
Wawan mengatakan, terkait adanya perbedaan tidak antara minat baca sekarang sama dulu, ia meyakini minat baca masyarakat kita sebenarnya baik baik saja. Justru terus bertumbuh.
Beberapa indikasi yang menunjukkan itu adalah, Pertama, setiap menggelar book fair, pengunjung selalu menunjukkan jumlah yang melebihi ekspektasi, ribuan setiap hari. Kedua, peredaran buku fisik masih terus menunjukkan angka yang tinggi meskipun saat ini pola transaksinya terjadi secara online melalui marketplace.
“Yang justru jadi persoalan adalah akses masyarakat terhadap buku bacaan, terutama di wilayah kabupaten-kabupaten (bukan kota besar) di Jawa dan terutama di luar Pulau Jawa,” katanya.
Wawan mengatakan, penerbit buku di DIY yang tercatat di keanggotaan IKAPI sebanyak 224.
“Kami meyakini, yang tidak sebagai anggota IKAPI jumlahnya tidak kalah banyak. Jadi, estimasi kami, di DIY tumbuh lebih dari 500 penerbit buku,” katanya.
Wawan mengatakan pula, terkait sekarang minat orang ke shopping center berkurang karena shopping center harus diakui adalah salah satu ikon dari Yogyakarta. Memorable bagi banyak generasi, terutama yang pernah mengenyam pendidikan di Yogyakarta.
“Hari ini saya kira nasibnya bisa dibilang tragis. Bukan saja kunjungan orang yang menurun, tapi bahkan diidentikkan dengan sarangnya buku bajakan. Saya kira sudah saatnya pemerintah memunculkan good will untuk memikirkan shopping center dengan merevitalisasi atau merenovasi sesuai zamannya. Misalnya, dirancang sebagai public space yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan-kegiatan literasi, dengan tetap mempertahankan ide awalnya yang ramah kepada para pedagang buku untuk berjualan di sana,” katanya.
Wawan menjelaskan, sekarang zaman digital cara menyiasati minat baca, penerbit dan penulis harus pandai beradaptasi pada perkembangan dengan memanfaatkan pergeseran tren dan teknologi.
“Pemerintah juga berkewajiban untuk memutakhirkan kebijakan-kebijakan dan regulasi-regulasi yang substansinya adalah menjaga masyarakat, khususnya generasi baru, tetap literer,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., menyatakan baru pertama kali bertemu dan berdiskusi berkaitan dengan literasi.
Kegiatan membaca menjadi salah satu yang bisa berkontribusi terhadap kualitas sumber daya manusia yang ada di Yogyakarta.
Potensi sumber daya manusia cukup banyak, tidak hanya bicara masalah kota pendidikan, kota budaya, juga ada sekolah yang cukup banyak, punya perpustakaan yang cukup banyak.
Mungkin tidak hanya tergantung hanya kepada fasilitas saja. Tapi kemudian menumbuhkan minat baca masyarakat menjadi sesuatu yang bernilai kebiasaan. Untuk membiasakan membaca ini menjadi suatu budaya yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan.
Pengakuan UNESCO
“Kita punya harapan atau cita-cita ke depan Yogyakarta bisa menjadi kota buku dunia yang mungkin nanti diakui oleh UNESCO. Tapi itu bukan semata-mata tujuan akhir, bagaimana kemudian meningkatkan literasi dan gemar membaca masyarakat itu yang penting,” ujarnya.
Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan bahwa Yogyakarta punya peluang mendapatkan pengakuan dari UNESCO.
“Jumlah penerbit, kaum akademisi, dan gudangnya penulis buku hidup bersama di kota ini. Saya optimistis, gagasan awal di seminar Pesta Buku Jogja dapat diwujudkan dengan melibatkan semua stakeholder yang terlibat di dunia perbukuan,” ujarnya.




