Mabur.co – Jika dunia sepakbola telah dihibur oleh dua mega bintang asal Argentina dan Portugal, yakni Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, setidaknya selama dua dekade terakhir, maka untuk saat ini, dunia siap menyambut sang superstar baru yang berasal dari Spanyol, yaitu Lamine Yamal.
Lamine Yamal, bocah kelahiran Esplugues de Llobregat, Spanyol, pada 13 Juli 2007 ini tumbuh dan besar di lingkungan akademi sepakbola La Masia di Barcelona, yang menjadi salah satu akademi sepakbola terbaik di dunia.
Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Lamine Yamal telah berhasil meraih semua gelar prestisius yang dapat diraih oleh seorang pesepakbola profesional. Mulai dari gelar juara Liga Spanyol selama dua tahun berturut-turut, Piala Eropa di tahun 2024, hingga kini Piala Dunia di tahun 2026, semuanya telah ia genggam di usia yang relatif muda.
Meskipun tidak tampil begitu bersinar di perhelatan Piala Dunia 2026 yang baru saja selesai beberapa hari lalu, namun Lamine Yamal tetap menjadi salah satu sosok kunci yang berhasil membawa Spanyol melaju jauh di turnamen empat tahunan ini, sekaligus mengakhirinya dengan status sebagai juara dunia.
Secara total, pemain Barcelona ini tampil dalam seluruh 8 laga timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, dan hanya sanggup mencetak satu gol, saat membantu Spanyol mengalahkan Arab Saudi dengan skor 4-0 di fase grup H.
Asal-Usul Keluarga

Jika diperhatikan sekilas, wajah Lamine Yamal memang tidak seperti orang-orang Spanyol kebanyakan, yang biasanya berdarah Latin, serta merupakan rumpun Eropa Selatan, bersama Italia dan juga Portugal.
Lamine Yamal sendiri memiliki darah keturunan Afrika, yang berasal dari kedua orang tuanya. Di mana ayahnya yaitu Mounir Nasraoui, berasal dari Larache, Maroko. Sementara ibunya, Sheila Ebana, berasal dari Bata, Guinea Ekuatorial.
Pernah Dimandikan Messi
Ia bahkan pernah dimandikan oleh sang lawan di babak final lalu, yakni Lionel Messi, saat Barcelona (klub yang pernah dibela Messi) mengadakan sesi photoshoot kalender 2008 yang diadakan oleh UNICEF, salah satu sponsor Barcelona saat itu.
Namun karena Yamal lahir dan besar di Spanyol, ia pun mantap memilih Spanyol sebagai tujuannya untuk tim nasional.
Apalagi Spanyol memang punya sejarah mentereng di berbagai turnamen besar, sekaligus memiliki liga yang begitu populer di seluruh dunia. Meskipun ia bisa saja memilih Maroko atau Guinea Ekuatorial sebagai tempatnya bermain di panggung internasional.
Meski telah memilih Spanyol, ia tetap mencintai sekaligus menghormati asal-usul leluhurnya, di mana Yamal kerap mengenakan sepatu bola dengan hiasan bendera Spanyol, Maroko, dan Guinea Ekuatorial, sebagai bentuk penghormatan pada akar keluarganya.
Ketika talenta bertemu dengan keberuntungan, sekaligus bertemu dengan kesempatan yang tidak terduga seperti yang dialami Yamal, maka semuanya akan menciptakan rentetan peristiwa yang begitu sempurna.
Seolah-olah semuanya memang sudah di-setting sedemikian rupa, untuk menjadikan Yamal sebagai bintang baru sepakbola, guna menggantikan warisan yang telah ditinggalkan Messi dan juga Ronaldo, yang kebetulan juga berhasil dikalahkan oleh Yamal pada ajang Piala Dunia tahun ini. (*)
