Mabur.co – Meski telah di-rebranding sebagai oleh-oleh kuliner baru khas Kulon Progo, usaha pembuatan lele asap di Padukuhan Jati, Banaran, Galur, bukan tanpa kendala.
Salah seorang pelaku usaha pembuatan lele asap, Sugiah, mengaku masih menemui sejumlah tantangan serius untuk bisa mengembangkan produk lele asap agar lebih dikenal luas masyarakat.
Ditemui Mabur.co beberapa waktu lalu, Sugiah menyebut, tantangan utama usaha pembuatan lele asap saat ini adalah ketergantungan pasokan lele asap dari pihak penyuplai.
Bahan Baku Lele Dipasok
Hal itu terjadi karena selama ini para pelaku usaha lele asap tidak memproduksi sendiri bahan baku lele untuk kebutuhan mereka. Bahan baku lele biasanya dipasok oleh pengepul yang berasal dari berbagai daerah.
“Saya sendiri setiap hari membutuhkan 50 sampai 70 kilo lele segar untuk bahan baku lele asap. Lele itu biasanya dipasok oleh sejumlah pengepul. Sehingga kita hanya menerima produk yang ada,” katanya.
Sayangnya, tidak semua produk lele tersebut selalu memenuhi standar kelayakan untuk diolah menjadi lele asap sehingga turut memengaruhi kualitas produk yang dihasilkan.
“Kalau lele yang dipasok umurnya kurang hasilnya jadi tidak bagus. Tapi ya mau bagaimana lagi. Karena kita hanya dipasok saja, tidak pelihara sendiri,” katanya.

Selain itu, ketergantungan para pelaku usaha produsen lele asap terhadap bahan baku, juga membuat mereka tak bisa menentukan harga. Sehingga saat harga bahan baku naik, mereka otomatis juga harus menaikkan harga jual atau terpaksa memangkas keuntungan mereka.
Harga Lele Tidak Stabil
“Haga lele dari tahun ke tahun selalu naik. Kemarin baru saja naik. Sehingga otomatis kita juga harus menaikkan harga jual. Jika kemarin Rp50 ribu per kilo sekarang jadi Rp60 ribu per kilogram,” bebernya.
Untungnya meski mengalami kenaikan, Sugiah mengaku, hal itu belum sampai berpengaruh terhadap omzet penjualan yang masih stabil seperti sebelumnya.
“Untuk penjualan saat ini masih stabil di kisaran 50-70 kilo per hari. Biasanya lele asap ini saya pasok ke pasar-pasar di Bantul. Baik itu dalam bentuk masih lele asap atau sudah diolah menjadi makanan siap saji seperti mangut dan sebagainya” katanya.
Sementara itu, tantangan lain yang juga dihadapi para pelaku usaha produsen lele asap ini adalah terkait keawetan produk lele asap itu sendiri. Dimana produk lele asap hanya mampu bertahan selama kurang lebih 24 jam.
“Kalau tidak diolah jadi mangut atau menu lainnya ya hanya tahan 24 jam. Jadi sebisa mungkin harus terjual habis sebelum basi,” katanya.
Berharap Dukungan
Melihat sejumlah kendala tersebut, para pelaku usaha produsen lele asap di Dusun Jati Banaran pun berharap adanya dukungan dari berbagai pihak untuk bisa mencari solusi. Baik itu dari pemerintah, perguruan tinggi maupun pihak lainnya.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo saat ini tengah berupaya memperkuat branding lele asap Jati Banaran sebagai identitas kuliner daerah sekaligus oleh-oleh khas baru Kulon Progo.
Hal itu dilakukan dengan meluncurkan Kampung Lele Asap di Padukuhan Jati sebagai bagian dari pengembangan kawasan berbasis kuliner, perikanan, dan pariwisata.
Selain untuk melestarikan dan mengembangkan warisan kuliner lele asap, upaya ini juga dilakukan untuk menggerakkan perekonomian warga masyarakat sekitar di kawasan Desa Wisata Banaran, Kulon Progo. ***

