Cegah Penyakit Masyarakat, Ratusan Sivitas Universitas Ikut Gerakan Minum Jamu Serentak

5 Min Read
Group of people smiling and holding white cups at an outdoor event, modern building and blue sky in the background.
Sivitas universitas, tenaga kesehatan, komunitas jamu, hingga masyarakat umum, mengenakan pakaian adat tradisional sambil membawa jamu dari berbagai jenis dan racikan. Mereka menggenggam gelas-gelas kecil berisi jamu berwarna kuning keemasan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co-Di bawah langit Bulaksumur yang berawan syahdu, ratusan sivitas universitas, tenaga kesehatan, komunitas jamu, hingga masyarakat umum dengan mengenakan pakaian adat tradisional, mengikuti Gerakan Minum Jamu Serentak dalam rangka memperingati Hari Jamu Nasional 2026 di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Senin (25/5/2026).

Mereka membawa jamu dari berbagai jenis dan racikan sambil menggenggam gelas-gelas kecil berisi jamu berwarna kuning keemasan, untuk diangkat tinggi-tinggi dan ditunjukkan pada khalayak.

​Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, menyoroti pentingnya jamu sebagai upaya pencegahan penyakit di masyarakat.

Berbagai penyakit seperti diabetes, asam urat, hipertensi, hingga kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat yang salah satunya didukung konsumsi jamu.

Budaya minum jamu perlu terus dihidupkan kembali agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada pengobatan ketika sudah sakit.

“Jangan menunggu sakit dulu baru datang ke rumah sakit. Yang paling penting adalah pencegahan di masyarakat. Jamu memiliki posisi untuk menjaga kebugaran dan membantu mencegah penyakit. Karena itu budaya minum jamu perlu terus diperkuat,” katanya, saat ditemui mabur.co, usai acara.

Jamu dari berbagai jenis dan racikan, berwarna kuning keemasan, hingga cokelat hangat. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Nyoman mengungkapkan, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, tetapi masih bergantung pada impor bahan baku obat.

Tantangan Bersama Kembangkan Potensi Herbal

Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bersama untuk mengembangkan potensi tanaman herbal lokal. Pengembangan jamu akan berdampak pada kesehatan masyarakat sekaligus mendorong ekonomi dan kelestarian lingkungan.

“Kita punya kekayaan hayati luar biasa, tetapi masih banyak mengimpor bahan obat. Padahal tanaman di sekitar kita menyimpan potensi besar untuk kesehatan masyarakat. Kalau pengembangan jamu berjalan baik, manfaatnya bisa dirasakan untuk kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan jamu memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan sudah lekat dengan pengalaman keseharian sejak lama.

“Saya mengenang masa kecil yang akrab dengan kebiasaan minum jamu dari orang tua. Pengalaman sederhana semacam itu menunjukkan jamu tumbuh sebagai bagian dari budaya hidup masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Danang menjelaskan, UGM memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan riset jamu karena didukung keberagaman disiplin ilmu dari 18 fakultas, dua sekolah, dan berbagai pusat studi.

Ia mengatakan pengembangan jamu tidak dapat dilihat hanya dari aspek medis, melainkan juga dari sisi budaya, lingkungan, hingga keberlanjutan bahan baku.

“Jamu bukan sekadar urusan laboratorium atau penelitian medis. Jamu adalah warisan budaya yang hidup di masyarakat. Indonesia punya kekayaan biodiversitas, geodiversitas, dan cultural diversity yang luar biasa. Kombinasi ketiganya menjadi fondasi penting bagi perkembangan budaya jamu di Indonesia,” jelasnya.

Danang mengungkapkan, berbagai fakultas di UGM telah berkontribusi dalam pengembangan jamu, mulai dari Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Fakultas Ilmu Budaya, hingga Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian.

Menurutnya, kolaborasi lintas bidang menjadi langkah penting untuk membangun industri jamu yang lebih kuat dan berkelanjutan di Indonesia.

“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana jamu semakin diterima sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu diperlukan riset yang kuat, standardisasi, sampai advokasi kebijakan agar jamu dapat semakin dipercaya dan dimanfaatkan secara luas,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H, mengatakan, kegiatan ini dukungan dari Pemda DIY dalam hal tourism salah satunya adalah wellness yang bertujuan untuk semakin menjaga kebugaran masyarakat, mencegah penyakit. Jamu merupakan warisan budaya, terutama di Yogyakarta. Jamu bisa untuk kebugaran dan untuk pelengkap pengobatan.

“Tujuan dari kegiatan ini untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa jamu itu banyak manfaat, jamu itu aman dan yang penting jamu itu warisan budaya. Banyak jamu yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Jamu yang sangat banyak di Yogyakarta yakni beras kencur dan temulawak,” ucapnya.

Salah satu sivitas dari UGM, Ariani mengatakan, jamu merupakan warisan turun temurun, ini mesti kita kenalkan ke seluruh masyarakat Indonesia dan generasi milenial.

Sebagai warisan turun temurun, jamu memiliki keunggulan tinggi karena berasal dari keragaman budaya, kearifan lokal, dan keragaman hayati yang tinggi. 

“Bukti empiris menunjukkan bahwa jamu dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat, baik dalam upaya promosi maupun preventif,” ujarnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment