Permainan Tradisional Pletokan, Pererat Hubungan Pertemanan

2 Min Read
Assorted bamboo sticks laid out in parallel on a tiled floor, with one long bamboo pole crossing them diagonally.
Pletokan adalah permainan tradisional yang terbuat dari bambu, dimainkan dengan peluru dari kertas basah layaknya senapan yang digunakan untuk menembak. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co-  Anak-anak erat kaitannya dengan dunia bermain yang penuh imajinasi. Melalui imajinasi anak-anak dapat melakukan perannya dalam bermain yang menjadikan lebih seru.

Salah satu peran yang dapat dimainkan yaitu menjadi Polisi atau TNI seperti yang ada di film-film seolah-olah sedang melakukan adegan tembak-tembakan.

Begitu juga dalam bermain, anak-anak dapat bermain peran dengan saling menembak yang tentunya aman dengan menggunakan alat permainan tradisional Pletokan. 

Terbuat dari Bambu

Pletokan adalah permainan tradisional yang terbuat dari bambu, dimainkan dengan peluru dari kertas basah layaknya senapan yang digunakan untuk menembak.

Permainan ini berasal dari Betawi, sedangkan masyarakat di wilayah Sumatera Selatan menyebut permainan ini dengan nama Dor-doran dikarenakan bunyi mainan tersebut berbunyi Dor. 

Ada suara khas yang dulu akrab di telinga anak-anak Indonesia, yaitu bunyi “pletok” dari senjata mainan yang terbuat dari bambu.

Inilah kisah tentang Pletokan Bambu, sebuah warisan tak benda yang ternyata membawa misi mulia dalam membentuk karakter dan kecerdasan sosial-emosional generasi penerus bangsa.

Pletokan merupakan permainan rakyat yang telah lama dikenal di Jakarta, terutama di lingkungan anak-anak.

“Pletokan berkembang sebagai hiburan sederhana yang mempererat kebersamaan dalam komunitas. Permainan ini muncul di tengah keterbatasan teknologi, sehingga memanfaatkan bahan-bahan alam seperti bambu dan kertas sebagai alat utamanya,” dilansir dari buku karya Drs. Ahmad Yunus yang berjudul Permianan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Kebiasaan Anak Betawi

Permainan ini berasal dari kebiasaan anak-anak Betawi memanfaatkan potongan bambu untuk membuat mainan.

Dengan alat sederhana, mereka menciptakan pengalaman bermain yang seru dan menantang. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun di berbagai wilayah Jakarta sejak sekitar tahun 1920.

Selain menghibur, Pletokan mengajarkan pentingnya kerjasama dan sportivitas. Anak-anak diajak untuk bermain dalam kelompok, sehingga memperkuat rasa persatuan dan keterampilan sosial. Nilai-nilai seperti toleransi dan rasa hormat kepada teman juga tumbuh lewat permainan ini.

Di balik keseruannya, Pletokan membawa manfaat edukatif dan sosial bagi anak-anak. Selain melatih koordinasi, permainan ini mempererat hubungan pertemanan.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment