Mabur.co — Ratusan penggemar sepeda tua memadati jalanan Kulon Progo, Minggu (26/7/2026).
Mereka tidak hanya datang untuk mengayuh sepeda dan bernostalgia dengan kendaraan lawas, tetapi juga membawa misi untuk kampanyekan hidup sehat dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan tersebut digelar Komunitas Sepeda Tua Tentara Pelajar Oude Fiets (TPOF) Kulon Progo untuk memperingati hari jadi yang ke-6.
Jaga Alam
Mengusung tema “Ngontel Merawat Zaman, Menjaga Alam”, acara ini diikuti sekitar 500 peserta dari 20 komunitas sepeda tua di seluruh DIY.
Sejak pagi, para peserta mengayuh sepeda tua menyusuri sejumlah ruas jalan di Kulon Progo. Rute dimulai dari Taman Beji dan melewati sejumlah titik, termasuk Teteg Cekelan, Gedung Kesenian, Stasiun Wates, DPRD Kulon Progo, Kapanewon Pengasih, UNY, hingga Alun-alun Wates sebelum kembali ke titik awal.
Namun, gowes bersama bukan satu-satunya agenda dalam peringatan ulang tahun komunitas tersebut. TPOF juga menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak untuk menanam 250 bibit pohon tabebuya di sepanjang Selokan Kalibawang.

Ketua TPOF Kulon Progo, Maruta, mengatakan kegiatan komunitas sepeda tua seharusnya tidak berhenti pada aktivitas bersepeda dan berkumpul. Menurutnya, komunitas juga perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
“Sepeda tua atau komunitas sepeda tua itu tidak hanya sekadar ngontel selesai. Ada sesuatu yang kita berikan kepada masyarakat, dalam konteks lokal maupun nasional sebagai wujud cinta tanah air,” kata Maruta.
Pemilihan kawasan Selokan Kalibawang bukan tanpa alasan. Jalur tersebut kini menjadi salah satu akses alternatif yang digunakan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah dan para pesepeda.
Penanaman tabebuya diharapkan dapat membuat kawasan tersebut lebih teduh dan nyaman ketika pohon-pohon itu tumbuh besar.
“Harapannya, di sepanjang Selokan Kalibawang yang merupakan jalan alternatif untuk anak sekolah maupun jalur gowes, ketika jalurnya sudah diaspal dan ada tanaman perindang tabebuya, suasananya akan semakin asri,” ujar Maruta.

Ia juga melihat penghijauan kawasan tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru.
Dorong UMKM Maju
Lingkungan yang lebih nyaman berpotensi menarik lebih banyak orang untuk beraktivitas di kawasan itu. Kondisi tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan pelaku UMKM lokal.
“Hal ini juga diharapkan dapat memicu tumbuhnya UMKM lokal yang memanfaatkan peluang tersebut,” katanya.
Bagi TPOF, kegiatan tersebut menjadi cara untuk memberi warna berbeda dalam perayaan ulang tahun komunitas. Gowes tetap menjadi bagian utama, tetapi diikuti dengan aksi yang memiliki dampak lebih panjang bagi lingkungan dan masyarakat.
Maruta berharap langkah tersebut dapat ditiru komunitas lain di DIY. Kegiatan komunitas diharapkan tidak hanya menjadi ajang berkumpul saja, tetapi juga dapat dikemas dengan kegiatan sosial, lingkungan, maupun kebudayaan.
Lurah Wates, Bambang Sunartito, mengaku sangat mendukung kegiatan komunitas semacam ini. Ia pun akan mendukung penuh upaya komunitas TPOF dalam melakukan upaya pelestarian lingkungan berupa penanaman pohon di kawasan Selokan Kalibawang.
“Kita tentu sangat mendukung. Mudah-mudahan apa yang dilakukan teman-teman TPOF ini bisa memberikan manfaat nyata bagi lingkungan di wilayah Wates maupun masyarakat sekitar,” ungkapnya.
