Mengapa Belum Semua UMKM Beralih ke Digital Marketing?

3 Min Read
Vendor wearing a mask at a colorful drink stall, assisting a customer who holds a QR menu flyer.
Ilustrasi. Pengunjung mal melakukan transaksi online melalui QRIS. (Foto: detik.net.id)

Mabur.co – Meski zaman sudah serba canggih dan modern, masih banyak ditemui beberapa UMKM yang belum menerapkan digital marketing sama sekali, alias menggunakan berbagai platform yang tersedia secara digital, untuk memasarkan produk mereka demi menjangkau pasar yang lebih luas.

Banyak dari mereka yang masih harus menyewa lapak tertentu, berjualan di pasar, membuka gerai toko atau warung dari pagi sampai malam, dan seterusnya.

Sementara ketika jualannya sepi, produknya tidak kunjung laku, dan lain-lain, mereka justru lebih sering menyalahkan orang-orang yang berjualan dengan memanfaatkan digital marketing, seperti mengambil jatah orang-orang yang masih berjualan offline, mematikan persaingan usaha, dan seterusnya.

Hal ini sebenarnya sah-sah saja, karena memang memasarkan produk melalui digital marketing juga tidak semudah yang dibayangkan. Butuh usaha yang serius dan konsisten, untuk bisa benar-benar meraup traffic yang memadai, untuk memperluas jangkauan konsumen para UMKM tersebut.

Dilansir dari laman Seven Light, Kamis (4/6/2026), berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa banyak UMKM yang masih memutuskan untuk berjualan secara konvensional (full offline), alih-alih memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memasarkan produk mereka.

1. Minimnya Pengetahuan & Pelatihan

Masih banyak pelaku usaha, terutama di sektor mikro dan daerah, mengalami kesulitan dalam mempelajari algoritma media sosial dan fitur e-commerce, yang dianggap rumit dan kompleks.

2. Kendala Infrastruktur

Selain itu, keterbatasan akses internet yang stabil dan merata di beberapa wilayah juga masih menjadi penghalang utama. Sehingga keinginan untuk mempelajari digital marketing juga terhambat.

3. Ketiadaan SDM Khusus

Seperti yang kita ketahui, bisnis UMKM umumnya hanya dijalankan sendiri (mandiri) atau dikelola oleh lingkungan keluarga. Dengan pengetahuan dan anggaran yang terbatas, mereka tidak memiliki kemampuan untuk merekrut ahli digital marketing khusus.

Sementara untuk belajar sendiri juga butuh banyak menonton video tutorial (yang selalu disisipi promosi tambahan), membeli buku, belajar dari teman atau tetangga, dan sebagainya, yang semuanya jelas membutuhkan waktu, tenaga, dan juga uang.

4. Sistem Keuangan Belum Tertata

Masih banyak pula UMKM yang mencampur keuangan pribadi dengan bisnis, sehingga hal itu menyulitkan mereka saat harus mengelola modal iklan atau transaksi secara digital.

Akibatnya, proses pemasaran hanya dilakukan seadanya, atau bahkan hanya dari mulut ke mulut, yang tentu saja tidak efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

***

Sebagai bagian dari kemajuan teknologi informasi, tentunya mempelajari digital marketing di zaman sekarang sangatlah penting bagi para pelaku usaha maupun UMKM yang ada di berbagai pelosok daerah di seluruh Indonesia.

Karena dengan begitu, semua orang akan memiliki kecakapan yang sama di bidang digital marketing. Sehingga persaingan pun akan jadi lebih merata, dan tidak hanya dimonopoli oleh orang yang itu-itu saja. Apalagi jika mereka hanya bermodal tampang, di-endorse oleh artis/influencer tertentu, dan sebagainya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment