Syahwat Kekuasaan dan Keris Empu Gandring

3 Min Read
Bronze statue of a muscular ancient Indian prince standing with hands on hips on a pedestal in a plaza with blue-roofed buildings nearby.
Patung Ken Arok di depan GOR Ken Arok Malang (Sumber: lenteratoday.com)

Saya ingin mereposting dari tulisan lama saya, tentu tidak ada hubungan langsung dengan kondisi saat ini. Tapi setidaknya bisa jadi “kaca benggala” bagi yang hidup di saat kini.

Peristiwa makar paling “gila”, brutal menurut historiografI sejarah yang populer dan paling dapat menggambarkan “nafsu rendah” dan purba manusia adalah yang dilakukan oleh Ken Arok (1182-1247) terhadap Tunggul Ametung di Kerajaan Kediri.

Berlatar belakang anak terbuang kemudian diasuh oleh keluarga bromocorah ia tumbuh menjadi anak brutal dan memiliki hasrat duniawi yang nyaris tak terkendali. Kemudian setelah itu diasuh oleh seorang pendeta Lohgawe dan diantar menjadi abdi dalem Sang Tunggul Ametung.

Di istana syahwat seksual dan kuasanya mendadak naik ketika melihat kain Ken Dedes istri Tunggul Ametung tersingkap dan melihat betis Ken Dedes ber-“cahaya”.

Itu baru betisnya, belum paha dan pangkal pahanya. Apalagi ditambah bumbu ramalan Lohgawe yang mengatakan bahwa dari rahim Ken Dedes akan lahir raja-raja besar “gung binathara“.

Akhirnya dengan bantuan Mahesa Wong Ateleng ia menghubungi Empu hebat yang bernama Gandring untuk membuatkan senjata keris sakti sebagai sarana melancarkan keinginannya. Bahkan sebelum keris itu jadi sempurna sudah ia minta bahkan dengan cara membunuh Empu Gandring pembuatnya.

Liciknya keris itu terlebih dulu dipinjamkan kepada sosok paling pesolek dan narsis di seluruh Tumapel, Kebo Ijo. Dasar pesolek Kebo Ijo pamer ke mana-mana dengan mengatakan keris itu miliknya.

Pada satu malam jahanam keris itu diambil kembali oleh Ken Arok. Dengan keris itu dibunuhlah Tunggul Ametung yang sedang bersanggama dengan Ken Dedes.

Kebo Ijo dihukum mati karena tersangka sebagai pembunuh raja. Ken Arok merebut takhta dan mengawini Ken Dedes yang betisnya ber-“cahaya” sudah pernah dilihat. Kini tiba saatnya ia akan menatap pangkal pahanya yang sudah merangsang benak syahwat seksual Ken Arok.

Bahkan ketika itu Ken Dedes pun sebenarnya sedang hamil benih Tunggul Ametung. Kekuasaan yang direbut dengan dorongan syahwat harta, syahwat seksual dan syahwat politik kekuasaan, serta fitnah yang keji. Direbut dengan mengalirkan darah dengan sarana yang dimiliki secara “grusa grusu” dan mental pragmatis.

Akhirnya terbukti keris Empu Gandring memakan korban dengan aliran darah dan amarah. Termasuk darah Ken Arok sendiri, keluarga dan keturunannya.

Entah di mana keris Empu Gandring itu sekarang berada. Sebab terlalu miris membayangkan “keris empu gandring” yang berwatak jalan pintas, berada di tangan manusia yang terbelenggu nafsu seksual, harta, kuasa sekaligus.

Miris seandainya anak-anak bangsa ini terbunuh dan berdarah-darah dengan sia sia. Hanya untuk memuaskan dan memuluskan nafsu kuasa segelintir orang.

Miris apalagi kalau agama dan politik identitas dipakai sebagai pembungkus syahwat kuasa. Dipakai secara grusa grusu penuh fitnah layaknya keris Empu Gandring oleh Ken Arok. ***

Share This Article
Avatar photo
Budayawan Kotagede, Mantan Dosen Filsafat UGM, Mantan Ketua Dewan Kebudayaan Yogyakarta
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment