Usia Senja, Mbah Buang Tetap Eksis Membuat Mainan Tradisional

4 Min Read
Ihdi Utomo atau akrab disapa Mbah Buang sedang menyelesaikan saron perangkat dari gamelan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Usia senja tidak menghalangi seseorang untuk tetap menghasilkan sebuah karya. Salah satunya adalah Simbah Ihdi Utomo atau akrab disapa Mbah Buang. 

Di usia 83 tahun dia tetap bekerja sebagai perajin dolanan (mainan) anak tradisional. Mbah Buang ialah satu-satunya perajin mainan tradisional anak-anak di Pangkah, Tirtosari, Kretek, Bantul, masih eksis bertahan hingga saat ini.

Sejak usia muda Mbah Buang, telah menekuni pekerjaannya sebagai pembuat mainan tradisional. Dari bahan sederhana yang didapat dari sekitar rumahnya, setiap hari dirinya membuat dolanan dari bahan kertas, bambu, kawat dan lem.

Dolanan anak yang dihasilkan adalah otok-otok, wayang kertas, burung dan sangkarnya, kitiran, dan kipas kertas, pecut, saron, kuda lumping.

Ihdi Utomo atau akrab disapa Mbah Buang sedang memainkan nada dari Saron. perangkat dari gamelan sebelum dicat dan finishing. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mbah Buang mengatakan, mulai membuat dolanan secara otodidak, sejak masih anak-anak belajar pada kakek dan nenek zaman Jepang.

Tradisi Turun Temurun

Kemudian meneruskan membuat dolanan anak belajar pada ayah dan ibu pula yang dulu membuat  dolanan anak. Kakek dan nenek membuat dolanan, ketika zaman Jepang.

“Saya membuat dolanan anak ini, meneruskan tradisi kakek nenek dan bapak ibu. Saya dulu tahun 1960-1980, menjual beragam dolanan anak,  jalan kaki menggendong tenggok berisi dolanan anak ke pasar-pasar. Antara lain ke Pasar Bantul, Pasar Godean. Kemudian sekitar 1990-an menjual dolanan anak ke pasar-pasar naik sepeda. Sekarang karena sudah tua, tetap bekerja membuat dolanan anak tidak bisa menjual ke pasar-pasar. Ya, adhang-adhang tetese embun (menunggu pembeli yang tidak pasti),” ceritanya, saat ditemui di rumahnya, Minggu (7/6/2026).

Mbah Buang menegaskan, membuat dolanan anak karena kemauan ingin meneruskan dan melestarikan dolanan anak yang dulu dikerjakan kakek dan bapak. Ia mengerjakannya sebagai amanah.  

“Saya puluhan tahun bekerja membuat dolanan anak dilakoni mandiri dengan ikhlas dan senang hati. Selama ini, belum pernah mendapat bantuan dari mana pun. Namun saya tetap bekerja membikin dolanan anak,” katanya.

Ihdi Utomo atau akrab disapa Mbah Buang sedang menyelesaikan mainan kuda lumping. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mbah Buang menuturkan, pembeli mainan tradisional biasanya dari lingkungan sekolah TK dan SD, serta ada pesanan dari event tertentu seperti acara pernikahan.

“Saya berharap ada yang mau melestarikan pembuatan mainan tradisional, mengingat beberapa perajin seangkatannya sudah tidak eksis lagi,” katanya.

Mbah Buang memaparkan, dengan menjual dolanan tradisional itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, saat ini menjual dolanan tradisional tidak bisa untuk penghasilan pokok karena banyak saingannya.

“Dulu jualan hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sekarang kan tidak. Karena banyak mainan buatan Cina itu bagus-bagus dan murah-murah,” ujarnya.

Older man in a teal shirt tying bright pom-poms onto a striped rope inside a cluttered workshop with wood and tools nearby.
Ihdi Utomo atau akrab disapa Mbah Buang sedang menyelesaikan mainan pecutan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mbah Buang menyampaikan, membuat dolanan tradisional untuk mengisi kegiatan sehari-hari saja. Pasalnya, pembeli dolanan tradisional masih ada meski tidak banyak.

“Sekarang membuat seperti ini untuk kegiatan saja. Sekarang saya sudah tidak ke pasar, banyak yang mengambil ke sini,” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment