Cublak Suweng, Cara yang Digunakan Sunan Giri Sebarkan Islam

4 Min Read
Group of young girls in traditional batik outfits perform a coordinated dance under a thatched roof, with one girl seated center posing with hands to her cheeks.
Potret lagu Cublak-Cublak Suweng karya Sunan Giri yang masih dinyanyikan dalam permainan anak. (Foto: Budaya-indonesia.org)

Mabur.co-  Cublak suweng adalah permainan tradisional dari Jawa yang kerap dimainkan anak-anak di masa lalu.

Dalam permainan ini, anak-anak duduk melingkar dan satu orang menyembunyikan “suweng” (perhiasan) di balik telapak tangan peserta lain. Lagu khas dinyanyikan sambil permainan berlangsung, menciptakan suasana riang.

Lebih dari sekadar hiburan, cublak suweng mengajarkan nilai kejujuran, kesabaran, dan kerja sama. Sayangnya, permainan ini mulai jarang terlihat di era digital. Namun, beberapa sekolah dan komunitas budaya mulai menghidupkannya kembali sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.

Cublak-cublak Suweng (tebak-tebak suweng) pada dasarnya adalah nama salah satu permainan anak-anak. Permainan tersebut diiringi oleh sebuah lagu yang memiliki judul yang sama pula, yaitu “Cublak-cublak Suweng”.

Tradisi Lisan

Iringan lagu pada permainan tersebut merupakan karya sastra sekaligus bentuk tradisi lisan yang dilakukan oleh orang Jawa.

“Pada permainannya, seorang anak harus bisa menebak suweng tersebut ada di tangan siapa. Biasanya, akan ada anak yang tidak bisa menahan tawanya, dan dialah yang menyembunyikan suweng tersebut,” dilansir dari buku karya Hani Widiatmoko dan Dicky Maulana  yang berjudul Lagu Wajib Nasional, Tradisional, dan Anak Populer, Minggu (7/6/2026).

Dalam buku Kompilasi Permainan Rakyat karya Daniel Rusyad, dijelaskan bahwa lagu “Cublak Cublak Suweng” juga memiliki kaitan dengan penyebaran Islam oleh Wali Songo. Wali Songo menggunakan metode kebudayaan untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Ketika menciptakan lagu “Cublak Cublak Suweng”, Sunan Giri menyelipkan sisi tradisional di dalamnya. Maka dari itu, lagu tersebut dapat menjadi pengiring permainan anak-anak.

Lirik Cublak-Cublak Suweng dapat diartikan sebagai berikut.
Cublak-cublak suweng (tempat anting); Suwenge ting gelenter (antingnya berserakan);

Mambu ketundhung gudel
(berbau anak kerbau); Pak empong lera lere (bapak ompong 
menggeleng-gelengkan kepala);

Sapa ngguyu ndhelikkake (siapa tertawa dia yang menyembunyikan; Sir sir pong dhele kopong (kedelai kosong tidak ada isinya).

Kata suweng pada lagu ini sangat ditekankan, suweng diartikan sebagai Suwung, Sepi, Sejati atau Harta Abadi.

Sedangkan gelenter dalam bahasa Jawa berarti berserakan, sesungguhnya harta yang kita cari sudah berserakan di pelosok bumi. 

Gudel adalah istilah yang digunakan masyarakat Jawa sebagai anak kerbau untuk melambangkan orang bodoh.

Kalimat “mambu ketundhung gudèl” bermakna bahkan orang bodoh (minim pendidikan) mencari harta
duniawi dengan penuh nafsu ego, tindakan korupsi, jual beli jabatan yang bertujuan untuk mencari kebahagiaan sesaat.

Orang bodoh seperti orang tua ompong yang sedang kebingungan (Pak empo lera-lere).

Kendati berlimpah harta, mereka bingung dan selalu gelisah karena dikuasai oleh keserakahan sendiri. Sopo ngguyu Ndhelikake diartikan siapa tertawa dia yang menyembunyikan.

Mengandung pesan bahwa siapa yang bijaksana, mereka akan menemukan kebahagian abadi. Mereka adalah orang orang yang tersenyum dalam menjalani hidup, walaupun berada hidup tengah-tengah dunia yang penuh keserakahan. Sir (hati nurani/suara hati) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi).

Maksudnya hati nurani yang kosong. Agar sampai kepada kebahagiaan abadi harus menghindari kecintaan kepada kekayaan duniawi, rendah hati, tidak meremehkan orang lain, serta hati nurani.

Dari segi kultural, lagu dolanan Cublak-cublak suweng menjadi media transfer nilai kepada anak-anak. Supaya mereka tidak menuruti hawa nafsu, menjaga harmoni dengan alam, sesama manusia dan orang.

Nilai-nilai moral yang terkandung dalam lirik dolanan Cublak-cublak Suweng berorientasi pada ajakan moral, yakni berupa nasihat dan amanat mengenai benar tidaknya sikap manusia dalam kehidupan bermasyarakat. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment