Regulasi Ojol Semakin Dikeluhkan, Ojek Konvensional Masih Tetap Aman

6 Min Read
Six motorcycles parked under a red-roofed shelter with a group of men sitting on a bench behind them, near a signboard.
Ilustrasi. Pangkalan ojek konvensional (Foto: medcom.id)

Mabur.co – Rumitnya regulasi mengenai ojek online (ojol), terutama yang menyangkut tentang besarnya pungutan tarif, yang diikuti dengan tingginya potongan komisi, status kemitraan yang sering kali dianggap merugikan pengemudi, standar kesejahteraan yang masih rendah, serta perlindungan jaminan sosial yang masih belum jelas hingga saat ini, membuat reputasi ojol terus dipertanyakan.

Secara tidak langsung, hal itu membuat keberadaan ojek konvensional (ojek pangkalan) seperti mulai kembali diperhitungkan, sebagai moda transportasi alternatif dan praktis pilihan masyarakat, yang ingin melewati rute-rute sempit dengan sat set, tanpa perlu ribet dengan urusan aplikasi, layanan bintang lima, dan seterusnya.

Sementara bagi ojek konvensional, mereka cukup mangkal di titik-titik keramaian tertentu, seperti Stasiun, Bandara, Terminal, depan pagar sekolah, dan sebagainya, untuk bisa meraup cuan dari konsumen-konsumen segmented yang ada di sekitar kawasan tersebut.

Dengan modal kepercayaan yang kuat dan sistem yang lebih mudah (tanpa aplikasi dan semacamnya), pada dasarnya ojek konvensional tetap dibutuhkan pada momen-momen tertentu, agar konsumen di titik-titik tersebut (seperti yang telah dijelaskan di atas) bisa lebih mudah diantar ke lokasi tujuan, tanpa harus bergantung dengan aplikasi, sinyal internet, maupun keharusan untuk menekan tombol bintang lima, dan seterusnya.

Dilansir dari laman Detikcom, Kamis (4/6/2026), berikut adalah beberapa alasan mengapa ojek konvensional tetap mampu bertahan sampai sekarang, dan menjadi pilihan alternatif yang aman bagi masyarakat.

1. Keamanan Berbasis Kepercayaan dan Komunitas

Driver yang di-hire melalui aplikasi ojol seringkali merupakan orang-orang “asing” yang tidak dikenal sebelumnya. Sehingga kepercayaan konsumen terhadap mereka juga cukup diragukan, apalagi di tengah situasi platform ojol yang kian rumit seperti saat ini.

Bahkan tak jarang, selama perjalanan berlangsung, pengemudi atau driver ojol tersebut justru lebih banyak bercerita (curhat) mengenai kondisinya yang mengenaskan sebagai bagian dari mitra (sebutan untuk partner kerja mandiri dari perusahaan aplikasi, dan tidak bersifat karyawan tetap), alih-alih menularkan energi positif atau mengajak orang lain agar bisa sukses seperti dirinya, dan seterusnya.

Sementara bagi pengemudi ojek pangkalan, selain sudah segmented (memiliki basis pelanggan tertentu), rasa aman dan kepercayaan menjadi modal yang sangat penting, untuk bisa mendapatkan banyak konsumen di wilayah tersebut.

Dengan begitu, tentu saja ojek pangkalan akan menjadi pilihan pertama bagi warga sekitar, sebagai moda transportasi untuk diantar menuju ke lokasi yang dituju. Alih-alih harus membuka aplikasi Grab atau Gojek, lalu mencoba “peruntungan” (mencari driver baru) di sana.

Selain itu, konsumen juga lebih bebas dalam bernegosiasi atau menuntut tanggung jawab secara langsung kepada pengemudi, misalnya jika terjadi barang-barang yang tertinggal, atau masalah-masalah lainnya.

2. Bebas Dari Kendala Teknis Aplikasi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ojek konvensional tidak perlu bergantung sama sekali terhadap aplikasi, bahkan termasuk ponsel sekalipun. Karena ojek konvensional hanya perlu mengandalkan kepercayaan, yang biasanya sudah langsung didapat ketika mereka sering bertemu dan bertransaksi sejak lama.

Selain itu, tidak ada pula keharusan untuk memilih bintang lima di aplikasi ketika sudah sampai di lokasi tujuan. Karena itu artinya, kita (sebagai konsumen) masih harus mengecek ponsel kembali, setelah proses transaksi selesai.

Padahal dalam kasus tertentu, orang yang sudah sampai biasanya tidak akan langsung mengecek ponsel-nya kembali, namun langsung fokus menuju ke perjalanan atau kegiatan selanjutnya, yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan ponsel, dan seterusnya.

3. Keunggulan Untuk Rute Tertentu

Dengan modal komunikasi verbal tanpa embel-embel aplikasi, ojek konvensional juga mampu melewati rute-rute krusial yang mungkin saja tidak tersedia di Google Maps, yang menjadi andalan utama driver ojol ketika mengantarkan penumpang.

Apalagi, dengan kesepakatan harga yang sudah ditentukan di awal, akhirnya rute-rute “spesial” tersebut tetap bisa dilewati, tanpa adanya tarif tambahan yang biasanya langsung dibebankan oleh aplikator (untuk driver ojol) karena sudah tercantum di dalam sistem, dan sebagainya.

Selain itu, meskipun ojol dikenal karena fleksibilitasnya dalam menjemput penumpang dari titik mana saja, namun nyatanya, mereka (driver ojol) sejatinya tetap harus mangkal di tempat-tempat tertentu, yang terkadang juga ikut dilarang oleh ojek konvensional, agar tidak terjadi persaingan yang tumpeng tindih, dan sebagainya.

Sementara bagi ojek konvensional atau pangkalan, mereka biasanya sudah disediakan tempat khusus untuk mangkal, sehingga calon penumpang tinggal berjalan sedikit ke arah pangkalan tersebut, dan memilih pengemudi mana yang diinginkan.

***

Di balik segala kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan, nyatanya ojol tetap menyimpan sejumlah risiko, yang bisa mengancam keberlangsungan usaha itu sendiri.

Sedangkan bagi ojek pangkalan atau konvensional, meskipun ladang konsumen mereka seringkali diambil alih oleh ojol, namun hal itu tidak serta merta membuat kredibilitas mereka menurun begitu saja.

Karena yang namanya konvensional atau offline, pastinya tetap memiliki ruang tersendiri di benak para konsumen, terutama bagi mereka yang ingin praktis, sudah memiliki kepercayaan terhadap pengemudi tertentu, dan tidak ingin terjebak dalam sistem aplikasi yang selalu bergonta-ganti setiap harinya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment