Culture Shock Jadi Alasan Kuat Menulis Cerpen Fiksi

3 Min Read
Three women sit on stools on a red carpet, each holding a microphone during a panel discussion outside a glass-walled venue with red awnings.
Siti Maha Dana (tengah) menceritakan proses penulisan buku antologi cerpen berjudul "Sinden Terakhir" dalam acara Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Inspirasi menulis cerpen fiksi bisa muncul dari mana saja, termasuk dari proses transisi tempat tinggal.

Ya, proses perpindahan dari kota besar ke daerah luar provinsi, tentunya membutuhkan adaptasi khusus, karena banyak hal baru yang harus dipelajari saat menetap di tempat yang baru.

Dalam proses adaptasi tersebut, tak jarang muncul semacam “culture shock” atau rasa kaget, ketika berjumpa dengan kebiasaan baru, yang tidak pernah ditemukan di tempat sebelumnya.

Itulah yang sekiranya dirasakan Siti Maha Dana, salah satu alumnus program Temu Karya Sastra (TKS) Daulat Sastra Jogja (DSJ), yang kemudian menginspirasinya untuk menuliskan antologi cerpen fiksi bergenre horor dengan judul Sinden Terakhir

“Aku dulu tuh besarnya di Bekasi. Terus di Bekasi kan tahu sendiri ya, nggak ada sawah, cuman ada gedung-gedung mewah di mana-mana. Di sana pun tradisi itu hampir nggak ada, jarang banget. Apalagi kan di Bekasi juga orangnya kebanyakan cuek ya, namanya juga orang kota, biasanya suka cuek sama orang lain. Nah waktu aku pindah ke Gunungkidul itu kayak kaget banget, ternyata sejomplang itu (perbedaan antara Bekasi dan Gunungkidul),” ucap Dana, panggilan akrabnya, dalam sesi bedah buku antologi cerpen Sinden Terakhir, dalam kegiatan Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Menurut Dana, apa yang selama ini dialaminya di Bekasi, hampir sama sekali tidak pernah terlihat saat pindah ke Gunungkidul. Karena di Gunungkidul cukup kental dengan mitos-mitos terhadap suatu tindakan tertentu, yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

“Setelah itu aku mulai tanya-tanya gitu (tentang tradisi di Gunungkidul). Jadi kalau misalkan aku melakukan apa, terus bapakku kayak melarang, gitu. ‘Ini tuh nggak boleh, karena ada mitosnya gini gini gini’ dan lain-lain, begitu. Dari situ akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba menulis cerpen fiksi bergenre horor, seperti itu,” tambah Dana.

Sesi bedah buku antologi cerpen Sinden Terakhir dari Dana ini, merupakan salah satu rangkaian dalam kegiatan Selasa Sastra edisi Juni 2026 dengan tema “Janji di Bulan Juni”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain sesi bedah buku, ada pula buku antologi cerpen lainnya yang ikut dibedah, dengan judul Pencuri Bulan Suci, karya Salwa Aulia Az-zahra.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juha menghadirkan penampilan sastra spesial dari beberapa Sastrawan ternama, sebut saja Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment