Belajar dari Iran: Nasionalisme Ekonomi di Tengah Kenaikan Dolar

6 Min Read
Woman in a blazer at a bank counter fanning out multiple US hundred-dollar bills in her hands.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus meroket. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Di ruang-ruang percakapan publik Indonesia hari-hari ini, dolar Amerika Serikat kembali menjadi tokoh utama. Ketika rupiah bergerak melewati level Rp18.000 per dolar AS dan sempat berada di kisaran Rp18.107 pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, kegelisahan segera menyebar.

Pasar bereaksi, media sosial riuh, para pengamat saling berlomba memberikan prediksi, dan sebagian masyarakat kembali dihantui bayang-bayang krisis masa lalu.

Namun pada saat yang sama, jauh di sebelah barat Asia, rakyat Iran hidup dalam kenyataan yang jauh lebih keras. Nilai tukar mata uang mereka telah lama berada pada tingkat yang bagi banyak orang Indonesia mungkin sulit dibayangkan.

Satu dolar Amerika dapat ditukar dengan lebih dari satu juta rial Iran. Jika ukuran kekuatan bangsa semata-mata ditentukan oleh kurs mata uang, maka Iran seharusnya sudah lama kehilangan daya tahannya.

Tetapi sejarah justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Iran tetap berdiri. Negara itu masih mampu membangun industri pertahanannya, mengembangkan teknologi strategis, mempertahankan kapasitas risetnya, dan menjaga keberlangsungan negara di tengah puluhan tahun sanksi ekonomi, embargo perdagangan, isolasi finansial, serta tekanan geopolitik yang nyaris tanpa jeda.

Di sinilah kita menemukan pelajaran yang lebih penting daripada sekadar pergerakan kurs. Dalam tradisi pemikiran sosiologis yang sering diperlihatkan Ignas Kleden, persoalan ekonomi tidak pernah semata-mata berada pada angka.

Ekonomi Bertemu dengan Kebudayaan

Ekonomi selalu bertemu dengan kebudayaan. Angka dapat menunjukkan keadaan, tetapi kebudayaan menentukan bagaimana masyarakat memaknai keadaan itu.

Karena itu, perbedaan paling mendasar antara Indonesia dan Iran bukan pertama-tama terletak pada nilai tukar mata uangnya. Perbedaannya terletak pada bagaimana masyarakat kedua negara memandang tekanan ekonomi.

Bagi sebagian besar rakyat Iran, tekanan ekonomi telah menjadi bagian dari pengalaman sejarah kolektif. Mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa embargo, inflasi, keterbatasan akses pasar internasional, dan berbagai bentuk tekanan eksternal adalah kenyataan yang harus dihadapi dengan ketahanan nasional. Karena itu, melemahnya mata uang tidak otomatis dipersepsikan sebagai runtuhnya bangsa.

Sebaliknya, di Indonesia, nilai tukar sering kali berubah menjadi ukuran psikologis yang terlalu dominan. Seakan-akan kekuatan negara hanya dapat diukur dari berapa rupiah yang diperlukan untuk membeli satu dolar. Padahal, kurs hanyalah salah satu indikator di antara banyak indikator lain.

Dalam konteks itulah berbagai kebijakan Presiden Prabowo perlu dibaca secara lebih utuh. Ketika dunia sedang diguncang konflik geopolitik, kenaikan harga energi, dan arus modal yang bergerak tidak menentu, pemerintah justru berusaha memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui ketahanan pangan, penguatan produksi nasional, hilirisasi sumber daya alam, serta penguatan kontrol negara terhadap arus devisa dan ekspor komoditas strategis.

Sebagian kebijakan tersebut menuai kritik. Sebagian lagi dipuji. Itu adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun di balik seluruh perdebatan itu terdapat satu gagasan yang cukup jelas: Indonesia tidak boleh terlalu bergantung pada kekuatan eksternal untuk menjaga stabilitas ekonominya.

Presiden Prabowo berulang kali menekankan pentingnya pangan, energi, dan produksi nasional sebagai fondasi utama kekuatan negara. Bahkan ketika rupiah mengalami tekanan akibat gejolak global dan konflik Timur Tengah, pemerintah tetap menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekuatan pada sektor riil, terutama pangan dan energi domestik.

Ketahanan Bangsa

Pelajaran dari Iran sesungguhnya tidak mengajarkan bahwa kurs tidak penting. Kurs tetap penting. Nilai tukar yang stabil membantu perdagangan, investasi, dan daya beli masyarakat. Namun pelajaran yang lebih besar adalah bahwa ketahanan bangsa tidak boleh bergantung hanya pada kurs.

Sebuah negara dapat memiliki mata uang yang kuat tetapi industri yang lemah. Sebuah negara dapat memiliki kurs yang stabil tetapi ketahanan pangannya rapuh.

Sebaliknya, ada negara yang mata uangnya tertekan tetapi tetap mampu mempertahankan kemandirian strategisnya karena fondasi produksinya kokoh.

Penguatan Kapasitas Nasional, UMKM Naik Kelas

Karena itu, respons terbaik terhadap kenaikan dolar bukanlah kepanikan massal. Yang diperlukan justru adalah penguatan kapasitas nasional. Petani harus semakin produktif. Industri harus semakin kompetitif. UMKM harus semakin naik kelas. Sumber daya alam harus menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Dan yang tidak kalah penting, masyarakat harus memiliki ketahanan psikologis menghadapi gejolak ekonomi global.

Dalam banyak kesempatan, bangsa Indonesia telah membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi krisis. Krisis 1998, pandemi Covid-19, hingga berbagai gejolak ekonomi global menunjukkan bahwa daya tahan bangsa ini tidak pernah semata-mata berasal dari angka statistik. Ia lahir dari kemampuan masyarakat untuk bekerja, beradaptasi, dan saling menopang.

Hari ini tantangannya tidak berbeda. Dolar boleh naik. Harga energi dunia boleh bergejolak. Arus modal internasional boleh berpindah-pindah mengikuti kepentingannya sendiri. Namun Indonesia tidak boleh kehilangan kepercayaan terhadap kekuatan dasarnya.

Nasionalisme ekonomi bukanlah kebencian terhadap pasar global. Nasionalisme ekonomi adalah keyakinan bahwa bangsa ini memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri sambil tetap berinteraksi dengan dunia.

Iran mengajarkan arti ketahanan menghadapi tekanan. Indonesia memiliki kesempatan untuk mengajarkan kepada dunia bagaimana ketahanan itu dapat dipadukan dengan demokrasi, keterbukaan ekonomi, dan kekayaan sumber daya yang melimpah.

Karena pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa tinggi dolar hari ini, melainkan oleh seberapa kuat rakyatnya bekerja, seberapa besar keberanian pemimpinnya mengambil keputusan, dan seberapa kokoh keyakinan bersama bahwa Indonesia tidak dibangun untuk menjadi bangsa yang mudah gentar oleh gejolak angka di layar pasar keuangan.

Di titik itulah nasionalisme ekonomi menemukan maknanya yang paling dalam: keberanian untuk tetap berdiri tegak ketika dunia sedang berguncang. ***

Share This Article
Avatar photo
Pengamat Sosial Budaya
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment