58 Bhikkhu Lintas Negara Jalani Ritual Thudong, Walk for Peace

3 Min Read
Marchers in red uniforms walk down a street during a parade, holding poles with a large pink and purple striped banner overhead.
Sebanyak 58 biksu lintas negara yang menjalani ritual Thudong menuju Malioboro diiringi Bregodo. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co– Sebanyak 58 Bhikkhu lintas negara  yang menjalani ritual thudong dari Bali menuju Candi Borobudur, telah sampai di Kota Yogyakarta, Senin (25/5/2026).

Sebelum perjalanan ke Kota Yogyakarta, para biksu tersebut melakukan perjalanan dari Solo menggunakan bus dan turun di Tugu Pal Putih menuju Malioboro dengan berjalan kaki disambut Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan dan masyarakat yang diiringi Bregodo.

Ketua Koordinator Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta Indonesia Walk for Peace 2026, Wiryo Alex Fernando mengatakan, untuk total ada 58 biksu yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Mereka berasal dari empat negara, yaitu Malaysia, Thailand, Laos dan Indonesia. Dari Thailand ada 47 biksu, dari Laos ada dua orang, Malaysia ada empat dan sisanya dari Indonesia,” katanya.

Menempuh Perjalanan 400 Kilometer

Alex mengatakan, para biksu itu telah menempuh perjalanan hampir 400 kilometer dari Singaraja, Bali, hingga Klaten. Klaten merupakan etape terakhir di Jawa Tengah.

“Ini etape terakhir di Yogyakarta dan berakhir di Candi Borobudur, Magelang. Tujuan utama untuk menguatkan Bhinneka Tunggal Ika, kita di Indonesia ini berbeda-beda tapi tujuannya sama, yaitu menjaga kedamaian, berdamai dengan diri sendiri, lingkungan, negara dan lainnya,” katanya.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, ini merupakan suatu kehormatan, bahwasanya pada hari ini, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bisa menyambut serta menerima rombongan Bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace 2026, di sebuah Pendapa dalam Kompleks Kepatihan yang bersejarah.

“Di masa silam, kompleks bangunan ini adalah kantor Pepatih Dalem, selaku pemimpin birokrasi Kasultanan, dan menjadi tempat tinggal keluarga beserta para kerabatnya. Sejak dahulu, bangunan ini memang diperuntukkan untuk melayani masyarakat luas,” ujarnya.

Sultan mengatakan, hari ini menjadi lebih bermakna bagi seluruh jajaran Pemerintah Daerah DIY, karena dapat bertatap muka secara langsung dengan rombongan Indonesia Walk for Peace, seraya mengenalkan kearifan lokal dan warisan budaya Yogyakarta, yang telah diwariskan lintas generasi.

“Indonesia Walk for Peace mencerminkan retrospeksi, atau sebuah refleksi perjalanan kehidupan. Ia adalah niti laku, menengok jejak perjalanan sejarah dari masa ke masa, dan merevitalisasinya agar bermakna untuk masa kini dan masa yang akan datang,” katanya.

Sultan mengatakan juga, Indonesia Walk for Peace bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah simbolisasi langkah maju, menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat, melalui penyebaran energi positif dan harmoni antarumat beragama.  

“Perjalanan ini juga mewujudkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Mempertegas, bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan bangsa.  Saya menyambut perjalanan para Bhikkhu sebagaimana pendapa ini menyambut setiap tamu dengan hati yang lapang, dengan kehangatan yang tulus, dan dengan doa yang terpanjatkan,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment