Mabur.co – Tradisi Saparan Bekakak di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, tak hanya menjadi event budaya yang mampu menyedot ribuan pengunjung, tetapi juga mampu menggerakan perekonomi masyarakat sekitar.
Ramainya wisatawan yang datang untuk menyaksikan tradisi budaya tertua dan terbesar di Yogyakarta itu membuat ratusan warga memanfaatkannya untuk mencari pundi-pundi rejeki dengan cara berdagang di sekitar lokasi acara.
Warga Membuka Lapak
Sejak siang, sebelum acara dimulai, ratusan pedagang bahkan nampak telah membuka lapak dagangan mereka di sepanjang rute kirab dan pawai tradisi Saparan Bekakak sepanjang kurang lebih 5 kilometer.
Memanfaatkan lapak dadakan, mereka terlihat berjualan aneka dagangan di pinggir trotoar jalan, mulai dari aneka makanan tradisional, minuman, mainan anak, hingga berbagai pernak-pernik seperti suvenir hingga kerajinan.
Tak hanya berasal dari wilayah sekitar Kalurahan Ambarketawang maupun Kapanewon Gamping saja, tak sedikit dari mereka juga berasal dari sejumlah wilayah lain baik dari kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman hingga Bantul.
Salah satu pedagang makanan, Faruq, asal Sedayu mengaku sengaja membuka lapak di lokasi acara penyelenggaraan tradisi Saparan Bekakak ini untuk berjualan aneka minuman.
Ia berharap ramainya pengunjung yang datang dalam tradisi ini bisa meningkatkan omzet penjualan usaha kecilnya.
“Baru pertama kali jualan di sini. Mumpung sedang ramai,” ujar pedagang es krim itu.
Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya, Rini yang berjualan aneka makanan. Warga Gamping itu mengaku rutin berjualan setiap kali penyelenggaraan tradisi Saparan Bekakak digelar.

“Setiap tahun kalau ada acara Bekakak pasti jualan. Ya buat tambah-tambah penghasilan. Tahun ini pengunjung agak sepi, tidak seramai tahun lalu. Tapi alhamdulillah tetap laris,” katanya.
Selain menguntungkan pedagang kecil, ramainya pengunjung juga memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Mereka memanfaatkan dengan membuka lahan parkir. Baik itu dikelola mandiri maupun dikelola pemuda Karang Taruna setempat.
Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, mengatakan tingginya antusiasme masyarakat dalam setiap penyelenggaraan tradisi Saparan Bekakak memamg mampu memberikan manfaat yang luas bagi warga. Termasuk di sektor ekonomi dan pariwisata.
“Tradisi ini bukan hanya untuk melestarikan budaya leluhur, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar. Banyak warga yang memperoleh tambahan penghasilan dari berdagang aneka makanan maupun minuman,” katanya.
Karena itu pemerintah kalurahan mengaku akan terus mempertahankan penyelenggaraan tradisi Saparan Bekakak sebagai agenda tahunan karena manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi budaya, tetapi juga sektor ekonomi dan pariwisata.
“Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat. Harapannya tradisi ini dapat terus berjalan di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
